INDONESIA

[Review] 'LA TAHZAN', Romansa Segitiga Bersetting Jepang

Sabtu, 03 Agustus 2013 12:21  | 

Joe Taslim


[Review] 'LA TAHZAN', Romansa Segitiga Bersetting Jepang
Foto: Falcon Pictures

KapanLagi.com - Oleh: Adi Abbas Nugroho

Jepang menjadi tempat impian bagi Viona (Atiqah Hasiholan) dan Hasan (Ario Bayu) yang telah bersahabat cukup lama. Namun karena sebuah masalah, Hasan meninggalkan Ona ke negara tersebut tanpa kejelasan mengenai harapan akan hubungan mereka.

Setelah menimbang-nimbang, Ona pun bertolak ke Osaka untuk mengikuti program belajar sambil arubaito (bekerja paruh waktu). Selain melanjutkan S2, gadis ini membawa pesan khusus untuk lelaki yang pergi membawa hatinya.

Saat dalam perjalanan mecari Hasan, Ona bertemu dengan penduduk lokal bernama Yamada (Joe Taslim) yang mempunyai darah Indonesia. Sikap baik Yamada ternyata berhasil merebut hati gadis ceria ini. Namun saat Hasan kembali ke hadapan Ona, mampukah dia menentukan lelaki mana yang pantas mewarnai hidupnya?

Romansa besutan Danial Rivki satu ini awalnya berjudul Orenji. Diadaptasi dari salah satu cerpen berjudul Pelajar Setengah TKI karangan Ellnovinaty Nine yang tergabung dalam antologi La Tahzan For Students terbitan 2011.

Sama seperti produksi Falcon Pictures sebelumnya bertajuk HELLO GOODBYE, LA TAHZAN tidak sekadar menjadikan template Jepang sebagai tempelan. Osaka dan beberapa kota yang ter-capture apik dalam film berdurasi 98 menit itu berhasil dijadikan nyawa. Tidak hanya bersinergi dengan jalan cerita, budayanya yang kental pun ikut tertanam.

Namun sayang, kelebihan setting tidak sekuat cerita ketika durasi menuju pertengahan. Dari romansa segitiga, film mendadak berubah menjadi religi. Perpindahan ini terasa tidak smooth karena dijabarkan tanpa keterangan di awal film.

Contohnya kenapa tiba-tiba Ona mempermasalahkan soal agama padahal background keluarga terlihat tidak begitu kuat memusingkan hal itu. Belum lagi penampilan Ona yang mendadak berkerudung dan serba tertutup semenjak dilamar oleh Yamada. Mungkin, bila dijabarkan sejak awal, penonton akan dengan mudah memaklumi.

Untungnya, LA TAHZAN diramaikan oleh akting para pemain yang memuaskan. Meski awalnya terlihat begitu keras menjadi gadis lemah lembut dan naif, Atiqah Hasiholan berhasil mencuri perhatian lewat peran Viona yang diembankan padanya. Pun dengan Joe Taslim yang begitu meyakinkan dengan gestur penduduk Jepang.

Pemilihan judul LA TAHZAN dan diselipkannya lagu Ustaz Jeffry Al Buchori memang terkesan sangat memaksa karena mengaburkan filosofi Orenji yang tertanam kuat dalam ceritanya. Namun film yang naskahnya ditulis oleh Jujur Prananto ini berhasil memikat hati dengan romansa segitiga, setting memabukkan serta karakterisasi yang unik. Sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.

(kpl/abs)