Warna Liturgi Jumat Agung dan Maknanya dalam Perayaan Pekan Suci
warna liturgi jumat agung (h)
Kapanlagi.com - Jumat Agung merupakan salah satu hari paling sakral dalam kalender umat Kristiani yang memperingati sengsara dan wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Dalam perayaan ini, warna liturgi Jumat Agung menjadi simbol visual yang mengandung makna rohani mendalam bagi seluruh umat beriman.[1]
Setiap warna dalam tradisi liturgi Gereja Katolik bukan sekadar dekorasi, melainkan sarana komunikasi iman yang telah berkembang selama berabad-abad. Pemilihan warna pada busana imam, kain altar, dan perlengkapan ibadah mengikuti ketentuan yang tercantum dalam General Instruction of the Roman Missal (GIRM).[3]
Menurut Britannica, Jumat Agung adalah "hari ketika umat Kristen setiap tahun memperingati penyaliban Yesus Kristus," dan sejak masa Kekristenan awal hari ini telah ditandai sebagai hari duka, tobat, serta puasa.[2] Dengan memahami warna liturgi Jumat Agung, umat dapat menghayati peringatan ini secara lebih mendalam dan penuh kesadaran.
Advertisement
1. Pengertian Warna Liturgi dalam Tradisi Gereja Katolik
Warna liturgi adalah rangkaian warna khusus yang digunakan pada busana suci dan perlengkapan ibadah dalam perayaan Gereja Katolik dan tradisi Kristen lainnya. Warna-warna ini diterapkan pada kasula imam, stola, kain altar, kerudung tabernakel, serta perlengkapan liturgi lain sesuai dengan momen perayaan tertentu dalam kalender gereja.[4] Menurut Catholic Encyclopedia, warna-warna yang disetujui oleh Gereja dalam hubungannya dengan ibadah publik disebut sebagai warna liturgi.[4]
Dalam Ritus Romawi, sejak masa Paus Pius V, terdapat lima warna dasar liturgi yang diakui secara resmi, yaitu putih, merah, hijau, ungu, dan hitam.[4] Selain itu, terdapat pula warna tambahan seperti merah muda (rose) dan emas yang digunakan pada kesempatan tertentu. Setiap warna memiliki simbolisme yang berakar pada Kitab Suci, tradisi apostolik, serta makna kultural yang telah berkembang sepanjang sejarah Gereja.[8]
Father Michael Witczak, profesor studi liturgi di Catholic University Washington dan mantan presiden North American Academy of Liturgy, menjelaskan bahwa "asal-usul warna berakar pada makna perayaan individual."[5] Pernyataan ini menegaskan bahwa warna liturgi bukan pilihan acak atau dekoratif semata, melainkan memiliki fungsi teologis yang penting. Dokumen GIRM 345 sendiri menyatakan bahwa keragaman warna bertujuan "memberikan ungkapan lahiriah yang efektif terhadap karakter misteri iman yang dirayakan."[3]
Pemahaman tentang warna liturgi membantu umat menyelami setiap musim dan perayaan dalam tahun liturgi dengan lebih bermakna. Dari warna putih yang melambangkan sukacita Paskah hingga warna ungu untuk masa tobat Prapaskah, setiap nuansa membawa pesan tersendiri. Dalam konteks Pekan Suci, pergantian warna liturgi menjadi penanda visual yang memandu umat melewati perjalanan iman dari sengsara menuju kebangkitan Kristus.[7]
2. Warna Liturgi Jumat Agung Adalah Merah
Dalam tradisi Gereja Katolik Ritus Romawi, warna liturgi yang ditetapkan untuk Jumat Agung adalah merah. Menurut pedoman resmi Konferensi Waligereja Amerika Serikat (USCCB), warna merah digunakan pada Minggu Palma, Jumat Agung, dan Hari Pentakosta, serta pada perayaan Sengsara Tuhan, pesta para Rasul dan Penginjil, dan peringatan para Martir.[1] Dalam buku Liturgi: Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi karya Emanuel Martasudjita, Pr. (2011), disebutkan bahwa warna merah juga kerap dipakai untuk mengenang para martir yang menumpahkan darahnya demi iman. Berikut penjelasan lengkap tentang makna dan penggunaan warna merah pada Jumat Agung.
- Simbol darah Kristus yang tercurah. Warna merah melambangkan darah yang dicurahkan Yesus di kayu salib demi keselamatan umat manusia. Pada Jumat Agung, umat Katolik memperingati sengsara dan wafat-Nya yang menjadi puncak pengorbanan kasih.[8]
- Lambang cinta kasih dan kebajikan. Sebagai warna api dan darah, merah merupakan simbol kasih, kebajikan, serta keberanian. Warna ini mengingatkan umat akan cinta tanpa syarat yang ditunjukkan Yesus melalui penderitaan-Nya.[7]
- Simbol kemartiran. Merah juga melambangkan kemartiran, yaitu keberanian untuk mati demi iman. Yesus dipandang sebagai Martir Agung yang menyerahkan hidup-Nya bagi dunia, sehingga penggunaan warna merah pada hari ini sangat tepat.[8]
- Dikenakan pada busana pelayan liturgi. Warna merah digunakan pada kasula imam, stola, dan dalmatika diakon selama perayaan Jumat Agung. Kain altar dan elemen dekoratif lainnya juga menggunakan warna ini, meskipun altar biasanya dibiarkan kosong dan polos sebagai tanda duka.[4]
- Konsisten dengan perayaan Sengsara Tuhan lainnya. Selain Jumat Agung, warna merah juga digunakan pada Minggu Palma, hari Pentakosta, perayaan Darah Suci, serta pesta para Rasul dan Martir Santo.[1]
- Dasar hukum dalam GIRM 346. Ketentuan penggunaan warna merah pada Jumat Agung tercantum secara resmi dalam GIRM 346b yang menyatakan bahwa "warna merah digunakan pada Minggu Palma Sengsara Tuhan dan pada hari Jumat dalam Pekan Suci (Jumat Agung)."[3]
Baca juga: Ucapan Selamat Hari Jumat Agung Penuh Makna
3. Sejarah Warna Liturgi dari Abad ke-4 hingga Reformasi Modern
Tradisi penggunaan warna dalam liturgi Gereja Katolik tidak muncul secara instan, melainkan berkembang secara bertahap selama berabad-abad. Menurut catatan Catholic Encyclopedia, Paus Benediktus XIV menyatakan bahwa hingga abad ke-4, warna putih adalah satu-satunya warna liturgi yang digunakan secara umum.[4] Laman Terra Sancta Museum juga menjelaskan bahwa pada masa paleokristiani, pakaian liturgi tidak jauh berbeda dari pakaian sehari-hari warga Romawi, dan belum ada kodifikasi warna yang baku.[6]
Perubahan signifikan terjadi pada masa Paus Innocentius III (wafat 1216) yang mulai mensistematisasi penggunaan warna liturgi. Ia menyebutkan empat warna utama — putih, merah, hijau, dan hitam — sebagai warna yang berlaku umum, serta warna ungu sebagai tambahan.[4] Kodifikasi resmi kemudian dilakukan pada tahun 1570 melalui Ordo Missae yang dikeluarkan oleh Paus Pius V, yang menjadi instrumen kesatuan liturgi ekumenis bagi Gereja.[6] Sejak saat itu, penggunaan warna liturgi menjadi lebih terstandarisasi di seluruh dunia.
Khusus untuk Jumat Agung, sejarah warna liturgi mengalami perjalanan yang menarik. Sebelum reformasi, warna yang digunakan pada hari ini adalah hitam, bukan merah. Pada masa Misale Tridentina, vestmen hitam dikenakan saat bagian awal ibadat Jumat Agung, kemudian diganti dengan warna ungu untuk ritus Komuni Kudus.[4] Perubahan ke warna merah baru terjadi setelah reformasi Paus Pius XII pada periode 1951–1955, yang kemudian disempurnakan oleh Paus Paulus VI melalui Novus Ordo Missae pada tahun 1969.[6]
Pemilihan warna merah untuk Jumat Agung memiliki dasar teologis yang kuat. Warna ini dipilih karena asosiasinya dengan Sengsara Tuhan dalam konteks liturgi lainnya, seperti Pesta Darah Suci yang menggunakan vestmen merah.[4] Father Michael Witczak menambahkan bahwa "warna merah muda kemerahan mengingatkan pada Sengsara Tuhan" dalam konteks Prapaskah.[5] Dengan demikian, tradisi warna liturgi yang kita kenal saat ini merupakan hasil evolusi panjang yang tetap konsisten dalam maknanya selama lebih dari seribu tahun.[6]
4. Tiga Bagian Utama Perayaan Liturgi Jumat Agung
Jumat Agung adalah satu-satunya hari dalam tahun liturgi ketika Misa Kudus tidak dirayakan. Menurut Britannica, dalam Gereja Katolik Roma, meskipun Misa tidak diselenggarakan, sebuah liturgi khusus tetap dilaksanakan pada hari ini.[2] Ibadat ini biasanya dilangsungkan sekitar pukul 15.00, yakni waktu yang diyakini sebagai saat kematian Yesus. Liturgi Jumat Agung dimulai dengan imam dan diakon yang bersujud sepenuhnya (prostration) di hadapan altar dalam keheningan total, sebagai simbol kerendahan hati dan dukacita Gereja. Berikut tiga bagian utama perayaan liturgi Jumat Agung yang perlu diketahui.
- Liturgi Sabda (Liturgy of the Word). Bagian pertama mencakup pembacaan Kitab Suci, termasuk narasi Sengsara Tuhan menurut Injil Yohanes. Pembacaan ini merupakan tradisi yang telah ada sejak masa Gereja awal dan tercatat dalam dokumen Ordines Romani tertua.[2] Setelah pembacaan, imam menyampaikan homili singkat yang diikuti oleh Doa Permohonan Agung (Solemn Intercessions) untuk berbagai intensi, termasuk untuk Gereja, paus, dan seluruh umat manusia.
- Penghormatan Salib (Veneration of the Cross). Pada bagian kedua, sebuah salib yang terselubung kain dibuka secara bertahap sambil imam menyanyikan "Lihatlah kayu Salib, tempat tergantung keselamatan dunia."[2] Umat kemudian maju ke depan untuk menghormati salib dengan cara mencium, menyentuh, atau membungkukkan badan. Tradisi ini berakar dari praktik penghormatan Salib Sejati (True Cross) yang dilakukan di Yerusalem pada abad ke-4.[4]
- Penerimaan Komuni Kudus (Holy Communion). Bagian ketiga adalah distribusi Komuni Kudus menggunakan hosti yang telah dikonsekrasikan pada Misa Kamis Putih sehari sebelumnya. Sejak tahun 1955, umat awam juga diperkenankan menerima Komuni pada Jumat Agung, yang sebelumnya hanya diberikan kepada imam yang memimpin.[2] Setelah Komuni, altar dilucuti dan seluruh umat meninggalkan gereja dalam keheningan tanpa lagu penutup maupun bunyi organ.
Baca juga: Renungan Singkat Minggu Palma yang Menguatkan Iman
5. Daftar Warna Liturgi Selama Pekan Suci
Pekan Suci merupakan puncak tahun liturgi Gereja yang dimulai dari Minggu Palma dan berakhir pada Minggu Paskah. Setiap hari dalam pekan ini memiliki warna liturgi tersendiri yang mencerminkan nuansa spiritual perayaan masing-masing. Keuskupan Agung Boston menegaskan bahwa "warna liturgi membantu mengungkapkan secara lahiriah karakter khas misteri iman yang sedang dirayakan."[7] Berikut daftar lengkap warna liturgi selama Pekan Suci.
- Minggu Palma — Merah. Warna merah menandai pembukaan Pekan Suci dan pengenangan sengsara Yesus. Warna ini digunakan karena pada Minggu Palma, Gereja mulai memfokuskan perhatian pada kisah sengsara Kristus yang mengarah pada penyaliban.[1]
- Senin, Selasa, Rabu Pekan Suci — Ungu. Tiga hari ini masih merupakan bagian dari masa Prapaskah. Warna ungu melambangkan pertobatan dan persiapan rohani yang mendalam menjelang Tri Hari Suci Paskah.[7]
- Kamis Putih — Putih atau Emas. Warna putih melambangkan kemurnian, sukacita, dan kemuliaan. Pada Kamis Putih, Gereja mengenang Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya dan institusi Ekaristi serta Imamat.[1]
- Jumat Agung — Merah. Warna merah kembali digunakan untuk melambangkan darah Kristus yang tercurah di kayu salib. Penggunaan warna ini sesuai dengan ketentuan GIRM 346b yang menetapkan merah sebagai warna resmi hari Jumat dalam Pekan Suci.[3]
- Sabtu Suci — Tanpa Warna Liturgi (hingga Malam Paskah). Pada siang hari Sabtu Suci, Gereja dalam keheningan dan berkabung. Altar dibiarkan kosong dan tidak ada perayaan sakramen kecuali Sakramen Pengakuan Dosa dan Pengurapan Orang Sakit. Warna putih atau emas baru digunakan saat Vigili Paskah di malam hari.[1]
- Minggu Paskah — Putih atau Emas. Warna putih melambangkan terang kebangkitan Kristus yang mengalahkan kegelapan maut. Ini adalah puncak sukacita tahun liturgi yang merayakan kemenangan hidup atas kematian.[1]
Perlu dicatat bahwa tradisi warna liturgi dapat sedikit berbeda antardenominasi. Dalam tradisi Gereja Ortodoks Bizantium, misalnya, tidak terdapat sistem warna liturgi universal yang ketat seperti Gereja Katolik Roma. Tradisi Ortodoks umumnya hanya membedakan antara busana "terang" dan "gelap," sementara tradisi Koptik menggunakan warna hitam selama Pekan Sengsara.[4] Sementara itu, di beberapa gereja Protestan seperti Lutheran dan Metodis, altar dan gereja dibiarkan telanjang tanpa hiasan pada Jumat Agung, dengan beberapa komunitas menggunakan kain hitam sebagai tanda berkabung.[4]
6. FAQ
1. Apa warna liturgi Jumat Agung?
Warna liturgi Jumat Agung dalam Gereja Katolik Ritus Romawi adalah merah. Warna ini melambangkan darah pengorbanan Kristus di kayu salib serta kasih-Nya yang agung bagi keselamatan umat manusia. Penggunaan warna merah pada hari ini telah ditetapkan secara resmi dalam GIRM 346b.[3]
2. Mengapa warna merah dipilih untuk Jumat Agung?
Merah dipilih karena merupakan warna yang melambangkan darah, pengorbanan, dan kemartiran. Pada Jumat Agung, Yesus menderita, disalibkan, dan wafat di kayu salib — sehingga warna merah menjadi representasi visual paling tepat atas peristiwa tersebut. Warna ini juga digunakan pada perayaan Sengsara Tuhan lainnya.[8]
3. Apakah umat awam wajib memakai pakaian berwarna merah saat Jumat Agung?
Tidak ada kewajiban bagi umat awam untuk mengenakan pakaian berwarna tertentu saat Jumat Agung. Ketentuan warna liturgi hanya berlaku untuk para pelayan liturgi seperti imam, diakon, lektor, dan misdinar. Namun, banyak umat yang memilih menyesuaikan pakaian mereka sebagai bentuk partisipasi dalam semangat perayaan.[9]
4. Apakah warna hitam pernah digunakan pada Jumat Agung?
Ya, sebelum reformasi liturgi abad ke-20, warna hitam merupakan warna tradisional yang digunakan pada Jumat Agung. Perubahan dari hitam ke merah terjadi setelah reformasi Paus Pius XII (1951–1955) sebagai bagian dari penyederhanaan ritus liturgi secara keseluruhan.[4]
5. Apakah ada Misa pada Jumat Agung?
Tidak ada perayaan Misa Kudus pada Jumat Agung. Yang dilaksanakan adalah Ibadat Peringatan Sengsara Tuhan yang terdiri dari tiga bagian: Liturgi Sabda, Penghormatan Salib, dan Penerimaan Komuni Kudus.[2] Hosti yang diterima telah dikonsekrasikan pada Misa Kamis Putih sehari sebelumnya.
6. Apa perbedaan warna liturgi Jumat Agung dan Kamis Putih?
Kamis Putih menggunakan warna liturgi putih atau emas yang melambangkan kemurnian dan sukacita Perjamuan Terakhir, sementara Jumat Agung menggunakan warna merah yang melambangkan darah dan pengorbanan Kristus. Perbedaan warna ini mencerminkan perubahan suasana dari sukacita menjadi duka yang mendalam.[1]
7. Kapan Jumat Agung 2026 dirayakan?
Pada tahun 2026, Jumat Agung jatuh pada tanggal 3 April 2026. Perayaan ini merupakan bagian dari rangkaian Tri Hari Suci Paskah yang diawali dengan Kamis Putih (2 April), dilanjutkan Jumat Agung (3 April), dan dipuncaki oleh Vigili Paskah serta Minggu Paskah (5 April).[9]
Daftar Referensi
- USCCB. Understanding the Liturgical Colors. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.usccb.org/prayer-and-worship/liturgical-year-and-calendar/understanding-the-liturgical-colors
- Britannica. Good Friday | Christianity, Easter, Definition, History, Meaning, Traditions, & Facts. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.britannica.com/topic/Good-Friday
- Catholic Answers. Guidelines for Liturgical Colors During Year. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.catholic.com/qa/guidelines-for-liturgical-colors-during-year
- New Advent Catholic Encyclopedia. Liturgical Colours. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.newadvent.org/cathen/04134a.htm
- Catholic Herald. What Do Liturgical Colors Mean? Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.catholicherald.com/article/columns/what-do-liturgical-colors-mean/
- Terra Sancta Museum. Green, White, Red, Black – How to Understand the Colours of the Roman Catholic Liturgy? Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.terrasanctamuseum.org/en/green-white-red-black-how-to-understand-the-colours-of-the-roman-catholic-liturgy/
- Archdiocese of Boston. Liturgical Colors. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.bostoncatholic.org/liturgical-colors-1
- Catholic Company. What Do the Different Liturgical Colors Mean? Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://www.catholiccompany.com/blogs/get-fed/what-do-the-different-liturgical-colors-mean
- Kapanlagi.com. Mengenal Istilah Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah. Diakses pada 31 Maret 2026, dari https://plus.kapanlagi.com/mengenal-istilah-kamis-putih-jumat-agung-dan-paskah-c95c7a.html
(kpl/fed)
Advertisement
D Academy 8
-
Prestasi Selebritis Valen DA7 dan Mila DA7 Raih Dua Nominasi AMI Awards 2026