Arist Merdeka Sirait: Hari Ini Luka Anak Indonesia

Arist Merdeka Sirait: Hari Ini Luka Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait

Kapanlagi.com - Hari ini, Senin (23/07) merupakan Hari Anak Nasional (HAN), yang biasanya secara rutin diperingati oleh seluruh Bangsa Indonesia. Namun tahun ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunda sampai tanggal 5 September mendatang. Penundaan tersebut mengundang kemarahan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA).


Arist Merdeka Sirait, Sekretaris Jenderal Komnas PA saat dihubungi KapanLagi.com® mengaku tidak tahu pasti alasan penundaan tersebut, namun yang pasti menunjukkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap persoalan anak Indonesia.

“Hari Anak tahun ini merupakan hari luka bagi anak Indonesia. Karena momen berharga bagi mereka justru tidak diperingati, dengan alasan kesibukan Presiden dan bulan puasa. Ini sekaligus menunjukkan rendahnya perhatian terhadap anak-anak„
Arist Merdeka Sirait


"Hari ini merupakan hari luka bagi anak Indonesia. Karena momen berharga bagi mereka justru tidak diperingati, dengan alasan kesibukan Presiden dan bulan puasa. Ini sekaligus menunjukkan rendahnya perhatian terhadap anak-anak," tegas Arist  dengan suara tinggi, Senin (23/07).


Alasan bulan puasa menurut Arist juga dinilai tidak tepat, justru bulan puasa seharusnya momen yang tepat untuk menanamkan kebaikan, kejujuran dan introspeksi diri. Orang tua atau pun anak rasanya tepat untuk melakukan introspeksi diri sekarang ini. "Kalau diperingati September menjadi sekedar seremonial saja," tegasnya.


Arist melihat persoalan anak Indonesia sudah pada tahapan yang memprihatinkan. Pelanggaran dan perlakuan buruk kerap menimpa anak-anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang. Ormas juga mempertontonkan kekerasan yang sangat mungkin ditiru oleh anak-anak.


"Sekarang yang perlu dilakukan adalah introspeksi diri, dari mulai guru, politisi, para orang tua, pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk tidak melakukan aksi kekerasan. Kita tidak bisa memaksa anak untuk berperilaku mulia dan shaleh, kalau para orang tua tidak bisa memberikan contoh," tegasnya.


Butuh sebuah gerakan anti kekerasan yang menyentuh pada wilayah akar rumput di masyarakat dan bukan sekedar gerakan-gerakan yang hanya seremonial. "Gerakan anti kekerasan ini harus bisa seperti Posyandu yang bisa masuk sampai ke lingkup masyarakat terkecil, yakni keluarga," pungkasnya.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(kpl/dar)

Rekomendasi
Trending