'DODGEBALL : A TRUE UNDERDOG STORY' : Pertandingan yang Penuh Kelucuan

KapanLagi.com - Dalam DodgeBall: A True underdog Story ini, Ben Stiller kembali berperan sebagai penjahat komedi yang dasyat, setelah tiga tahun lebih berperan dalam film dewasa yang membosankan , kali ini dia berperan menjadi guru fitness yang memberikan dorongan dan variasi yang sangat lucu. Tak seorang pun akan dapat dibayangkan sebagai seorang pria narisisisme dengan keganasan seperti itu, dan Stiller memerankanya dengan sangat bagus, sebuah komedi ringan yang berisi pembalasan dendam yang penuh riang gembira.

Perannya sebagai White Goodman dengan sifat yang mencolok, memakai produk kecantikan sebuah pembuktian diri yang fanatik, memakai blow-dry dan berkumis Fu Manchu dan menyukai setelan santai berwarna putih yang mengerikan. Dengan teriakan seorang pelatih berbaris yang pseudomacho. Membuat kekasaran pada pada seorang wanita, dia tetap dengan bahagia tak terusik ketika seorang wanita muntah dari mulutnya. Dia berkata dengan keras:"Di beberapa kebudayaan, mereka hanya makan muntahan. Aku membaca tentang itu di buku".

Sekali lagi karung seberat 600 pon yang berisi lapisan lemak, Si Putih>, saat dia sendiri di kantornya, berlatih terapi perawatan diri dengan menyambungkan elektroda ke puting susu dan melatih dirinya sendiri untuk melawan godaan makanan junk foods. Sebelum membuat perjanjian dengan seorang wanita cantik, dia mempergunakan sebuah pompa angin untuk menggembungkan selangkangnya agar menonjol besar.

Stiller, dengan perpaduan wajah antara geeky dan tampan, dan dengan badan yang gempal dibagian atas bahkan dengan pemandangan saat dia telanjang terlihat aneh dengan bentuk yang tidak serasi, menampilkan sesosok pria sombong dengan pengliatan X-ray yang membuat seseorang mengeliat dalam genggamanya. Si Putih dan jadi incarn gadis-gadis di dunia, seorang penguasa pusat perniagaan yang gemerlap, Globo Gym.

Sementara Peter La Fleur (Vince Vaughn), si tukang ngiler, seorang pria baik pemilik gym bernama Average Joe's, sebuah gym dengan sewa yang murah yang perlahan-lahan terancam bangkrut. Ketika seorang wanita cantik berambut pirang, pengacara bank yang bernama Kate Veatch mengancam akan mencabut gym miliknya kecuali jika dia dapat penghasilan $50.000 dolar dalam waktu cepat. Tetapi dengan daya tariknya Peter berhasil mengambil hati Kate dan membuatnya bergabung untuk menyelamatkan Average Joe's. Si-Putih merasa gatal untuk membeli gym yang hampir bangkrut itu dan menjadikanya sebagi bagian jaringan gym-nya.

Pencarian dana yang absurb dilakukan oleh Peter dan sahabat anehnya dengan mencoba keberuntungan untuk bersaing mendapatkan hadiah sebesar $50.000 dolar diturnamen dodgeball Las Vegas. Tidak jadi masalah kalau Average Joe's tidak berpengalaman dibidang olahraga. Untuk belajar ini mereka meminta seorang instruktur tahun 1950 yang seram bergaya seperti anak muda Patches O'Houlihan (Hank Azaria), dia seorang juara dodgeball yang legendaris. Pelatih mereka ini memberikan pelajaran yang digembar-gemborkannya sebagai "olahraga kekerasan, penurunan dan keburukan.

Sementara Itu, Si Putih memasang timnya sendiri, Purple Cobras , untuk betanding disebuah peristiwa yang digambarkan oleh seorang penyiar olahraga sebagai " sebuah peristiwa lebih besar daripada World Cup, World Series dan gabungan Perang Dunia ke dua.

Lo dan behold, si Tua Patches(Rip Torn) muncul di motorized wheelchair, agresinya tak berkurang, untuk melatih Average Joe's. Alat mengajar kesayangannya, yang dibawa dalam sebuah karung, berupa kunci inggris yang dilemparkannya dengan kecepatan penuh diatas kepala muridnya untuk menolong mereka menguasai hal-hal yang perlu dalam olahraga itu yang disebut dengan D's: dip,duck,dive dan dodge. Banyak kepala yang nanti terluka tetapi Average Joe's sudah belajar pelajaran mereka dengan baik.

Beberapa leluconnya kelihatan mungkin kurang bercita rasa , beberapa terbungkus dalam amplop, dan keduanya sama. Film ini kehilangan sedikit keriangannya saat menjelang masa playoffs.

Di babak pertama, saat Average Joe's menemukan jati dirinya berhadapan dengan tim Girl Scouts yang bersaing dengan keras, film bergerak dengan mulus ke puncak ketegangan lain.

Film ini yang lebih banyak mengambarkan para pecundang daripada sekawanan robotic sangat bagus untuk ditonton. DodgeBall dinilai PG-13 (Parents strongly cautioned) karena banyak memperontonkan kekasaran : lelucon dan humor seksual.

DodgeBall merupakan sebuah naskah menjanjikan yang ditulis dan disutradarai oleh Rawson Marshall Thurber (salah satu hasil karyanya merupkan iklan Reebok) mungkin ini sebuah lelucon tentang olahraga yang tolol, tetapi benar-benar menyuguhkan kelucuan yang segar. (erlin)

(kpl/erl)

Rekomendasi

Trending