Riri Riza: Jangan Pandang Rendah Film Hantu
Riri Riza
Kapanlagi.com - Mohammad Rivai Riza atau yang lebih dikenal sebagai Riri Riza, sutradara sekaligus penulis naskah dan produser film tanah air, meminta masyarakat tidak menganggap rendah film-film bergenre hantu yang kini marak di Tanah Air.
"Kita harus ingat, film adalah cerminan sebuah masyarakat. Kalau sekarang kita lihat tren perfilman kita kebanyakan bertema hantu, yah, berarti kondisi masyarakat kita baru mampu menerima realita yang seperti itu," kata Riri Riza usai menikmati pertunjukan musik dalam pameran foto Imatajinasidi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Jumat (16/3) malam.
Riri Riza
Menurut Riri, untuk mengarahkan selera masyarakat ke film-film bertema selain hantu bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu panjang yang tidak bisa dilakukan secara instan. Bahkan kalau dihitung, butuh biaya besar juga.
"Kalau kita ingin memperbaiki kecenderungan itu, rasanya tidak mudah, tidak bisa dilakukan secara instan, perlu ada usaha jangka panjang, mungkin lima atau 10 tahun lagi baru bisa," kata sutradara 41 tahun yang memulai debutnya dalam film Kuldesak(1998) ini.
Sebagai sutradara, Riri menjunjung tinggi kebebasan, dia tidak keberatan dengan adanya fenomena film-film bertema hantu yang menjamur di Tanah Air.
"Saya tidak keberatan, film adalah sebuah karya kebebasan, masalahnya adalah kita hidup di tengah masyarakat yang berkonsensus maka kita harus paham tentang konsekuensi," kata lulusan Institut Kesenian Jakarta tersebut.
Riri menegaskan, di era sekarang ini, orang harus berani berkarya apa saja sesuai imajinasi masing-masing, namun juga harus berani bertanggung jawab atas karyanya.
Pameran foto Imatajinasidigelar di GFJA mulai Jumat (16/3/2012) hingga Senin (16/4/2012), foto-foto yang dipamerkan adalah karya 32 fotografer muda peserta Workshop GFJA Angkatan XVII.
Kepala Divisi Museum dan GFJA Oscar Motulloh, selaku kurator dalam pameran ini mengatakan bahwa "Imatajinasi" dipilih sebagai tajuk pameran untuk menegaskan bahwa foto-foto yang dipamerkan kali ini adalah hasil paduan kejelian penglihatan serta keluasan imajinasi para fotografer muda tersebut.
"Imatajinasi, adalah tajuk pilihan peserta Workshop Angkatan XVII yang mereka kutip dari pendapat fotografer kondang asal California, Ralph Gibson yang mewacanakan perkawinan penglihatan dan imajinasi menjadi sebentuk frasa visual baru yang ditafsirkan kembali oleh anak-anak workshop GFJA sebagai identitas angkatan XVII, dan sekaligus menjadi penanda pameran foto mereka," kata Oscar.
Workshop fotografi adalah program pelatihan fotografi yang dilaksanakan sebagai wujud komitmen GFJA di bidang pendidikan. Workshop ditujukan bagi para peminat serius fotografi, khususnya foto jurnalistik.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(antara/dar)
Advertisement
