Narik Sukmo
Horror

Narik Sukmo

2025 95 menit
Sutradara
Indra Gunawan
Studio
Mesari Pictures

Narik Sukmo: Menari atau Mati, Horor Mistis Penuh Tarian, Dendam, dan Cinta Tragis

KLovers, siap-siap buat dibawa ke dunia mistis yang bikin bulu kuduk merinding tapi juga penuh kisah cinta dan penyesalan lewat film 'Narik Sukmo: Menari atau Mati', garapan sutradara Indra Gunawan. Film horor ini bukan sekadar menampilkan adegan menakutkan, tapi juga menyuguhkan kisah tragis tentang cinta, pengkhianatan, dan kutukan yang lahir dari dosa masa lalu.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dewie Yulliantina, dan resmi tayang di bioskop pada 3 Juli 2025. Dengan deretan pemain papan atas seperti Febby Rastanty, Aliando Syarief, Dea Annisa, Teuku Rifnu Wikana, Kinaryosih, Nugie, hingga Maryam Supraba, film ini menghadirkan atmosfer mistis khas desa Jawa yang kental, lengkap dengan mitos dan tarian sakral yang mengundang rasa penasaran.

Tarian yang Membawa Petaka

Ceritanya berpusat pada Kenara Cahyaningrum (Febby Rastanty), seorang mahasiswi yang dulunya gemar menari. Ia memutuskan pergi ke Desa Kelawangin untuk mengunjungi sahabat lamanya, Ayu (Dea Annisa). Tapi ternyata, kedatangan Kenara justru membuka luka lama di desa itu dan membangunkan dendam masa lalu yang belum selesai.

Sejak hari pertama, Kenara mulai merasakan hal-hal janggal. Malam pertama di desa disambut hujan deras dan petir yang menggelegar, menciptakan suasana mencekam. Beberapa warga menatapnya penuh curiga, seolah tahu sesuatu yang tidak dia pahami. Tak lama kemudian, Kenara mengalami mimpi aneh tentang bayangan hitam yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Yang lebih menyeramkan, tubuhnya tiba-tiba bergerak sendiri, menari tanpa kendali.

Keanehan semakin menjadi-jadi ketika Kenara secara tak sengaja masuk ke kamar terlarang di rumah Ayu. Dari situ, berbagai musibah mulai menimpa warga desa. Satu per satu penduduk meninggal secara misterius, dan setiap kali kejadian itu terjadi, Kenara terlihat menari dalam keadaan tidak sadar. Gerakan tariannya dikenal warga sebagai Tarian Narik Sukmo, sebuah tarian kematian yang dipercaya bisa memanggil arwah.

Menurut cerita lama, Tarian Narik Sukmo dulu dibawakan oleh pasangan kekasih Banyu Janggala Bagwahanta dan Ratimayu, yang meninggal tragis dua puluh tahun lalu. Sejak saat itu, tarian tersebut dianggap sebagai simbol kutukan. Tapi makin lama, Kenara mulai menemukan kebenaran yang berbeda.

Bukan Hanya Horor, Tapi Juga Cinta yang Terluka

Lewat penelusurannya, Kenara sadar bahwa arwah Banyu dan Ratimayu bukanlah sosok jahat seperti yang selama ini dipercaya warga. Mereka justru korban dari kebusukan dan kelicikan manusia. Cinta mereka dirusak oleh dendam, iri hati, dan keserakahan warga desa sendiri. Tarian Narik Sukmo yang dianggap kutukan ternyata adalah bentuk jeritan hati dua insan yang cintanya tak pernah direstui.

Di tengah teror yang terus menghantui, Kenara harus mencari cara untuk menghentikan kutukan itu. Namun yang membuat film ini terasa berbeda adalah caranya menampilkan sisi emosional di balik misteri. Sutradara Indra Gunawan tidak hanya mengandalkan efek horor dan kejutan visual, tapi juga memberi ruang bagi penonton untuk ikut merasakan sedih, takut, dan simpati terhadap para roh yang terjebak di antara dunia.

Akting Kuat dan Visual yang Memikat

Penampilan Febby Rastanty sebagai Kenara pantas diacungi jempol. Ia berhasil menunjukkan transformasi dari gadis biasa menjadi sosok yang kerasukan roh penari, dengan ekspresi dan gerakan tubuh yang terasa hidup.

KLovers, siapa sih yang nggak kenal dengan Febby Rastanty? Aktris sekaligus penyanyi berbakat yang satu ini memang sudah lama wara- wiri di dunia hiburan Tanah Air. Meski kini lebih dikenal sebagai aktris muda yang sering muncul di layar lebar maupun serial populer, perjalanan karier Febby sebenarnya dimulai sejak ia masih kecil, lho.

Febby pertama kali terjun ke dunia akting pada tahun 2004 lewat dua film yang menjadi langkah awalnya di industri hiburan, yaitu Tina Toon dan Lenong Bocah serta Angel’s Cry. Dari situ, bakat aktingnya mulai terlihat. Meski masih sangat muda, Febby sudah bisa menunjukkan kemampuan akting yang natural dan ekspresif. Nggak heran kalau ia kemudian terus dipercaya untuk bermain di berbagai proyek hiburan, baik di televisi maupun film layar lebar.

Namun, bukan cuma dunia akting yang dikuasai Febby. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2012, namanya makin dikenal publik setelah bergabung dalam grup vokal perempuan bernama Blink. Grup yang terdiri dari empat personel ini sempat sangat populer di kalangan remaja dan anak muda. Musik-musik Blink yang catchy dan penuh semangat berhasil menarik perhatian banyak penggemar, dan Febby pun menjadi salah satu wajah ikonik dari grup tersebut.

Kini, Febby terus menunjukkan kematangan aktingnya lewat berbagai proyek baru. Dalam film Narik Sukmo: Menari atau Mati, misalnya, ia tampil sebagai Kenara Cahyaningrum, mahasiswi yang terjebak dalam teror mistis dan tarian kematian penuh misteri. Perannya kali ini memperlihatkan sisi emosional dan kedewasaan Febby sebagai aktris yang sudah jauh berkembang dari masa debutnya dulu.

Kehadiran aktor senior seperti Teuku Rifnu Wikana, Kinaryosih, dan Nugie juga memberi kedalaman tersendiri pada cerita, terutama dalam menggambarkan sisi gelap dan penuh rahasia dari masyarakat desa.

Dari segi visual, 'Narik Sukmo' tampil indah sekaligus menakutkan. Setting desa yang berkabut, rumah kayu tua, dan hutan gelap penuh kabut membuat suasana terasa autentik. Musik latar yang memadukan gamelan dengan efek suara modern juga memberi sensasi mistis yang khas.

Film ini juga memperkenalkan unsur budaya tari tradisional Jawa dalam konteks horor modern. Tarian Narik Sukmo digambarkan sebagai simbol keterhubungan antara dunia manusia dan roh, sebuah konsep yang jarang dieksplor dalam film-film Indonesia belakangan ini.

'Narik Sukmo: Menari atau Mati' tidak hanya membuat kamu tegang, tapi juga membuatmu berpikir dan ikut merasakan beban emosional para tokohnya.

Dengan cerita yang kaya, visual yang indah, serta akting yang solid dari para pemainnya, film ini berhasil menempatkan dirinya di antara jajaran film horor Indonesia yang punya kedalaman cerita, bukan sekadar menakutkan.

T. Rifnu Wikana
Febby Rastanty
Aliando Syarief