Review 'ALAS ROBAN': Horor Lengkap Dengan Racikan Pas
Review film ALAS ROBAN - instagram.com/filmalasroban
Kapanlagi.com - ALAS ROBAN, yang dibintangi Michelle Ziudith, Fara Shakila, Rio Dewanto, Taskya Namya, Imelda Therinne, dan Dewi Pakis, hadir sebagai horor penuh misteri yang siap membuat KLovers merinding dari awal hingga akhir.
Disutradarai Hadrah Daeng Ratu dan diproduseri Oswin Bonifanz, film produksi Unlimited Production ini membawa kita menyelami sisi gelap salah satu jalur paling angker di Jawa Tengah.
Cerita berfokus pada Sita (Michelle Ziudith), ibu tunggal dari Pekalongan yang hidup serba terbatas. Saat akhirnya mendapat pekerjaan baru di rumah sakit Semarang, ia memutuskan pindah bersama putrinya, Gendis (Fara Shakila), yang memiliki keterbatasan penglihatan.
Advertisement
Namun perjalanan harapan itu berubah menjadi awal mimpi buruk ketika bus terakhir yang mereka tumpangi melewati jalur mencekam Alas Roban dan tiba-tiba mogok di tengah gelapnya malam.
Sejak insiden itu, Gendis mulai mengalami hal-hal ganjil. Ia mendengar suara yang tidak pernah ia kenali sebelumnya, menggambar simbol-simbol aneh, hingga kerasukan setiap malam seolah ada sesuatu yang ingin merenggut tubuhnya. Kondisi Gendis yang makin memburuk membuat Sita putus asa dan ketakutan.
KLovers, berikut adalah review ALAS ROBAN dari redaksi KapanLagi.com. Peringatan: review ini sedikit mengandung sedikit spoiler.
Baca juga berita tentang ALAS ROBAN lainnya di Liputan6.com
1. Akting Michelle Ziudith Bintang 5
ALAS ROBAN jadi debut horor bagi Michelle Ziudith, aktris peran yang kenyang dengan peran di film drama. Hasilnya gimana? Ya, wanita yang baru saja berulang tahun ke-31 tahun ini membuktikan dirinya bisa main di genre apapun.
Aktingnya sanggup menyalurkan kengerian yang natural buat para penonton, di samping perannya menjadi seorang ibu yang hangat dan berani berkorban apapun demi anak perempuannya. Chemistry luar biasa ia tunjukkan dalam banyak adegan dengan Fara Shakila sebagai Gendis. Hal ini menjadi kredit tersendiri lantaran di 'dunia nyata' Michelle Ziudith belum berkeluarga dan belum punya anak.
Ia sanggup melahap part yang terlihat 'drama' banget di ujung film dan membuktikan statusnya sebagai salah satu ratu film drama Indonesia. Besar di Medan, Sumatera Utara, ia juga sanggup berbahasa Jawa dengan luwes dalam beberapa adegan di film ini.
(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)
2. Jump Scare & Hantunya Boleh Juga
Buat para penikmat jump scare, ALAS ROBAN menghadirkan adegan-adegan kejutan yang nggak disangka. Pada part yang diprediksi bakal ada penampakan, ternyata tak ada apapun. Sebaliknya, di scene lain yang terkesan flat justru jumpscare tersebut membuat para penonton di bioskop menjerit dan menutup matanya.
Selain itu, hantu di film ini terasa realistis dan tidak dilebih-lebihkan. Penggunaan animasi efek komputer atau CGI untuk beberapa detail seperti hantu itu sendiri, beberapa hewan, dan bus yang meliuk-liuk di Alas Roban juga dirasa pas.
3. Detail yang Diperhatikan
ALAS ROBAN menampilkan setting waktu di era 90-an. Untuk mendukung itu, digunakan sejumlah properti yang menggambarkan latar waktu tersebut. Semuanya digambarkan dengan jelas dan detail seperti uang kertas, bus yang dinaiki, mobil ambulans, seragam Sita di rumah sakit, pedagang koran di pasar, rumah yang ditinggali sita, serta semua baju yang digunakan oleh para pemeran lainnya.
Pemutaran lagu Nike Ardilla berjudul Bintang Kehidupan di radio yang berada di warung pecel lele juga jadi penegas bahwa latar waktu yang digunakan di film tersebut adalah tahun 1990-an.
Pada awal dan akhir video, ditampilkan video wawancara kesaksian para warga asli Alas Roban tentang mitos yang beredar. Hal ini membuat film ini terkesan digarap dengan serius.
4. Adegan Terbaik
Menurut redaksi, ALAS ROBAN menawarkan dua adegan terbaik yang bikin para penonton merinding. Pertama, adegan Gendhis dan Tika (Taska Namya) bermain petak umpet di rumah. Kemudian, adegan di ujung film ketika mata Gendhis yang terkena katarak sukses dioperasi. Dua-duanya memang bikin 'merinding' tapi dalam konteks yang berbeda. Gimana perbedaannya? KLovers lihat sendiri ya di bioskop, mumpung masih tayang!
5. Semua Pemeran Saling Melengkapi
Rio Dewanto menjadi Anto, sopir sopir ambulans yang paham betul mitos kelam Alas Roban. Sedangkan Agus Kuncoro menjadi sopir bus yang membawa Sita & Gendhis naik bus dari Pekalongan ke Semarang melalui Alas Roban.
Mereka berdua layak mendapatkan porsi lebih banyak karena kemampuan aktingnya yang cukup disayangkan bila hanya mendapat peran minor.
Selain mereka, Taska Namya menjalankan perannya sebagai salah satu 'ratu film horor' dengan baik dan tak mengecewakan. Aktingnya mampu membuat suasana kian mencekam. Kredit juga diberikan kepada Imelda Therinne yang mampu menjalankan peran antagonis dengan baik.
Pemilihan para pemeran di film ini juga jadi kunci kualitas ALAS ROBAN. Semua pemeran menampilkan akting terbaik mereka dan saling melengkapi.
6. Hal-hal yang Menjadi Kekurangan
Bukan tanpa cela, ALAS ROBAN juga punya beberapa kekurangan. Tapi, secara umum hal-hal berikut ini tak mengganggu pengalaman menikmati film ini.
- Plat nomor kendaraan berwarna putih terlihat saat adegan bus hendak memasuki Alas Roban. Plat nomor putih belum digunakan di tahun 90-an silam. Plat nomor putih diketahui baru diberlakukan secara resmi pada Juni 2022.
- Penggunaan Bahasa Jawa dan logat yang terkesan kaku untuk beberapa pemeran lain. Hal ini tak berlaku untuk Michelle Ziudith yang sudah terkesan luwes dalam berbahasa Jawa.
- Adegan di malam hari terasa repetitif. Scene saat Gendhis terbangun di malam hari memang bikin deg-degan, tapi hal itu terasa membosankan dan terkesan diulang-ulang.
- Ending yang drama banget. Untuk sebuah film horor, ALAS ROBAN memiliki ending yang terkesan didramatisir dan terlalu panjang. Hal ini bikin suasana seru yang dibangun hingga pertengahan film ambyar lantaran ekspektasi penonton tak terpenuhi di akhir.
7. Rating
Berdasarkan poin-poin yang disebutkan di atas, redaksi KapanLagi.com memberikan rating 8,4/10 untuk ALAS ROBAN. Film ini bisa jadi pilihan buat KLovers penggemar horor yang nggak cuma mengandalkan jump scare, dengan storyline yang kuat dan ada unsur drama keluarga di dalamnya. Horor lengkap dengan racikan yang pas.
Review Lainnya!
- Review 'GREENLAND 2: MIGRATION': Sekuel Layak Tonton, Tapi 'Digendong' Gerard Butler
- Film 'ANACONDA' Dapat Pujian Sekaligus Kritikan
- Review Film AGAK LAEN 2: MENYALA PANTIKU!, Ketawa Ngakak Tetap Ajarkan Nilai Kehidupan
- Review 'PANGKU': Debut Perfek Reza Rahadian, Indonesia Butuh Banyak Film Kayak Gini!
(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)
(kpl/ums)
Advertisement
