W.S Rendra Bicara Tentang Maritim
Kapanlagi.com - Budayawan dan penyair, W.S Rendra yang akrab disapa Willy mengemukakan, Indonesia sebenarnya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih dibandingkan dengan negara Eropa dalam mengurusi laut.
"Ini bisa dilacak dan dibuktikan pada fakta bahwa antara tahun 1.500 hingga 1.511, orang Malaka mempunyai pelabuhan dagang internasional yang dikelola dengan manajemen yang bagus," katanya pada seminar Maritim dan UKM dalam rangkaian perayaan ulang tahun ke-70 Willy di Batu, Jatim, Sabtu.
Dikatakannya, pelabuhan di Malaka itu merupakan pasar terbuka dan hanya beras yang dikontrol atau dilindungi. Untuk manajemen pelabuhan itu telah membagi-bagi tugas dengan bagus.
"Kalau untuk perang, maka yang mengurusi laut itu adalah datuk laksamana, tapi yang mengurusi pantai saat damai, termasuk pajaknya adalah datuk bendahara," kata penyair 'Si Burung Merak' itu.
Advertisement
Sementara untuk mengurusi keselamatan kapal, gudang dan menentukan layak tidaknya kapal berlayar adalah datuk syahbandar. Semua datuk itu bertanggung jawab pada raja sehingga tidak ada tumpang tindih.
"Kemudian ada orang Malaka bernama Dipati Unus yang datang ke tanah Jawa dan menerapkan sistem pengelolaan laut itu di Demak. Dia kemudian menjadi syahbandar di pelabuhan Demak. Itu juga kemudian diikuti pelabuhan lain di Jawa," katanya.
Penjelasan Rendra mengenai itu mendapatkan simpati dan rasa kagum pengamat ekonomi Ichsanudin Noersy. Ia menganggap, ingatan Rendra di usia 70 tahun masih sangat bagus, padahal tidak banyak profesor dengan usia sama yang memiliki ingatan cemerlang seperti itu.
"Apalagi ini mas Willy berbicara di luar dari konteks keahliannya, tapi begitu lengkap dan menukik ke dalam," katanya.
Seminar yang juga peluncuran buku Hadir dan Mengalir berisi kumpulan komentar sahabat Rendra itu mengahdirkan sejumlah pembicara, seperti penyair D Zawawi Imron, peneliti ekonomi Imam Sugema, tokoh NU KH Sholahuddin Wahid, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri dan lainnya.
Mengenai pemilihan topik maritim dan UKM, Willy menceritakan bahwa dirinya meminta kepada panitia agar tidak menformat perayaan ulang tahunnya dengan kegiatan pesta-pesta karena tidak layak untuk kondisi bangsa seperti saat ini.
"Kalau karena lapar kemudian disediakan makan minum, tidak apa. Terus saya berpikir bahwa masalah maritim dan UKM kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk rencana pembangunan jangka panjang," katanya.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
(*/erl)
Advertisement










































