Guruh Soekarnoputra Wafat, Begini Jejak Seni dan Karier Politiknya

Guruh Soekarnoputra di panggung © KapanLagi.com/Adrian Utama Putra
Guruh Soekarnoputra, adik Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026 pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit Siloam, Jakarta. Kabar duka ini menutup perjalanan panjangnya sebagai seniman dan politikus.
Informasi wafatnya Guruh disampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Ia menyebut keluarga besar PDI Perjuangan berduka atas kepergian Guruh yang dikenang sebagai seniman besar, sosok Marhaenis, sekaligus pejuang partai.
Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 dengan nama Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra, ia merupakan putra bungsu Presiden Soekarno dan Fatmawati. Guruh juga saudara dari Megawati Soekarnoputri. p>
Advertisement
Kedekatannya dengan dunia seni tumbuh sejak kecil. Pada usia lima tahun, ia mulai mempelajari tari tradisional seperti tari Jawa, Sunda, dan Bali. Guruh juga belajar piano, membentuk kelompok musik anak-anak, dan tampil di panggung. p>
Pendidikan dasar hingga menengah ia jalani di Perguruan Cikini, lalu bersekolah di SMA Negeri 25 Jakarta pada 1967 hingga 1970. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Amsterdam, Belanda, mengambil jurusan Arkeologi.
Guruh kembali menempuh pendidikan di bidang Ilmu Administrasi Negara di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI) pada 2005 hingga 2008 dan meraih gelar Sarjana Administrasi Publik. Pada 2010, ia mendapatkan gelar Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia, kemudian menamatkan Magister Sains dari Program Studi Ilmu Administrasi dengan konsentrasi Ilmu Administrasi Publik pada 2012.
1. Jejak Seni Guruh Soekarnoputra

Dunia seni menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Pada 1965, sekitar usia 12 tahun, Guruh membentuk kelompok musik The Beat G.
Kecintaannya pada musik berlanjut lewat proyek Guruh Gipsy pada 1975. Karya ini memadukan nuansa musik dengan gamelan Bali dan menjadi salah satu tonggak penting dalam rekam jejak musikalnya.
Pada 27 Maret 1977, ia mendirikan Swara Maharddhika, yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Maharddhika pada 1987. Dua tahun setelah mendirikan Swara Maharddhika, Guruh membentuk PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP.
Sepanjang karier, ia menggelar sejumlah pergelaran besar. Di antaranya Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979, lalu berlanjut dengan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra II Untukmu Indonesiaku pada 1980.
Pada periode yang sama, Guruh memproduksi film semi-dokumenter 'Untukmu Indonesiaku'. Program panggung tersebut diteruskan dengan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra III Cinta Indonesia dan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra IV Gilang Indonesia Gemilang pada 1986.
Tahun 1987, Guruh mempersembahkan pertunjukan kolosal 'Jak Jak Jak Jakarta' untuk memperingati ulang tahun Jakarta. Pada tahun yang sama, ia juga menghadirkan 'Gempita Swara Maharddhika' untuk menandai satu dekade Swara Maharddhika.
Kiprahnya merambah perfilman Indonesia sebagai ilustrator musik untuk sejumlah judul populer, antara lain 'Ali Topan Anak Jalanan', 'Gita Cinta dari SMA', dan 'Puspa Indah Taman Hati'.
Tidak hanya di balik layar, Guruh juga pernah berakting. Pada 1985, ia memerankan tokoh Sunan Muria dalam film 'Sembilan Wali'.
Penghargaan turut mengiringi karyanya. Komposisi 'Renjana' meraih prestasi dalam Festival Lagu Populer Tingkat Nasional pada 1976. Sementara lagu 'Kembalikan Baliku', yang sebelumnya menang di ajang yang sama, dibawanya ke World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang, pada 1987 dan memperoleh Kawakami Award serta Audience Selections Award.
Guruh juga mendapatkan penghargaan untuk ilustrasi musik pada Festival Film Indonesia 1978 yang diselenggarakan di Ujung Pandang.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
2. Perjalanan Politik Guruh Soekarnoputra
Selain dikenal sebagai seniman, Guruh menempuh karier panjang di dunia politik sebagai anggota DPR. Kiprahnya di parlemen dimulai pada masa Orde Baru dan berlanjut hingga era Reformasi.
Dalam catatan resmi DPR, Guruh pertama kali terpilih untuk periode 1992–1997 melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Setelah Reformasi, ia kembali duduk di parlemen melalui PDI Perjuangan untuk periode 1999–2004.
Mandat berikutnya diraih pada periode 2004–2009 dari daerah pemilihan Jawa Timur VI, yang meliputi Kota dan Kabupaten Kediri, Kota dan Kabupaten Blitar, serta Kabupaten Tulungagung.
Ia kembali terpilih untuk periode 2009–2014 dan 2014–2019 melalui daerah pemilihan Jawa Timur I, yang mencakup Surabaya dan Sidoarjo.
Pada Pemilu 2019, Guruh kembali memperoleh kursi DPR periode 2019–2024 melalui daerah pemilihan Jawa Timur VI.
Dalam periode terakhirnya, Guruh tercatat sebagai anggota Fraksi PDI Perjuangan dan bertugas di Komisi X DPR RI.
(BCL Bantah Isu Hamil, minta netizen stop berasumsi.)
(kpl/phi)
Advertisement












































