Kecewa, Slank Tarik Dukungan Untuk Jokowi?

Selasa, 27 Januari 2015 17:15 Penulis: Ahmat Effendi
Kecewa, Slank Tarik Dukungan Untuk Jokowi? Jokowi - Bimbim ©KapanLagi.com®
Kapanlagi.com - Grup band Slank selama ini dikenal sebagai relawan garis depan mendukung Joko Widodo atau Jokowi sebagai presiden. Namun, kasus perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri menjadi titik balik untuk menarik dukungan kepada Jokowi.

Drummer Slank, Bimo Setiawan Almachzumi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bimbim mengaku sedih dan kecewa dengan Presiden Jokowi karena tak ada tindakan konkret untuk membantu memberantas korupsi dalam kasus KPK vs Polri tersebut.

Bimbim menilai Jokowi ikut 'menari' saat koruptor menabuh genderang perang terhadap pihak antikorupsi.

"Yang gue sedihin, koruptor lagi memukul genderang perang aja sih ini. Kita penggiat anti korupsi dan temen yang kita angkat jadi pemimpin, justru ikut menari. Padahal kan harusnya kita sama-sama satu barisan lawan korupsi," ujar Bimbim di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bimbim mengungkap rasa kecewanya terhadap Jokowi. ©KapanLagi.com®Bimbim mengungkap rasa kecewanya terhadap Jokowi. ©KapanLagi.com®

Dia mengungkapkan, seharusnya Jokowi jangan mengangkat pejabat yang punya raport merah atau bermasalah. Padahal Bimbim mengatakan ia sudah mengajukan nama-nama yang memiliki track record yang mumpuni.

"Kan sudah dikasih tau. Jangan dia (Budi Gunawan) dia raportnya merah. Gua sudah ngasih 47 lebih nama orang-orang baik," tegas Bimbim.

Seperti diketahui, Jokowi mengajukan Komjen Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri pengganti Jenderal Sutarman, di saat masa pensiun Sutarman masih 9 bulan lagi. Selain itu Komjen Budi merupakan orang dekat Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri karena pernah menjadi ajudan Mega ketika masih menjadi Presiden Indonesia ke-5, karenanya pilihan itu dinilai sarat dengan muatan politis.

Selain itu Komjen Budi juga disorot terkait rekening gendut, dan KPK menetapkannya sebagai tersangka. Kini Indonesia pun tengah bergejolak dengan perseteruan dua lembaga tinggi negara KPK dan Polri.

(kpl/ded/sjw)

Reporter:

Dedi Rahmadi


REKOMENDASI
TRENDING