Ucapan Terima Kasih Bahasa Jawa: Panduan Lengkap dan Penggunaannya
ucapan terimakasih bahasa jawa (Image by AI)
Kapanlagi.com - Bahasa Jawa memiliki keunikan tersendiri dalam menyampaikan rasa terima kasih kepada orang lain. Ucapan terima kasih bahasa Jawa tidak hanya sekadar kata, tetapi mencerminkan tingkat kesopanan dan penghormatan kepada lawan bicara. Pemilihan kata yang tepat menunjukkan pemahaman seseorang terhadap unggah-ungguh atau tata krama dalam budaya Jawa.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jawa menggunakan berbagai variasi ungkapan terima kasih sesuai dengan konteks dan kepada siapa ucapan tersebut ditujukan. Mulai dari bentuk paling sederhana seperti "suwun" hingga yang paling halus seperti "matur sembah nuwun", semuanya memiliki fungsi dan tempat penggunaan yang berbeda. Memahami perbedaan ini sangat penting agar komunikasi berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Penggunaan ucapan terima kasih bahasa Jawa yang tepat menunjukkan kepribadian dan latar belakang budaya seseorang. Hal ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Kemampuan memilih ungkapan yang sesuai dengan situasi mencerminkan kecerdasan sosial dan penghargaan terhadap warisan budaya leluhur.
Advertisement
1. Pengertian dan Makna Ucapan Terima Kasih dalam Bahasa Jawa
Ucapan terima kasih dalam bahasa Jawa merupakan bentuk ekspresi rasa syukur dan penghargaan kepada orang lain atas bantuan, kebaikan, atau perhatian yang telah diberikan. Dalam konteks budaya Jawa, ungkapan terima kasih tidak hanya berfungsi sebagai respons formal, tetapi juga sebagai cerminan dari nilai-nilai luhur seperti tepo seliro (tenggang rasa) dan andhap asor (rendah hati) yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa.
Secara etimologis, kata "matur" berarti menyampaikan atau mengucapkan, sedangkan "nuwun" berarti terima kasih atau sesuatu yang diminta dengan hormat. Ketika digabungkan menjadi "matur nuwun", frasa ini membentuk ungkapan terima kasih yang sopan dan menghormati. Berbeda dengan "suwun" yang merupakan bentuk lebih kasual dan berasal dari kata yang juga bisa berarti meminta, namun dalam konteks tertentu digunakan untuk menyatakan terima kasih dalam pergaulan sehari-hari.
Dalam Bausastra Jawa, dijelaskan bahwa kata "nuwun" lebih tepat digunakan untuk menyampaikan rasa terima kasih dibandingkan dengan "suwun" yang memiliki makna ganda. Pemilihan kata yang tepat ini menunjukkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kekayaan bahasa Jawa dan kemampuannya dalam menerapkan unggah-ungguh yang sesuai dengan konteks sosial.
Tingkatan bahasa Jawa yang dikenal dengan istilah undha-usuk basa mempengaruhi cara seseorang mengucapkan terima kasih. Terdapat tiga tingkatan utama yaitu ngoko (kasar/biasa), madya (menengah), dan krama (halus), yang masing-masing memiliki variasi ungkapan terima kasih tersendiri. Pemahaman terhadap tingkatan ini sangat penting karena penggunaan yang salah dapat dianggap tidak sopan atau bahkan menghina, terutama ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau memiliki status sosial lebih tinggi.
2. Jenis-Jenis Ucapan Terima Kasih Bahasa Jawa Berdasarkan Tingkat Tutur
Bahasa Jawa memiliki sistem tingkat tutur yang kompleks dan hal ini juga berlaku dalam pengucapan terima kasih. Setiap tingkatan memiliki karakteristik dan konteks penggunaan yang berbeda, sehingga penting untuk memahami kapan dan kepada siapa ungkapan tersebut digunakan.
1. Bahasa Ngoko (Bahasa Biasa)
Tingkatan bahasa ngoko merupakan bentuk paling sederhana dan kasual dalam bahasa Jawa. Ungkapan "suwun" adalah bentuk terima kasih yang paling umum digunakan dalam tingkatan ini. Kata ini biasanya digunakan dalam percakapan antara teman sebaya, orang yang sudah sangat akrab, atau dari orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Meskipun terdengar sederhana, penggunaan "suwun" tetap menunjukkan rasa terima kasih yang tulus dalam konteks pergaulan yang santai.
2. Bahasa Madya (Bahasa Menengah)
Tingkatan madya berada di antara ngoko dan krama, digunakan dalam situasi yang memerlukan kesopanan namun tidak terlalu formal. Ungkapan "matur nuwun" dapat digunakan dalam tingkatan ini, terutama ketika berbicara dengan orang yang belum terlalu akrab namun tidak memerlukan tingkat formalitas yang sangat tinggi. Tingkatan ini memberikan keseimbangan antara keakraban dan penghormatan.
3. Bahasa Krama (Bahasa Halus)
Bahasa krama merupakan tingkatan paling halus dan sopan dalam bahasa Jawa. Ungkapan "matur nuwun" atau "matur sembah nuwun" digunakan dalam tingkatan ini. Frasa ini tepat digunakan ketika berbicara dengan orang tua, guru, atasan, atau orang yang dihormati. Penggunaan bahasa krama menunjukkan penghormatan yang tinggi dan pemahaman yang baik terhadap tata krama Jawa.
4. Bahasa Krama Inggil (Bahasa Sangat Halus)
Krama inggil adalah tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa yang digunakan untuk menghormati orang yang memiliki kedudukan sangat tinggi atau dalam situasi yang sangat formal. Ungkapan "matur sembah nuwun" atau "ngaturaken matur nuwun" sering digunakan dalam tingkatan ini. Penggunaan krama inggil menunjukkan rasa hormat yang sangat dalam dan biasanya digunakan dalam acara-acara resmi atau ketika berbicara dengan tokoh masyarakat yang dihormati.
5. Variasi Penggunaan Sesuai Konteks
Selain tingkatan bahasa, konteks situasi juga mempengaruhi pemilihan ungkapan terima kasih. Dalam situasi formal seperti acara pernikahan atau upacara adat, penggunaan bahasa krama atau krama inggil menjadi keharusan. Sementara dalam pergaulan sehari-hari di pasar atau dengan teman dekat, bahasa ngoko lebih natural dan tidak terkesan kaku. Kemampuan membaca situasi dan memilih tingkatan bahasa yang tepat merupakan keterampilan sosial yang penting dalam budaya Jawa.
3. Contoh Kalimat Ucapan Terima Kasih Bahasa Jawa dalam Berbagai Situasi
Penerapan ucapan terima kasih bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari sangat beragam tergantung pada situasi dan hubungan antara pembicara dengan lawan bicara. Berikut adalah berbagai contoh penggunaan yang dapat dijadikan panduan praktis.
Ucapan Terima Kasih untuk Orang Tua dan Guru
Ketika mengucapkan terima kasih kepada orang tua atau guru, penggunaan bahasa krama inggil sangat penting untuk menunjukkan rasa hormat. Contohnya: "Matur sembah nuwun, Ibu, kangge panjenengan ingkang sampun paring pitulung" (Terima kasih banyak, Ibu, atas bantuan yang telah diberikan). Ungkapan ini menunjukkan penghormatan yang tinggi dan kesadaran akan jasa yang telah diberikan oleh orang yang lebih tua atau berjasa dalam kehidupan kita.
Ucapan Terima Kasih untuk Teman Sebaya
Dalam pergaulan dengan teman sebaya atau orang yang sudah sangat akrab, penggunaan bahasa ngoko lebih natural dan tidak terkesan berlebihan. Contoh: "Suwun ya, wis gelem nulungi aku" (Terima kasih ya, sudah mau membantu saya). Penggunaan bahasa ngoko dalam konteks ini menunjukkan keakraban dan kedekatan hubungan tanpa mengurangi makna rasa terima kasih yang disampaikan.
Ucapan Terima Kasih dalam Situasi Formal
Dalam acara formal seperti pertemuan resmi, upacara adat, atau acara keluarga besar, penggunaan bahasa krama menjadi pilihan yang tepat. Contoh: "Kula sekeluarga ngaturaken matur nuwun sanget kagem panjenengan sedaya" (Saya sekeluarga mengucapkan terima kasih banyak untuk Anda semua). Ungkapan ini menunjukkan kesopanan dan penghormatan kepada para tamu atau orang yang telah memberikan perhatian dalam acara tersebut.
Ucapan Terima Kasih untuk Pasangan
Dalam hubungan dengan pasangan, pilihan bahasa bisa bervariasi tergantung pada kebiasaan dan tingkat keakraban. Beberapa pasangan menggunakan bahasa ngoko untuk menunjukkan keakraban: "Suwun ya, mas/mbak" (Terima kasih ya, sayang). Namun ada juga yang tetap menggunakan bahasa madya atau krama untuk menunjukkan rasa hormat: "Matur nuwun, rakamas/rakadhimas" (Terima kasih, sayang). Pemilihan ini sangat personal dan mencerminkan dinamika hubungan masing-masing pasangan.
4. Perbedaan Matur Nuwun dan Matur Suwun
Salah satu kebingungan yang sering muncul dalam penggunaan ucapan terima kasih bahasa Jawa adalah perbedaan antara "matur nuwun" dan "matur suwun". Kedua frasa ini memang terdengar mirip, namun memiliki perbedaan makna dan tingkat kesopanan yang perlu dipahami dengan baik agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan.
Frasa "matur nuwun" merupakan bentuk yang lebih tepat dan sopan untuk menyampaikan rasa terima kasih. Kata "nuwun" dalam bahasa Jawa memiliki makna yang spesifik untuk menyatakan terima kasih atau permohonan dengan hormat. Penggunaan "matur nuwun" menunjukkan tingkat kesopanan yang tinggi dan cocok digunakan dalam berbagai situasi, baik formal maupun semi-formal, terutama ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati.
Sebaliknya, kata "suwun" memiliki makna ganda dalam bahasa Jawa. Secara harfiah, "suwun" bisa berarti meminta atau mohon, namun dalam penggunaan sehari-hari juga digunakan sebagai ungkapan terima kasih dalam bentuk yang lebih kasual. Oleh karena itu, frasa "matur suwun" sebenarnya kurang tepat secara tata bahasa Jawa yang baku, meskipun dalam praktiknya masih sering digunakan oleh sebagian masyarakat, terutama di daerah-daerah tertentu.
Dalam konteks penggunaan yang benar, "matur nuwun" lebih direkomendasikan untuk situasi yang memerlukan kesopanan dan formalitas. Sementara jika ingin menggunakan bentuk yang lebih santai, cukup menggunakan kata "suwun" saja tanpa kata "matur" di depannya. Pemahaman terhadap perbedaan ini penting untuk menghindari kesalahan yang dapat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap tingkat kesopanan dan pemahaman kita terhadap bahasa Jawa.
5. Cara Menjawab Ucapan Terima Kasih dalam Bahasa Jawa
Mengetahui cara mengucapkan terima kasih saja tidak cukup, karena dalam interaksi sosial kita juga perlu memahami bagaimana merespons ketika seseorang mengucapkan terima kasih kepada kita. Dalam budaya Jawa, terdapat beberapa cara yang sopan dan tepat untuk menjawab ucapan terima kasih sesuai dengan tingkat tutur dan konteks situasi.
1. Sami-Sami (Sama-Sama)
Jawaban paling umum dan netral untuk merespons ucapan terima kasih adalah "sami-sami" yang berarti sama-sama. Ungkapan ini dapat digunakan dalam berbagai tingkatan bahasa dan situasi, baik formal maupun informal. Kata ini menunjukkan bahwa bantuan atau kebaikan yang diberikan adalah hal yang wajar dan tidak perlu terlalu dipikirkan.
2. Inggih, Sami-Sami (Iya, Sama-Sama)
Untuk respons yang lebih sopan, terutama ketika menjawab ucapan terima kasih dari orang yang lebih muda atau sebaya dalam situasi semi-formal, dapat menggunakan "inggih, sami-sami". Penambahan kata "inggih" (iya) di awal memberikan nuansa kesopanan yang lebih tinggi dan menunjukkan bahwa kita menghargai ucapan terima kasih yang disampaikan.
3. Nggih, Mboten Napa-Napa (Iya, Tidak Apa-Apa)
Dalam bahasa krama, jawaban "nggih, mboten napa-napa" atau "nggih, mboten menapa-menapa" sering digunakan untuk merespons ucapan terima kasih. Ungkapan ini berarti "iya, tidak apa-apa" dan menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan adalah hal yang ringan dan tidak memberatkan. Respons ini cocok digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau dalam situasi yang memerlukan kesopanan tinggi.
4. Sami Kemawon (Sama Saja)
Ungkapan "sami kemawon" atau "sami mawon" merupakan variasi lain dari jawaban terima kasih yang berarti "sama saja" atau "sama-sama". Respons ini menunjukkan kerendahan hati dan bahwa bantuan yang diberikan adalah hal yang wajar dilakukan. Penggunaan kata "kemawon" memberikan nuansa yang lebih halus dibandingkan hanya menggunakan "sami-sami".
5. Mugi-Mugi Migunani (Semoga Bermanfaat)
Untuk respons yang lebih bermakna, terutama setelah memberikan bantuan atau nasihat, dapat menggunakan ungkapan "mugi-mugi migunani" yang berarti "semoga bermanfaat". Jawaban ini tidak hanya merespons ucapan terima kasih, tetapi juga mengandung doa dan harapan baik agar apa yang telah diberikan dapat memberikan manfaat bagi orang yang menerimanya.
6. Etika dan Konteks Penggunaan Ucapan Terima Kasih Bahasa Jawa
Penggunaan ucapan terima kasih dalam bahasa Jawa tidak hanya sekadar mengetahui kata-katanya, tetapi juga memahami etika dan konteks yang tepat. Budaya Jawa sangat menekankan pada unggah-ungguh atau tata krama dalam berkomunikasi, sehingga pemilihan ungkapan yang tepat mencerminkan kepribadian dan latar belakang seseorang.
Salah satu prinsip penting dalam mengucapkan terima kasih adalah memperhatikan usia dan status sosial lawan bicara. Kepada orang yang lebih tua, guru, atau orang yang dihormati, penggunaan bahasa krama atau krama inggil menjadi keharusan. Sebaliknya, kepada teman sebaya atau orang yang lebih muda, bahasa ngoko atau madya dapat digunakan tanpa terkesan tidak sopan. Kesalahan dalam memilih tingkatan bahasa dapat menimbulkan kesan kurang ajar atau sebaliknya terlalu kaku dan tidak natural.
Konteks situasi juga sangat mempengaruhi pemilihan ungkapan terima kasih. Dalam acara formal seperti pernikahan, khitanan, atau upacara adat, penggunaan bahasa krama menjadi standar yang harus diikuti. Sementara dalam situasi santai seperti berkumpul dengan teman atau berbelanja di pasar, bahasa ngoko lebih sesuai dan tidak terkesan berlebihan. Kemampuan membaca situasi ini merupakan bagian dari kecerdasan sosial yang dihargai dalam masyarakat Jawa.
Selain kata-kata, bahasa tubuh dan intonasi juga menjadi bagian penting dalam menyampaikan ucapan terima kasih. Dalam budaya Jawa, ucapan terima kasih sering disertai dengan gesture seperti menundukkan kepala sedikit, meletakkan tangan di dada, atau bahkan membungkuk sebagai tanda penghormatan. Kombinasi antara kata-kata yang tepat dengan bahasa tubuh yang sesuai akan membuat ucapan terima kasih terasa lebih tulus dan bermakna.
Penting juga untuk memahami bahwa dalam beberapa situasi, ucapan terima kasih tidak selalu harus diucapkan secara verbal. Dalam budaya Jawa, tindakan atau perbuatan baik sebagai balasan atas kebaikan yang diterima juga merupakan bentuk ucapan terima kasih yang sangat dihargai. Konsep ini dikenal dengan istilah "ewuh pakewuh" yang mencerminkan rasa tidak enak dan keinginan untuk membalas kebaikan yang telah diterima.
7. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa perbedaan antara "suwun" dan "matur nuwun"?
"Suwun" adalah bentuk ucapan terima kasih yang kasual dan sederhana, biasanya digunakan dalam bahasa ngoko untuk teman sebaya atau orang yang sudah sangat akrab. Sementara "matur nuwun" adalah bentuk yang lebih sopan dan formal, menggunakan bahasa krama yang tepat digunakan untuk orang yang lebih tua atau dalam situasi yang memerlukan kesopanan lebih tinggi.
2. Kapan sebaiknya menggunakan "matur sembah nuwun"?
"Matur sembah nuwun" digunakan dalam situasi yang sangat formal atau ketika ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sangat dalam kepada orang yang sangat dihormati. Ungkapan ini cocok digunakan dalam acara resmi, kepada tokoh masyarakat, atau dalam situasi yang memerlukan penghormatan tertinggi dalam budaya Jawa.
3. Bagaimana cara menjawab ketika seseorang mengucapkan "matur nuwun"?
Jawaban yang paling umum dan sopan adalah "sami-sami" (sama-sama) atau "nggih, mboten napa-napa" (iya, tidak apa-apa) dalam bahasa krama. Pilihan jawaban tergantung pada tingkat formalitas situasi dan hubungan dengan orang yang mengucapkan terima kasih. Dalam situasi yang lebih santai, cukup menjawab "sami-sami" atau "iya, sami-sami".
4. Apakah "matur suwun" itu benar atau salah?
Secara tata bahasa Jawa yang baku, "matur suwun" kurang tepat karena kata "suwun" memiliki makna ganda yang bisa berarti meminta. Bentuk yang lebih tepat adalah "matur nuwun" untuk ungkapan terima kasih yang sopan. Namun dalam praktiknya, "matur suwun" masih digunakan oleh sebagian masyarakat di daerah tertentu meskipun tidak sesuai dengan kaidah bahasa Jawa yang baku.
5. Bisakah menggunakan bahasa ngoko kepada orang yang lebih tua?
Dalam budaya Jawa, menggunakan bahasa ngoko kepada orang yang lebih tua dianggap tidak sopan dan kurang menghormati. Kepada orang yang lebih tua, sebaiknya menggunakan bahasa krama atau minimal bahasa madya untuk menunjukkan rasa hormat. Pengecualian hanya berlaku jika orang yang lebih tua tersebut meminta atau mengizinkan penggunaan bahasa ngoko karena hubungan yang sangat dekat.
6. Apa yang dimaksud dengan unggah-ungguh dalam ucapan terima kasih?
Unggah-ungguh adalah tata krama atau etika dalam berbahasa Jawa yang mengatur penggunaan tingkat tutur sesuai dengan konteks sosial. Dalam ucapan terima kasih, unggah-ungguh menentukan apakah kita harus menggunakan bahasa ngoko, madya, krama, atau krama inggil berdasarkan usia, status sosial, dan hubungan dengan lawan bicara. Memahami unggah-ungguh sangat penting untuk berkomunikasi dengan sopan dalam budaya Jawa.
7. Apakah ada perbedaan ucapan terima kasih antara dialek Jawa yang berbeda?
Ya, terdapat variasi dalam pengucapan dan pemilihan kata terima kasih di berbagai daerah di Jawa. Misalnya, di Jawa Tengah dan Yogyakarta cenderung lebih konsisten menggunakan "matur nuwun", sementara di beberapa daerah Jawa Timur mungkin memiliki variasi lokal tersendiri. Namun secara umum, prinsip tingkat tutur dan penggunaan "matur nuwun" untuk bahasa halus tetap berlaku di seluruh wilayah Jawa.
Temukan berbagai kata inspiratif lainnya di kapanlagi.com. Kalau bukan sekarang, KapanLagi?
Baca artikel menarik lainnya:
- 7 Drama Korea Genre Romansa dengan Karakter Pria Paling Ijo Neon, Terbaru Diperankan Park Bo Gum
- 9 Alternatif Minyak Goreng Sehat untuk Menjaga Kadar Kolesterol, Sudah Mengetahui?
- Cara Mudah Membuat Es Serut Timun Jeruk Nipis, Solusi Lezat untuk Menurunkan Kolesterol Tinggi
- 7 Resep Jamu Segar yang Ampuh Menurunkan Kolesterol Tinggi dan Menjaga Kesehatan Anda
- Car Menikmati Durian Tanpa Khawatir Kolesterol, Wajib Coba
Berita Foto
(kpl/psp)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba