Lab Film Internasional 2019 di Bali Angkat Sinema Beyond Borders

Jum'at, 09 Agustus 2019 17:58 Penulis: Mahardi Eka Putra
Lab Film Internasional 2019 di Bali Angkat Sinema Beyond Borders Dokumentasi CinemaWithoutWall

Kapanlagi.com - Cinema Without Wall adalah sebuah gerakan yang menyoroti kearifan lokal di Bali dengan membiarkan para siswa perfilman ini untuk menjelajahi 5 desa asli yang ada di Bali selama seminggu. Mereka akan menghasilkan 12 film pendek seputar topik “Lokal merupakan kemewahan baru”. 

Film-film pendek ini akan diputar pertama kalinya pada tanggal 10 Agustus. Setelah itu, akan diselenggarakannya sebuah roadshow film yang akan diputar di berbagai macam lokasi di seluruh Indonesia. Sepanjang proyek ini, CINEMAWITHOUTWALL merangkul konsep “opencinema” atau bioskop terbuka.

Sineas muda lulusan Institut Kesenian Jakarta, Caecilia Sherina merupakan pencetus dari gerakan ini. Ia percaya bahwa melalui film, orang dapat mengkomunikasikan ide dan solusi mereka yang dapat menyelesaikan tantangan dan masalah di dalam masyarakat.



“Di Cinema Without Wall, kami percaya bahwa film adalah instrumen perubahan. Kami telah mengobservasi berbagai contoh mengenai kesenjangan sosial antar negara maju dan berkembang. Perbedaan seperti inilah yang menciptakan hambatan ketika kita mencoba untuk bertukar wawasan, ide dan solusi. Di situlah film bisa masuk," tuturnya dalam rilis yang diterima KapanLagi.com.

Ditambahkannya, film menjadi media yang memungkinkan untuk berbagi cerita dan meningkatkan kesadaran dan menginspirasi orang lain untuk bertindak. Ada banyak film bagus, tapi banyak pula yang belum menjangkau orang yang tepat. Ide Cinema Without Walls adalah untuk menghubungkan film dengan penonton melalui Lab Film ini dan menindaklanjuti dengan roadshow.

“Setiap pemutaran akan diselenggarakan di ruang terbuka gratis yang kami sebut Bioskop Rakyat. Ini dapat dengan mudah diterjemahkan ke “The People's Cinema”. Kami bermaksud untuk melampaui batasan yang dimiliki film melalui diskusi. Kami mendorong koneksi manusia dengan memungkinkan pemicu bahwa film tidak harus berhenti sebagai simulasi tetapi juga interaksi di mana pembuat film dan penonton dapat berkomunikasi secara bebas," pungkasnya. 

Acara pembukaan, yang terbuka untuk umum, akan dimulai pukul 3 sore dan mempersiapkan para pembuat film yang akan dimulai dengan upacara melukat untuk restu oleh desa. Setelah hari pertama, beberapa tim akan tinggal di Sangeh sementara sisanya akan menyebar ke Pelaga, Jungutan, Candikuning, dan Mengesta untuk menemukan semua warna Bali.

Penduduk setempat akan sangat terlibat di seluruh Lab Film; membantu
event ini dengan mengakomodasi para tamu, berbagi kearifan lokal mereka, dan beberapa mungkin berperan sebagai aktor.

(kpl/dka)


REKOMENDASI
TRENDING