INTERNASIONAL

[Review] 'EVIL DEAD', Teror Banjir Darah

Jum'at, 10 Mei 2013 20:11  | 

Sam Raimi


[Review] 'EVIL DEAD', Teror Banjir Darah
Foto: Tristar




KapanLagi.com - Oleh: Adi Abbas Nugroho

EVIL DEAD merupakan horor masterpiece Sam Raimi hingga dikategorikan sebagai film cult untuk genrenya. Berpuluh tahun kemudian sineas muda asal Uruguay, Fede Alvarez, dipercaya sebagai sutradara dari remake yang kembali diproduseri oleh Raimi bersama Bruce Campbell dan Robert Tampert, dua nama besar di balik kesuksesan versi original.

Lima remaja berlibur di sebuah kabin di tengah hutan. Liburan itu juga digunakan oleh Mia (Jane Levy) sebagai upaya membebaskan diri dari ketergantungan narkotika.

Namun semua berubah saat salah satu dari mereka membuka Naturom Demento, sebuah buku kutukan yang membangunkan arwah kejam. Mimpi buruk pun siap meneror remaja-remaja tersebut.

Dengan plot yang sama (cenderung basi untuk ukuran film kini) serta beberapa perubahan di naskahnya, versi baru dari horor rilisan 1981 tersebut berhasil menjalankan misinya sebagai sebuah remake yang baik.

Alvarez, dengan skenario yang digarap olehnya bersama Rodo Sayagues dan Diablo Cody, mampu meracik EVIL DEAD terbaru menjadi lebih segar namun tidak melupakan unsur-unsur penting dari pendahulunya. Alhasil, selama satu setengah jam ke depan, ia sukses membuat penonton berteriak ketakutan, ngilu, kaget bahkan mual karena treatment yang ditawarkan naik beberapa level.

Teror mencekam tersaji tanpa ampun setelah menit perkenalan awal yang bisa dibilang lumayan membosankan. Tapi tenang, lepas itu kesadisan brutal hingga hujan darah spontan akan membuat penyuka jenis tontonan seperti ini berteriak kegirangan.

Alunan musik dari Roque Baņos tak lupa membangun ketegangan demi ketegangan yang diumbar seolah tiada henti. Semua bersinergi dengan tone serta detail adegan sadis minim CGI yang akan membuatmu menutup mata.

Beberapa lini memang terlihat masih memiliki kekurangan. Seperti salah satu petikan dialog dalam SCREAM 4, "Don't fu*k with the original!", tak ada yang bisa menandingi versi original-nya. Tapi salut untuk Alvarez, yang merupakan seorang dead-fan, dalam upayanya menghormati sebuah karya yang sudah cukup dikenal.

(kpl/abs)