INDONESIA

[Review] 'HABIBIE & AINUN', Sejarah Cinta Mantan Presiden

Kamis, 20 Desember 2012 22:30  | 

Bunga Citra Lestari


[Review] 'HABIBIE & AINUN', Sejarah Cinta Mantan Presiden
MD Pictures




KapanLagi.com - Oleh: Adi Abbas Nugroho

"Ada banyak cara untuk mencintai negeri ini.." - Ainun

Awalnya BJ Habibie menulis otobiografinya hanya sebagai terapi hati. Namun, siapa yang menyangka jika respon terhadap buku setebal 322 halaman tersebut begitu luar biasa.

Tak salah bila kemudian rumah produksi MD Pictures tertarik mengadaptasi kisah mantan presiden ketiga setelah pak Soeharto lengser menjadi sebuah fitur film. Proyeknya sendiri sudah terdengar sejak tahun lalu, namun baru satu tahun kemudian rilis di pasaran.

HABIBIE & AINUN mengisahkan perjalanan pak Habibie ketika dirinya masih kecil hingga bertemu dengan cinta sejatinya, mendiang ibu Hasri Ainun. Selain perjalanan cinta mereka, kita juga akan dihadapkan pada intrik politik dan cikal bakal mimpi dari pemilik nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie ini.

Sangat riskan sebenarnya mengadaptasi sebuah kisah nyata. Terlebih jika setting-nya berada di masa lampau. Namun Faozan Rizal sebagai sutradara dan tim kreatif berhasil menggambarkan nuansa jaman dulu dengan begitu apik dan detail dari segi kostum hingga properti.

Tak lupa setting Jerman meski penempatannya digunakan seperlunya. Serta munculnya footage penerbangan perdana N-250 Gatot Kaca yang dihadiri pak Soaharto dan ibu Tien, hingga tragedi Mei 1998 yang membuat film ini semakin believable.

Dalam urusan akting, dua jempol diberikan untuk Reza Rahadian yang benar-benar total. Lewat film ini, Reza berhasil buktikan kapasitasnya. Dia mampu bertindak sebagaimana sosok Habibie asli, dari gestur hingga cara berbicara.

Sayangnya Bunga Citra Lestari yang diplot sebagai Ainun terlihat kurang kuat untuk mengimbangi Reza. Meski begitu, akting wanita yang debut layar lebar lewat CINTA PERTAMA ini tak bisa dibilang buruk. Karena di beberapa bagian Bunga mampu tampil menawan.

Untuk urusan naskah sebenarnya cukup bernas, pun dengan dialog yang dipakai. Ginatri S Noer dan partner, Ifan Adriansyah Ismail, cukup ulet memaparkan guratan kisah pak Habibie walau di beberapa bagian terasa dragging dan tak fokus.

Terlepas dari beberapa kelemahan di atas, HABIBIE & AINUN tetaplah film yang layak ditonton. Apresiasi patut disematkan pada usaha Faozan Rizal yang sebelumnya berjibaku sebagai director of photography.

(kpl/abs)