Superhero Indonesia Yang Belum Siap Lahir

Selasa, 13 Januari 2015 06:22 Penulis: Guntur Merdekawan
Superhero Indonesia Yang Belum Siap Lahir Image: © Putaar Production
Kapanlagi.com - Oleh: Abbas Aditya

Peringatan! Review Ini Mengandung Spoiler

Kata siapa Indonesia tak punya film superhero? Coba tengok beberapa dekade silam, dalam sejarahnya industri ini pernah merilis Gundala Putra Petir, Darna Ajaib, atau Rama Superman Indonesia meski idenya tak lagi orisinil. Bahkan setelah perfilman mati suri, muncul serial Panji Manusia Milenium dan Saras 008 yang tayang di layar kaca dengan ratusan episode.

Setelahnya kita dibombardir oleh fitur pahlawan berkekuatan super produk Hollywood dengan budget fantastis sambil berharap: kapan Indonesia memiliki film superhero lagi? Awal tahun 2015 ini sutradara bernama X.Jo menjawab harapan tersebut lewat Garuda yang (katanya) sudah digodok sepuluh tahun lamanya. Lantas, bagaimana hasilnya?

Indonesia di masa depan, tepatnya kota Metro, terancam menjadi titik jatuhnya asteroid raksasa. Beruntung para ilmuwan berhasil menciptakan roket Gatotkaca guna menghancurkan benda luar angkasa itu sebelum jatuh dan meluluhlantakan bumi. Namun komplotan penjahat yang dipimpin oleh Durja King (Slamet Rahardjo) berhasil merebut roket tersebut untuk menguasai dunia. Lalu Garuda muncul untuk merebut roket itu dan... seperti bisa ditebak, menyelamatkan dunia.

Well, saya sudah memasang ekspektasi rendah ketika menonton film satu ini. Terutama menyangkut klaim the first local superhero movie with CGI (Computer Geberated Imagery). Bukannya tak percaya, saya sadar Indonesia belum siap untuk membuat film model begini mengingat perkembangan tekhnologi kita masih kalah jauh, pun dengan sumber dayanya. Lalu saya berharap banyak pada kekuatan cerita yang ternyata.... sama lemahnya.

Kisah cinta di film 'GARUDA', lemah! / © Putaar ProductionKisah cinta di film 'GARUDA', lemah! / © Putaar Production

X.Jo memadukan bluescreen dengan efek CGI yang ia gembar-gemborkan itu. Sayang hasil akhirnya sangat kasar dan tidak rapi. Visualnya malah mengganggu alih-alih menimbulkan decak kagum. Pemilihan latar gambar untuk membangun setting juga terkadang pecah dan buram karena resolusinya sangat kecil. Belum lagi koreografi yang terlihat palsu lantaran tidak sinkron dengan latar dan efek.

Dari segi cerita, X.Jo yang juga duduk sebagai concept art dan editing, terlihat sangat ambisius membuat Garuda begitu kompleks dengan percabangan di sana-sini. Yang terjadi dia malah terkesan asyik sendiri sampai melupakan 'nyawa' karakternya. Contoh paling krusial adalah karakter Bima atau Garuda (Rizal Al Idrus), penonton tidak dibuat peduli siapa superhero kebanggaan Metro ini, bagaimana ia tercipta dan bagaimana ia menggunakan kekuatannya. Jatuhnya terkesan konyol saat mendadak ia dielu-elukan sebagai pahlawan. Bukankah tontonan superhero disebut berhasil ketika sang sutradara sukses meyakinkan penonton bahwa tokoh di layar benar-benar hebat? Konsep itu belum terjadi di sini.

Efek CGI yang kasar / © Putaar ProductionEfek CGI yang kasar / © Putaar Production

Seolah belum cukup, banyak karakter bermunculan sepanjang film yang tidak tahu kegunaannya apa. Boleh saja X.Jo berdalih bila ia memotong banyak adegan untuk keperluan cerita atau mungkin durasi, namun jatuhnya malah menjadi sangat payah. Perhatikan saja sosok anak Gubernur bernama Rose (dia harusnya berperan sebagai love interest Bara namun hadir dalam 2-3 scene yang tidak berdaya guna untuk kepentingan cerita) dan seorang bule yang tiba-tiba muncul lalu membunuh Durja King di ending. Oh please, lantas kegunaan Garuda apa di sana jika musuhnya mati bukan di tangan sang superhero? Sungguh menggelikan.

Akting para pemain pun terlihat sia-sia. Rizal Al Idrus boleh saja memiliki postur mumpuni, namun aktingnya begitu lemah. Belum lagi aktor dan aktris lain yang bakatnya terbuang percuma dikarenakan skenario yang sudah tak bisa diselamatkan lagi.

Alexa Key dalam film 'GARUDA' / © Putaar ProductionAlexa Key dalam film 'GARUDA' / © Putaar Production

Meski begitu langkah gagah X.Jo patut diapresiasi untuk menstimulus sineas lain menghasilkan sajian sejenis dengan hasil yang BERKALI-KALI LIPAT lebih bagus. Setelah ini mungkin X.Jo bisa belajar, bila belum mampu alangkah baiknya membiarkan superhero Indonesia hadir nanti. Di saat yang benar-benar tepat, sudah siap, dan, tanpa built in product mengganggu!

(kpl/abs/gtr)

Reporter:

Adi Abbas Nugroho


REKOMENDASI
TRENDING