Rudi Soedjarwo Mengangkat Pencarian Jati Dirinya dalam 'MENGEJAR MATAHARI'

Kapanlagi.com - Pengalaman atau perjalanan hidup seseorang bila diangkat ke layar lebar, agaknya menarik untuk dipirsa. Apalagi bila perjalanan hidup itu milik seorang sutradara muda berbakat macam Rudi Soedjarwo (32). Sebagai sutradara, nama Rudi sudah tidak asing lagi. Karena dialah yang melejitkan dara-dara cantik seperti Dian Sastrowardoyo, Marcella Zalianty dan Titi Kamal lewat filmnya Bintang Jatuh serta Ada Apa dengan Cinta?.

Melalui karya terbarunya yang bertajuk Mengejar Matahari, Rudi sepertinya hendak bernostalgia dan bertutur mengenai pencarian makna, jati diri serta menggali seluruh pengalamannya. "Ide awalnya memang berangkat dari situ. Selama 32 tahun semua pengalaman pahit dan manisku coba aku sharing kepada semua orang, mengenai apa sih arti persahabatan itu," papar Rudi.

Untuk mengungkapkan pengalaman hidup Rudi rupanya harus melibatkan banyak pihak. Setidaknya ada empat tokoh utama dalam film ini yang mewakili karakter Rudi, yaitu Ardi, Apin, Nino, dan Damar. Dua orang pemeran uatamanya antara lain diperankan oleh Winky Wiryawan dan Ujo "Project Pop". Menurut Rudi, film ini menyingkap sisi-ssi sedih, gembira, konyol, termasuk juga kisah cinta diantara 4 sahabat tersebut.

"Harapan saya, setelah nonton film ini, kita semua lama-lama jadi sadar. Ternyata begitu banyak waktu yang terbuang percuma. Dan sadar, waktu adalah sesuatu yang berharga. Uang bisa dicari, tapi waktu tak akan bisa diputar kembali," terang sutradara kelahiran Jakarta, 7 November 1971 ini.

Untuk menuangkan ide dalam bentuk cerita atau skenario, menurut penuturan Rudi, tidaklah mudah. Ia setidaknya butuh waktu sampai 1,5 tahun karena ia harus bergelut dengan dirinya sendiri saat membuat skenario film yang banyak bertutur soal impian, harapan, dan kekecewaan tersebut.

Namun demikian, proses syuting film ini bisa dibilang berlangsung sangat singkat. Rudi hanya butuh waktu 16 hari untuk mengambil syuting yang berlokasi di Rumah Susun Kebon Kacang, Stasiun Tanah Abang dan Jalan Sabang. "Syutingnya nggak butuh waktu lama, karena 95% lokasi syuting ada di Rumah Susun Kebon Kacang. Selebihnya hanya di Stasiun Tanah Abang dan Jalan Sabang," ujarnya.

Harapan Rudi setelah film ini di putar di bioskop muali 22 Juli nanti, penonton bisa memaknai arti persahabatan serta bagaimana harus menghargai waktu. "Nggak ada obsesi yang muluk-muluk. Harapan saya sederhana saja. Sehabis nonton, saya harap mereka bisa memaknai arti persahabatan dan bagimana bisa menghargai waktu. Itu saja," harap Rudi.

(isb/erl)

Rekomendasi

Trending