CLOSE

5 Ciri Kepribadian Anak yang Tumbuh Penuh Kritik Orang Tua, Waspadai Bahayanya

5 Ciri Kepribadian Anak yang Tumbuh Penuh Kritik Orang Tua, Waspadai Bahayanya
Ciri Kepribadian Anak yang Tumbuh Penuh Kritik Orang Tua. (peoplecreations/Magnific)

Kapanlagi.com - Kalimat seperti “Kok cuma dapat segini?” atau “Lihat anak tetangga” sering keluar di rumah tanpa niat menyakiti. Namun anak mengingat kalimat itu bertahun-tahun. Kepribadian anak yang tumbuh penuh kritik orang tua ikut dibentuk oleh kata-kata yang terdengar setiap hari, lalu terbawa ke sekolah, kantor, dan pertemanan sampai usia dewasa nanti.

Banyak orang dewasa baru menyadari pola ini setelah bertahun-tahun berlalu. Mereka sering ragu saat mengambil keputusan, gelisah ketika ditegur, dan merasa hasil kerjanya tidak pernah cukup. Semua itu terasa seperti sifat bawaan, padahal sebagian berasal dari cara mereka dinilai di rumah saat masih kecil dulu, dan jarang ada yang mengaitkannya.

Berikut ini adalah beberapa ciri kepribadian anak yang tumbuh penuh kritik orang tua yang dirangkum KapanLagi.com dari berbagai sumber, Selasa (28/9/2026). Yuk simak ulasan selengkapnya di bawah ini dan temukan kenapa kritik berlebihan ke anak bisa membawa pengaruh negatif terhadap mereka.

1. Kurang Percaya Diri

Kurang Percaya Diri. (Magnific/Magnific)

Kurang percaya diri sering menjadi tanda awal. Anak yang lebih sering dikoreksi daripada dipuji belajar menilai dirinya dari kesalahan. Ia mulai yakin bahwa kemampuannya tidak cukup, lalu ragu mengangkat tangan di kelas, menolak tugas baru, atau menunda mencoba hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Pola ini terbentuk pelan-pelan dari pengalaman berulang.

Studi longitudinal Dandan Cheng dan rekan-rekannya di jurnal Frontiers in Psychiatry membahas kaitan antara pola asuh dan harga diri anak. Para penulisnya menyebut bahwa hukuman, sikap kasar, dan penolakan dari ibu “dapat menghambat” tumbuhnya harga diri. Artinya, cara orang tua merespons anak setiap hari ikut menentukan cara anak menilai dirinya sendiri. Penelitian semacam ini penting dibaca orang tua.

Pengaruhnya tidak berhenti di masa sekolah. Orang dewasa dengan pola ini bisa saja menunggu persetujuan orang lain sebelum bertindak dan meremehkan hasil kerjanya sendiri. Mengenali kebiasaan tersebut membantu seseorang memisahkan penilaian orang tua di masa lalu dari kemampuan yang ia miliki sekarang, lalu mulai menilai dirinya dengan data terkini. Prosesnya butuh waktu.

2. Perfeksionis dan Takut Salah

Sebagian anak menjawab kritik dengan menghindari semua kesalahan. Mereka memeriksa pekerjaan berulang kali, menunda menyerahkan tugas, dan merasa hasilnya belum cukup meski sudah mendapat nilai bagus. Dari luar mereka terlihat rajin, tetapi di dalam ada rasa takut akan teguran yang bisa datang kapan saja. Kebiasaan ini sering dimulai sejak usia sekolah.

Goran Livazović dan Karla Kuzmanović, dalam studi mereka yang diterbitkan di World Journal of Clinical Cases, merangkum bahwa kritik orang tua yang dirasakan anak menjadi “prediktor kuat dari rasa khawatir akan kesalahan dan keraguan pada kemampuan diri”. Artinya, rasa takut salah berkaitan dengan cara anak merasakan penilaian orang tuanya di rumah.

Di usia dewasa, pola ini bisa muncul di tempat kerja. Seseorang lembur demi merapikan detail, atau enggan menyerahkan hasil sebelum yakin tidak ada cela sedikit pun. Belajar menetapkan batas “cukup” dan menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari proses dapat mengurangi beban tersebut dari hari ke hari. Perubahan kecil pun sudah berarti.

3. Sering Menyalahkan Diri Sendiri

Sering Menyalahkan Diri Sendiri. (jcomp/Magnific)

Ciri berikutnya adalah kebiasaan menyalahkan diri sendiri. Saat gagal, orang dengan pola ini langsung berkata “Aku memang tidak bisa” atau “Ini salahku”, bahkan ketika masalahnya datang dari faktor lain. Suara itu terdengar mirip nada orang tua yang dulu sering menegur di rumah, hanya kini ia ucapkan sendiri. Kebiasaan ini melelahkan secara batin.

Tinjauan sistematis Kennedy-Turner, Nemeth, dan Anderson di jurnal Adolescent Research Review memuat 20 studi tentang kritik orang tua pada anak dan remaja. Para penulisnya menduga paparan kritik yang tinggi membuat anak “menginternalisasi suara kritis orang tua”, lalu sering mengkritik dirinya sendiri.

Menilai diri sendiri tetap berguna bila dipakai untuk belajar. Masalah muncul saat suara itu berubah menjadi hinaan yang terus diulang. Latihan sederhananya adalah bertanya, “Apakah aku akan berbicara seperti ini kepada teman?”, lalu mengganti kalimat tersebut dengan kalimat yang akan kita ucapkan kepada teman ketika ia mengalami hal yang sama. Latihan ini perlu diulang.

4. Takut Ditolak Orang Lain

Anak yang sering dikritik juga bisa tumbuh dengan rasa takut ditolak. Ia belajar bahwa perhatian orang tua datang ketika ia menurut dan hasilnya sesuai harapan. Di kemudian hari, ia lebih dulu menebak keinginan orang lain, menahan pendapat, dan sulit berkata tidak agar hubungan tetap terjaga dan tidak retak. Rasa takut itu terbawa lama.

Studi longitudinal Binxu Wang dan Yan Liu di jurnal Behavioral Sciences pada 1.432 remaja mengulas praktik orang tua yang memberi kasih sayang hanya bila anak patuh atau berprestasi. Menurut para penulis, praktik itu menempatkan remaja dalam “kondisi cemas terus-menerus akan penolakan dan penelantaran”, karena kasih sayang terasa bergantung pada perilaku anak, bukan pada dirinya.

Pola ini bisa terbawa ke hubungan dewasa, termasuk pertemanan dan pekerjaan. Orang yang takut ditolak sering menyetujui permintaan yang sebenarnya memberatkan. Berlatih menyampaikan pendapat dalam urusan kecil, seperti memilih tempat makan, dapat menjadi langkah awal untuk menyampaikan keinginan sendiri pada urusan yang lebih penting nanti. Langkah kecil yang konsisten lebih mudah dijalani.

5. Overthinking Setelah Menerima Kritik

Overthinking Setelah Menerima Kritik. (Magnific/Magnific)

Ciri terakhir adalah overthinking setelah menerima kritik. Satu komentar singkat dari atasan atau teman bisa diputar ulang di kepala sepanjang malam. Orang dengan pola ini mencari arti tersembunyi di balik kalimat, menyusun pembelaan yang tidak pernah diucapkan, dan menyalahkan diri atas hal yang belum tentu dimaksudkan lawan bicara. Tubuh ikut lelah karena kurang tidur.

Sam Bonduelle dan rekan-rekannya dari Belgia menguji 90 remaja berusia 14 sampai 17 tahun tanpa depresi. Mereka memperdengarkan rekaman yang meniru kritik orang tua. Hasilnya menunjukkan “peningkatan gangguan suasana hati dan pikiran yang berulang”.

Kebiasaan ini bisa dikelola. Saat pikiran mulai berputar, tuliskan kalimat yang memicunya, lalu pisahkan fakta dari tafsiran. Jika pikiran berulang mengganggu tidur atau pekerjaan, bicarakan dengan psikolog atau konselor. Tulisan ini berisi informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental. Meminta bantuan profesional bukan tanda kelemahan dan layak dicoba.

6. Tanya Jawab Seputar Kepribadian Anak yang Tumbuh Penuh Kritik Orang Tua

Apa dampak kritik orang tua terhadap kepribadian anak?

Kritik yang terus-menerus dapat memengaruhi cara anak menilai dirinya. Dampaknya bisa berupa kurang percaya diri, rasa takut salah, kebiasaan menyalahkan diri, takut ditolak, dan pikiran yang berputar setelah menerima kritik. Dampaknya berbeda pada setiap anak, dan kritik bukan satu-satunya faktor.

Apakah semua kritik dari orang tua berdampak buruk?

Tidak. Koreksi yang disampaikan dengan tenang, disertai penjelasan dan apresiasi, membantu anak belajar. Masalah muncul saat kritik datang terus-menerus dan membuat anak merasa dinilai, bukan dibimbing.

Apakah dampak kritik masa kecil bisa terbawa sampai dewasa?

Bisa. Kebiasaan yang terbentuk di rumah sering terbawa ke tempat kerja dan pertemanan, misalnya ragu mengambil keputusan, sulit berkata tidak, atau sulit merasa puas dengan hasil sendiri. Hasilnya berbeda pada setiap orang, dan pola ini bisa dikelola.

Bagaimana cara pulih dari kritik orang tua di masa kecil?

Langkah awalnya adalah mengenali pola dan sumbernya. Pisahkan penilaian orang tua di masa lalu dari kemampuan yang dimiliki sekarang, lalu ganti kalimat yang menyalahkan diri dengan kalimat yang akan diucapkan kepada teman. Jika pola ini mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan, konseling dengan psikolog dapat membantu.

Bagaimana cara orang tua mengkritik anak tanpa melukai?

Jelaskan kesalahan dengan tenang, sebutkan bagian yang perlu diperbaiki, cari solusi bersama anak, dan sampaikan juga apresiasi atas usahanya. Kritik yang menyasar perilaku, bukan pribadi anak, lebih mudah diterima.

(kpl/bim)

Rekomendasi

Trending