Jennifer Dunn Mengaku Khilaf, Pengacara Pieter Ell: Dia Minta Maaf

Minggu, 07 Januari 2018 11:18 Penulis: Soraya
Jennifer Dunn Mengaku Khilaf, Pengacara Pieter Ell: Dia Minta Maaf Pieter Ell - Jennifer Dunn © KapanLagi.com®

Kapanlagi.com - Baru saja bikin heboh karena isu kedekatannya dengan Faisal Haris, kini Jennifer Dunn harus ditahan di balik jeruji besi. Yup, bintang cantik yang penuh sensasi ini kembali ditangkap untuk ketiga kalinya karena kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.

Dan kini Jennifer akhirnya menemukan pengacara baru yang akan menjadi kuasa hukumnya hingga kasus ini selesai. Dialah Pieter Ell, pengacara kondang yang sebelumnya sempat berurusan dengan kasus hukum Robby Abbas, Suryono, dan Amel Alvi.

Ditanya soal hal ini, Pieter Ell yang ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat pada Sabtu (6/1) malam kemarin pun menyampaikan, "Oh ya karena saya diminta oleh keluarga. Kemudian yang kedua, untuk kasus ini kan Jendun itu dalam posisi sakit, sakit dalam arti sebagai penyalahguna. Itu kan kategorinya sakit dalam UU Narkotika. Kalau orang sakit kan harus disembuhkan."

Pieter Ell jadi pengacara Jennifer Dunn © KapanLagi.com®/Agus ApriyantoPieter Ell jadi pengacara Jennifer Dunn © KapanLagi.com®/Agus Apriyanto

Untuk selanjutnya, Pieter akan mengambil langkah hukum seperti yang sudah tertera dalam ketentuan UU Narkoba. Tak ada yang istimewa bagi Jennifer karena semua orang sama di mata hukum, meskipun dia adalah seorang publik figur sekalipun. Meski begitu, Pieter tetap ingin menyampaikan pesan dari Jennifer.

"Tetapi yang paling penting yang mau saya sampaikan mewakili klien saya, dia meminta maaf. Itu yang disampaikan kepada saya. Meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas kekhilafan yang terjadi. Pada saat kami ketemu itu kan saya sampai cukup terharu. Jendun meneteskan air mata cukup lama," ungkapnya.

Berada di rumah tahanan untuk ketiga kalinya dengan kasus yang sama, Jennifer pun merasa stress. Karena itulah Pieter sebagai kuasa hukumnya berusaha melakukan yang terbaik dan memberikan dukungan demi memperbaiki kondisi psikologis sang klien.

"Kondisi sekitar 10 jam yang lalu itu sudah siap untuk menghadapi proses hukum termasuk tadi ditahan. Beberapa hari sebelumnya kan saya sudah ketemu dan menjelaskan beberapa hal, melakukan pendekatan-pendekatan, dan ya memang awalnya agak berat. Sampai detik-detik terakhir untuk harus ditahan atau dieksekusi itu saya masih meyakinkan secara mental dia siap menghadapi itu dan kelihatan tadi Jendun siap untuk menjalani proses itu. Tadi saya harus meyakinkan dia, memberikan penguatan untuk menjalani proses hukum. Takutnya tiba tiba pingsan, gimana. Kita kan nggak tahu," pungkasnya.

(kpl/abs/sry)

Reporter:

Adi Abbas Nugroho


REKOMENDASI
TRENDING