Garin Nugroho: TV Menjadi Mimbar Besar Semua Persoalan

Kapanlagi.com - Sutradara film yang juga pengamat komunikasi, Garin Nugroho mengemukakan, televisi (TV) di Indonesia saat ini telah menjadi mimbar besar semua persoalan yang sangat diminati masyarakat, mulai politik, agama dan sosial.

"Saat ini, mimbar-mimbar agama apapun sudah pindah ke televisi. Dakwah subuh lebih diminati daripada dakwah di masjid-masjid. Di televisi kan pelawaknya banyak, kalau di masjid kan cuma satu," katanya pada acara diskusi dan bedah dua buku karya Garin di Surabaya, Jumat.

Bedah buku berjudul "Opera Sabun SBY: Televisi dan Komunikasi Politik" serta novel "Rindu Kami Padamu" yang diselenggarakan toko buku Toga Mas Surabaya itu juga mendatangkan Dr Zainuddin Maliki (Direktur Kajian Politik dan Sosial Surabaya sekaligus Rektor Unmuh Surabaya).

Selain itu, katanya, televisi saat ini menjadi "buku" sejarah dari tokoh-tokoh seperti Amien Rais, Megawati, Gus Dur atau Akbar Tanjung bagi anak-anak yang tidak ada dalam buku-buku teks di sekolah.

Pada kesempatan itu, Garin mengemukakan panjang lebar tentang peran dan dampak televisi bagi masyarakat dan politik. Bagi masyarakat, televisi di Indonesia membawa dampak buruk karena hanya mementingkan rating tanpa memperhatikan etika.

"Televisi kita hanya mengambil prinsip rating dari luar negeri, tapi tidak mengambil syaratnya, yakni etika. Ini sebetulnya tidak pantas. Padahal tidak ada program televisi yang bermutu tanpa adanya etika," kata sutradara yang telah menghasilkan film-film bermutu namun tidak terlalu laku di pasar dalam negeri.

Ia kemudian menganalogikan program televisi yang hanya mengejar rating dengan seorang guru yang membawa dua buku ke dalam kelas, yakni Matematika dan buku purno. Yang dipastikan lebih menarik minat siswa untuk dibaca adalah buku purno.

"Film saya, `DAUN DI ATAS BANTAL` di Eropa diputar di atas jam sebelas malam karena di sana film saya dianggap ada kata-kata yang kotor untuk ditonton anak-anak," kata pria kelahiran Yogyakarta itu.

Di dunia politik, ujarnya, televisi telah memberi andil sangat besar bagi kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden pada pemilu yang lalu.

Ia menyatakan, televisi telah berhasil menampilkan Yudhoyono sebagai sosok yang menjadi harapan bagi masyarakat, dengan menampilkan kelebihannya, antara laun dari sisi fisik, cara berbicaranya yang singkat dan padat, ditunjang suara dan bahasa tubuh yang bagus.

Sementara Zainuddin Maliki mengemukakan, peran televisi dalam pemilu yang lalu telah melebihi peran tim sukses Yudhoyono sendiri. Ia mengemukakan, Jatim yang merupakan basis PKB dan sebagian PDIP, namun ternyata Yudhoyono unggul daripada Megawati yang didukung PDIP dan Wiranto yang didukung Golkar dan PKB.

"Waktu itu tim sukses Yudhoyono malah dipecat dan diganti oleh tokoh sepuh Pak Moergito karena dianggap gagal. Jadi peran televisi memang besar sekali bagi kemenangan Yudhoyono," katanya.

(*/dar)

Rekomendasi

Trending