'FAHRENHEIT 9/11' Olok-Olok Untuk Presiden Bush

KapanLagi.com - Ini adalah salah satu film yang sebaiknya ditonton setiap orang dalam tahun ini, apapun selera film anda atau pandangan politik anda, film dokumenter besutan Michael Moore,Fahrenheit 9/11 adalah daftar pertama yang disarankan patut ditonton.

Fahrenheit mungkin merupakan film yang provokatif, memberi kesenangan atau membelah para pemirsanya.Tetapi tak seorang pun yang akan bereaksi acuh tak acuh pada kejutan ini, menyedihkan sekaligus lucu menyaksikan administrasi dari Bush menangani terorisme dan perang Irak.

Ini merupkan satu gebrakan untuk dunia humor dan jurnalistik dari sutradara-penulis Moore yang paling 'nakal', paling berani, hal yang pling lucu yang ditujukan untuk menyerang aula orang paling kaya dan paling berkuasa.

Fahrenheit tentunya bukanlah kata terakhir untuk Presiden George W. Bush atau Irak. Ini Adalah kata dari Moore. Film ini merupakan sebuah subyek kontroversi, merupakan pernyataan pribadi, sebuah penentangan yang terus terang tentang apa itu sebenarnya perang.

Dariawal hingga akhir di Fahrenheit 9/11 Moore bercerita dengan suara yang jelas: nada yang santai seakan-akan sedang menceritakan sebuah lelucon yang menyenangkan, tak ada yang lebih membahagiakan daripada saat dia menunduk serta menanyai seseorang tentang kekuasaan yang luar biasa atau kemakmuran yang dirasakanya,dia dengan sengaja atau tidak, telah mengkhianati kepercayaan publik.

Dalam kasus ini, George W. Bush adalah bintangnya, dengan menggunakan cuplikan film kearsipan, yang dengan jeli diredaksi dan diceritakan di film ini. Diketengahkan bagaimana Bush kadang-kadang nampak sebagai seorang politikus gigih yang menarik dan disukai setiap orang, dengan gaya seorang anak yang mempesona semua orang. Tetapi juga menghancurkanya dengan sindiran yang kejam, menggambarkan bahwa Bush adalah seorang oportunis rendahan, dengan didukung oleh asuhan hak-hak istimewa dan sahabat-sahabat berduit dan, sampai suatu tingkat, terjebak dalam peristiwa-peristiwa yang seperti angin puyuh.

Yang membuat film ini menarik dengan cara yang sangat aneh adalah subyek dan pelukisan yang lucu, dimana membuat Bush dengan otomatis jadi pelawak di Fahrenheit 9/11 sedangkan Moore sendiri berperan sebagai pria yang baik. Tetapi ini merupakan sebuah komedi yang sangat gelap, terbenam dalam tragedi. Pada saat tertentu film ini terasa memelintir hati anda.

Itulah kekuatan Fahrenheit 9/11: sebuah cara untuk memecahkan emosi dan menyengat kita hingga tertawa terbahak-bahak serta dipenuhi kemarahan dan kesedihan.

Moore mengomentari tentang perselisihan pemilihan di Florida, ikatan yang kuat keluarga Bush dengan tambang minyak Arab Saudi, frekuensi waktu liburan yang dilakukan Presiden pada pra-9/11 dan disakitanya oleh keributan pada peristiwa 9/11. Lalu Moore dengan tanpa kenal belaskasihan mempersembahkan pengambilannya sendiri di Irak, sebuah konflik yang di matanya melahirkan ketakutan, penipuan dan kebingungan dan pertumpahan darah, kematian serta kepedihan, mencoreng impian Amerika dengan pengakuan sebagai pembelaan kebenaran.

Moore dengan jelas mempertanyakan alasan, tujuan dan 'nilai jual' dari perang dalam 9/11 dan, lebih dari semuanya, harga yang mengerikan baik di sumber penghasilan nasional maupun hidup manusia. Sebenarnya film ini tidak obyektif. Moore mengejek kelewat batas tanpa tanpa mempertanyakan pemikiran Bush tentang tindakanya, menjadikan presiden ini sebagai lelucon (baik sadar maupun tak sadar) dan, di satu titik, menjadikan Bush seperti tokoh utama film televisi Bonanza, beserta Cartwrightsnya, Dick Cheney, Donald Rumsfeld dan Tony Blair.

Selalu ada sebuah pesan kemanusiaan di sebalik pembuatan sebuah film berbentuk gurauan atau cerita yang sederhana sekalipun. Demikian juga dengan kisah mengharukan dari kalangan pekerja Amerika yang bergabung dengan angkatan perang besutan Moore -- menerbitkan kepedihan yang sangat tak diharapkan hanya karena kepandaian berpidato dari seorang presiden.

Bagi beberapa pemirsa, Fahrenheit 9/11 terlihat seperti sebuah propaganda dan bagi beberapa yang lain sebagai suatu modernisasi yang berapi-api. Tetapi satu yang tidak harus dibagi oleh Moore untuk dipertontonkan sebagi bagian untuk menghibur pemirsa. Pada bulan Mei lalu, Fahrenheit 9/11 menerima penghargaan (Palme d'Or). Film ini mendapat sambutan dan tepuk tangan paling panjang di sejarah Festival Film Cannes (selama 25 menit)--dan ini bukan bagian dari kata klise tentang antipati Perancis pada Amerika.

Judul Fahrenheit 9/11 diambil dari sebuah novel karya Ray Bradbury yang berkisah tentang masyarakat yang membakar buku yang futuristic berjudul Fahrenheit 451 (judul itu diambil dari suhu dari buku yang terbakar itu). Dan pada akhirnya, baik kelompok liberalis maupun konservatif -- dan beberapa kelompok politik yang ekstrim -- akan digelitik hatinya dan diperbaiki oleh film ini. Kelompok konservatif Amerika,khususnya, bisa merespon pada memori yang direkam Moore ini dengan menyebutnya sebagai idaman Amerika, jiwa nasional dan tradisi yang dia lihat telah diinjak-injak.

Selebihnya, ada sebuah kelugasan yang penuh keterusterangan dalam ulasan yang disampaikanya menjadikan Moore sebagai Mark Twain dengan tradisi skeptisme lucu Ameriika-nya. Dan, di sini, permainan lawakan dari Moore -- dimainkan seperti kegilaan yang biasanya dengan alur cerita mencoba menghadapi orang yang berkuasa dan tak terjangaku - memukul puncak yang paling tinggi. Seperti sedang melontarkan pertanyaan "Maukah anda bertingkah laku baik?" Bush sendiri membuat dirinya jadi lelucon dengan film yang dibuat Moore, seakan meneriakan , "Temukanlah pekerjaan yang lebih nyata!" Tak dapat disangkal, itu yang coba dikatakanya. (erlin)

(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)

(kpl/erl)

Rekomendasi
Trending