HOME » KOREA
KOREA

Review ALL OF US ARE DEAD, Serial Zombie Korea Next Level

Kamis, 03 Februari 2022 13:00 Penulis: Fitrah Ardiyanti

All Of Us Are Dead

Kapanlagi.com - All Of Us Are Dead adalah serial thriller zombie produksi JTBC Studio & Film Monster yang diangkat dari webtoon berjudul Now At Our School karya Joo Dong-geun yang dirilis pada 2009 - 2011. Serial ini disutradarai oleh Lee Jae-kyoo dan dibagi menjadi 12 episode dalam 1 musim, berlatar zombie outbreak yang terjadi di SMA Hyosan. Beberapa siswa penyintas berhasil menyelamatkan diri dan bersembunyi sambil menunggu bantuan datang.

Kejadian yang begitu cepat membuat mereka harus berhati-hati mengumpulkan informasi dalam keterbatasan. Keputusan demi keputusan harus diambil di antara hidup dan mati. Konflik, pengorbanan, kehilangan hingga unusual phenomenon harus mereka hadapi dalam hitungan jam saja.

1. Tegang Tapi Tak Intens

Sejak episode pertama, All Of Us Are Dead memberikan tension yang cukup bikin jantung berdegup kencang. Detik-detik first outbreak Virus Jonas di SMA Hyosan ini juga sepele namun dikemas layaknya film horor yang menegangkan. Meski tegang, intensitasnya tak setinggi serial Home Sweet Home yang seolah tak memberi kita waktu untuk beristirahat dari jump scare. Tenang, serial ini tergolong minim jump scare.

Secara keseluruhan, All Of Us Are Dead menghadirkan porsi action dan drama dengan seimbang. CGI (Computer-Generated Imagery) yang cukup halus membuat beberapa scene nyaman di mata, walaupun suara gemeretak tulang saat manusia berubah jadi zombie cukup membuat bulu kuduk berdiri. Tentunya, bukan serial Korea kalau tak dibumbui dengan drama yang bikin greget. Namun, semuanya masih enjoy-able.

2. Bukan Cuma Soal Survival

Seperti film dan serial zombie garapan Korea sebelumnya, seperti Train To Busan, TTB: Peninsula, Alive ataupun Kingdom, it isn't just about surviving. Walaupun setiap langkah Cheong-san dkk dihadapkan pada pilihan hidup dan mati, ada banyak elemen lain yang bikin greget.

Salah satunya adalah persahabatan antara masing-masing karakter. Sutradara Lee JQ, menciptakan bonding antar aktor dalam workshop sebelum syuting dimulai. Mereka diminta untuk bertukar peran yang membuat mereka memahami semua karakter yang ada. Menurut Lee, apa yang tersaji dalam layar Netflix kalian adalah bentuk emosi yang pure dan tulus dari para aktor. That's why, ia memilih cast yang berusia 19-24 tahun (saat syuting) agar bisa mendapatkan 'nyawa' yang sesuai dari masing-masing karakter. Bahkan Park Ji-hoo, pemeran On-jo, dan Lomon masih duduk di bangku SMA saat syuting serial ini.

Memakai setting SMA dan siswa sebagai main cast, sutradara tentunya meracik bumbu-bumbu percintaan ala remaja yang bikin makin gemas. Kisah cinta bertepuk sebelah tangan, hingga ketulusan saat memaknai kehilangan dibalut kepolosan anak SMA ikut hadir. Buat kalian yang masih sekolah, tentunya akan ada experience tersendiri menonton kisah On-jo, Nam-ra dan Su-hyeok ya. Tapi, buat kalian yang sudah berkeluarga, kisah mereka sepertinya bisa bikin nostalgia.

Selain persahabatan, All Of Us Are Dead menyelipkan cinta kasih antara orangtua kepada anak-anaknya. Bahkan, Virus Jonas tercipta karena kasih sayang ayah kepada putranya, namun berujung malapetaka. Banyak momen-momen yang akan membuat emosi kalian teruji. Marah, kesal, menangis dan tertawa akan diaduk menjadi satu. Nano-nano!

3. Fenomena Zaman Now

Berbeda dengan serial barat yang terkadang lebih scientific, All Of Us Are Dead menyajikan realita zombie outbreak di kehidupan modern sebuah kota kecil. Jika kalian menonton Alive, ada sedikit kemiripan dengan narasi All Of Us Are Dead, di mana fenomena 'bikin konten' masih akan ada di tengah chaos yang nyata.

Ada scene di mana seorang Youtuber sengaja datang untuk melihat zombie apocalypse di tengah kota Hyosan. Ada juga yang bikin prank zombie outbreak di kereta bawah tanah dan mengunggah video permintaan maaf (yang ternyata bohong). Beberapa scene ini membuat All Of Us Are Dead sangat relatable dengan kehidupan yang serba digital dan terikat dengan platform media sosial.

Tentunya, seperti virus Covid-19 yang bermutasi, begitu juga dengan Virus Jonas. Virus ini menghadirkan hybrid alias manusia setengah zombie yang bikin rasa penasaran viewers tak jadi kendor. Nilai plusnya, kehadiran hybrid ini dibungkus dengan bahasa yang scientific namun mudah dicerna oleh viewers. Membuatnya, lagi, enjoy-able.

4. A Hero Inside You

Karakter utama, Lee Cheong-san dan Nam On-jo, adalah sosok siswa ordinary yang menjalani hari-harinya selayaknya anak SMA. Bermain, belajar dan berbeda pendapat dengan orangtua. Sutradara dan penulis naskah membungkus serial ini senyata dan senatural mungkin, membuat kita seolah memiliki kesamaan dengan kondisi kota Hyosan.

Dalam episode awal digambarkan kondisi kota dengan segala kesibukannya dan aktivitas di dalam SMA Hyosan. Building story yang biasanya membosankan jadi menarik untuk diikuti. Pengenalan karakter yang cukup banyak juga dikemas secara singkat, padat dan jelas. Jika kalian punya kesulitan untuk menghafal nama karakter, sutradara menciptakan mereka berbeda satu sama lain dan bisa dikenali lewat atribut yang melekat, seperti rompi pink, karakter berkacamata, panggilan 'Ketua Kelas' atau karakter yang memakai jas.

Cheong-san adalah anak pemilik kedai ayam goreng yang sangat dicintai ibunya. Layaknya anak SMA, ia kurang peka terhadap perasaan wanita, meski diam-diam menyukai Nam On-jo. Cheong-san bukan yang terganteng, bukan pula yang paling pintar. Namun, sifatnya yang keras kepala membuatnya bisa bertahan di tengah chaos yang terjadi dan menjadi yang bisa diandalkan oleh teman-temannya karena gesit.

On-jo adalah anak perempuan satu-satunya kesayangan sang ayah yang bekerja sebagai regu pemadam kebakaran. Ia digambarkan sebagai siswi cantik yang tidak terlalu pintar secara akademis, namun ingin belajar lebih keras agar sang ayah kagum. Di balik itu, On-jo memiliki basic latihan keselamatan dan memahami rute menuju perbatasan kota. Ia memiliki hati yang lapang untuk memberikan kekuatan kepada teman-temannya untuk bertahan meski rasanya harapan itu kosong.

Sutradara menunjukkan bahwa karakter utama tak melulu sempurna. Mereka memiliki sisi vulnerable yang membuatnya masih menjadi manusia. But a hero always lies inside you!

5. Aktor Muda

Sutradara Lee JQ sengaja memilih aktor-aktor muda untuk bermain di serial ini. Tujuannya adalah agar experience penonton murni terarah kepada zombie outbreak yang jadi inti cerita. Tapi, All Of Us Are Dead nampaknya akan memunculkan beberapa rookie. Akting Park Solomon dan pesonanya mendapat banyak pujian. Begitu juga Yoo In-Soo, pemeran Gwi-nam, yang dipuji sutradara sangat total untuk mendalami karakternya. Overall, akting mereka patut diacungi jempol.

6. Yang Aneh...

Bagaimanapun, film atau serial zombie selalu mengutamakan soal kemampuan survival. Anehnya, petualangan On-jo dan kawan-kawan selama kurang lebih 3x24 jam tidak menghadirkan scene scavenging atau pencarian makanan.

Padahal, Nam-ra berbagi ilmu bagaimana manusia tidak akan dapat bertahan lebih dari 3 hari tanpa air. Meski Na-yeon sempat akan mengantar makanan untuk teman-temannya di rooftop, justru Cheong-san lebih fokus untuk mencari handphone demi menghubungi nomor darurat hingga login Facebook. Millenial problem nowadays..

7. So...

All Of Us Are Dead membuat film/serial zombie Korea naik level. Jalan ceritanya ringan, menarik dan bikin penasaran untuk diikuti sejak episode 1 hingga 12. CGI yang dihadirkan juga tak mengecewakan, begitu juga akting para aktor yang masih tergolong rookie.

Untuk kalian yang tidak suka film atau serial zombie apocalypse, mungkin akan merasa lelah saat sampai di pertengahan season 1 karena plotnya bertele-tele. Ada beberapa narasi yang terus diulang, sehingga ada sebagian viewers yang merasa serial ini terlalu panjang jika dikemas dalam 12 episode. 

Karakter Nam On-jo, dan beberapa lainnya, juga menuai protes karena kepolosannya. Banyak yang gemas dengan sifatnya yang kurang gercep ketika menghadapi situasi genting. Tapi, untuk zombie enthusiast, setiap episodenya mengundang rasa penasaran yang membuat waktu marathon 12 jam jadi tak terasa. One word, ENJOY-ABLE. 8/10.

(kpl/tch)


REKOMENDASI
TRENDING