[Spoiler] Ending 'Abad Kejayaan': Ibhahim 'Jemput' Suleiman

Minggu, 16 Agustus 2015 17:38 Penulis: Wulan Noviarina
[Spoiler] Ending 'Abad Kejayaan': Ibhahim 'Jemput' Suleiman Abad Kejayaan @youtube/muhtesemyuzyil
Kapanlagi.com - Warning, berita ini berisi spoiler tentang ending serial Abad Kejayaan yang belum ditayangkan di Indonesia. Apabila kurang berkenan untuk membacanya, silakan baca berita lain di sini...

Seorang pembawa pesan mengabarkan bahwa Szitgetvar sudah menjadi bagian dari Kerajaan Ottoman. Suleiman mendengarnya berita itu dan kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri.

"Apa yang terjadi pada jantung anak Adam ketika ia meninggal. Ketika darah dan jiwa menarik diri. Apa yang tersisa. Apakah ini adalah akhir dari kisah kemenangan seorang raja dan dalam hatinya ia memiliki lebih dari itu? Kemenangan. Hati saya penuh dari bawah ke atas dengan cinta, persahabatan, puisi dan daun yang telah lahir dengan cahaya Illahi. Kepalaku sampai di langit dengan bintang-bintang. Akarku gelap dan tidak tahu bagaimana harus puas dalam tanah yang diberkati. Kegelapanku datang dari Bumi. Cahayaku dari langit," ujar Suleiman.

Setelah itu ada beberapa flashback soal perjalanan Suleiman di awal serial Abad Kejayaan. Bagaimana ia bertemu dengan Ibrahim dan kekasihnya tercinta, Putri Hurrem.

Suleiman meninggal di tendanya. @youtube/muhtesemyuzyilSuleiman meninggal di tendanya. @youtube/muhtesemyuzyil


Di tempat lain, Mahidevran sedang membaca Al Quran sendirian. Ditemani lilin yang menyala lembut, ia terus membaca kitabnya. Namun di tengah-tengah momen menbaca Al Quran, mendadak lilin yang ada di sebelahnya padam. Ia pun langsung tahu bahwa ada sesuatu pada diri suaminya, Suleiman.

Pada lokasi Suleiman berada, ia sudah dikelilingi oleh para penjaga dan pelayan Kerajaan Ottoman. Suleiman berbaring di tempat tidurnya yang dihiasi dengan kain berwarna putih yang indah.

Lantunan ayat suci terus bergema di tenda itu. Sementara semua orang dengan wajah cemas dan khusyu terus memanjatkan doa untuk sultan mereka yang sedang di ambang maut.

Suleiman dalam keadaan sadar masih bisa melihat ke sekelilingnya. Lalu terdengar suara Ibrahim yang memanggilnya, 'Hunkarim, waktunya telah tiba'. Suleiman memanggil nama Ibrahim untuk terakhir kalinya, dan ia memejamkan mata untuk selama-lamanya.

(kpl/phi)

Editor:

Wulan Noviarina


REKOMENDASI
TRENDING