INDONESIA

[Review] 'FALLIN' IN LOVE', Umbar Sisi Sinetron Dalam Film

Kamis, 20 September 2012 02:20  | 

Mikha Tambayong


[Review] 'FALLIN' IN LOVE', Umbar Sisi Sinetron Dalam Film
Foto: BIC Production

KapanLagi.com - Oleh: Adi Abbas Nugroho

Di tengah menjamurnya Hallyu wave, wabah berbau Korea tak hanya berlaku di industri musik saja, namun juga film. Kali ini Findo Purwono hadirkan drama percintaan remaja yang gunakan template romansa Korea beserta atributnya.

Sayangnya, template tersebut benar-benar tak membantu film ini untuk tampil wah atau menjadi berbeda. Alim Sudio sebagai penulis naskah menjadikan FALLIN' IN LOVE teramat klise. Tak ada usahanya jadikan produksi terbaru Mitra Pictures dan BIC Production ini sebagai sajian remaja ringan yang memiliki isi. Bahkan, unsur Korea yang ada pun hanya hadir sebagai tempelan saja.

FALLIN' IN LOVE disajikan dengan kering dan sangat sinetron. Terlebih dari jajaran pemain inti yang memang berkutat di hidangan layar kaca ber-season season itu. Sudah, semakin mantap saja bila film ini lebih pantas disaksikan lewat televisi ketimbang layar lebar.

Karena selain filmnya yang seringan kapas, Findo juga mengarahkan para pemain tanpa memiliki keterikatan satu sama lain. In fact seharusnya akting tersebut bisa menjadi kekuatan tersendiri ketika film mencoba hadirkan kisah cinta segitiga yang (maunya) pelik.

Pada awal film, Mikha Tambayong tampil begitu mengikat sebagai Larasati. Namun semakin lama durasi berjalan, aktingnya terlihat semakin mengganggu.

Hal serupa juga dilakukan oleh Agesh Palmer dalam debutnya. Sebagai sosok antagonis bernama Nita, Agesh terlihat begitu sinetron dan mengganggu ketika memerankan karakter kakak kelas ini.

Adly Fairuz yang diplot sebagai tokoh utama laki-laki pun juga gagal tampil cemerlang. Malah Boy William, yang hadir sebagai pihak ketiga, mampu berakting dengan sangat baik di saat drama romantis ini semakin terpuruk.

Jika ada yang patut diapresiasi dari FALLIN' IN LOVE mungkin hanya, ya, sinematografi dan pemilihan lokasi yang sangat memanjakan mata. Setelah itu, entahlah, film ini akan mudah dilupakan begitu menginjakkan kaki keluar bioskop.

And then tak bisa disalahkan bila penonton tak akan peduli bagaimana ending film yang sudah bisa ditebak hanya dari melihat posternya ini. Bahkan sedikit twist yang ada pun tak memiliki banyak arti.

Lagi, sinetron dihadirkan dalam bentuk layar lebar.

(kpl/abs)




Komentar