INDONESIA

'BERBAGI SUAMI', Cerita Satir di Balik Kisah Poligami

Sabtu, 25 Maret 2006 16:30  | 

Nia Dinata







KapanLagi.com - 'BERBAGI SUAMI', film produksi terbaru Kalyana Shirap ini bertutur tentang poligami atau lebih tepatnya poligini, yakni berbagi suami dengan berbagai latar dan versi.

Film besutan sutradara Nia Dinata ini dibagi dalam tiga segmen yang masing-masing memberikan satu ide yang sama namun berlainan versi dimana ketiganya dipertemukan lewat sejumlah potongan adegan-adegan yang kemudian diperluas di akhir cerita.

Segmen pertama menceritakan latar keluarga poligami yang terjadi di lingkungan keluarga berpendidikan tinggi. Pak Haji (El Manik), seorang pejabat yang memiliki istri pertama, Salma, (Jajang C. Noer), seorang dokter ahli kandungan. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai seorang putra, Nadin (Winky Wiryawan) yang digambarkan sebagai anak baik dan berbakti kepada orang tua, namun sangat menentang poligami. Dalam film ini Nadin digambarkan mendukung ibunya dan kerap berseteru dengan ayahnya yang telah menikahi seorang perempuan yang lebih muda yang salah satunya diperankan Nungky Kusumastuti.

Dalam segmen pertama ini sosok dua istri Pak Haji yang lain adalah seorang wanita karir dan aktivis (penggambaran sebagai seorang aktivis hanya terlihat dari dialog antara ia dan anak tirinya yang mewakili tentang aktivitas mereka).

Lalu ada Siti (Shanty), gadis lugu dari desa yang ingin mengubah nasib di ibukota. Kisah Siti sendiri dituturkan secara flashback, dimana dia tergiur datang ke Jakarta karena iming-iming seorang pria yang belakangan dipanggilnya Pak Lik (Lukman Sardi). Namun saat tiba di Jakarta Siti akhirnya menyadari bahwa bukan pekerjaan yang dia dapat, tapi justru sebuah kenyataan bahwa dirinya akan dijadikan istri ketiga. Sebagi istri ketiga Siti harus berbagi suami dengan dua istri pak Lik lainnnya.

Kekuatan perempuan yang hidup dalam balutan poligami di segmen kedua terlihat dalam sebuah gambaran dari Sri, istri pertama (Ria Irawan) yang memiliki rumah dan semua perabotan dari rumah yang selama ini mereka huni. Namun Sri juga menunjukkan banyak kelemahan, seperti ketidakmampuannya menolak larangan suami untuk ikut KB.

Cerita poligami yang terjadi di tengah lingkungan pemukiman kumuh ini terlihat makin kuat saat terjadi hubungan spesial antara istri kedua Dwi, (Rieke Dyah Pitaloka) dan istri ketiga, Siti. Ketidakbahagiaan menjalani hidup sebagai istri yang harus berbagi belaian dan menunggu giliran saat berhubungan seks ini secara perlahan menumbuhkan perasaan senasib di antara mereka. Dari sempitnya kasur yang mereka tiduri setiap hari, akhirnya benih kasih dan cinta tumbuh di antara Sri dan Dwi. Mereka mencoba mewujudkan diam-diam, tanpa ketahuan, bahkan berniat pergi dari rumah menuju ke sebuah tempat dimana hanya mereka berdua bersama dua anak Dwi yang masih balita akan menghabiskan hari.

Adegan ketiga bertutur tentang perempuan Tionghoa, Ming (Dominique), gadis pelayan restoran Chinese Food. Ming adalah perempuan cantik yang membuat banyak pria jatih cinta. Namun Ming lebih memilih menaruh hatinya untuk Koh Abun (Tio Pakusadewo), pria yang sudah memiliki seorang istri Linda (Ira Maya Sopha). Meskipun Koh Abun sangat mencintai Ming, namun dirinya tak bisa menceraikan Linda karena baginya istrinya adalah pendatang hoki bagi usahanya.

Kenyataan ini membuat Ming memilih memanfaatkan Koh Abun dan mengambil materi sebanyak yang dia bisa, paling tidak untuk membuat cita-citanya sebagai bintang film terwujud sekaligus menjauhkan dirinya dari himpitan masalah ekonomi.

Secara keseluruhan, film satir ini ingin memberikan pesan bahwa hubungan poligami dalam, berbagai versi ini sama sekali tak menawarkan kenyamanan hidup, meskipun Nia lebih menampilkannya secara tersurat. (rit)