INTERNASIONAL

'THE CITY OF EMBER', Saat Kegelapan Datang Mengancam

Sabtu, 29 November 2008 09:13  | 

Bill Murray







KapanLagi.com - Pemain: Bill Murray, Tim Robbins, Saoirse Ronan, Toby Jones, Harry Treadaway, Miles Thompson, Rachel Morton, Eoin McAndrew

Selama berabad-abad, penduduk kota Ember tidak pernah menikmati indahnya sinar matahari. Kota itu selalu diliputi kegelapan abadi karena kota Ember sebenarnya berada di bawah tanah. Satu-satunya sumber cahaya adalah bola-bola lampu yang selalu menerangi kota ini.

Suatu ketika, bola-bola lampu yang selama ini tak pernah redup atau padam tiba-tiba saja mulai meredup. Kekhawatiran pun mulai meliputi warga kota. Mereka takut bila suatu saat sumber cahaya ini akan padam selamanya. Sementara untuk keluar dari batas kota, tidak ada seorang pun yang berani.

Dalam kepanikan ini, 2 orang anak Lina Mayfleet (Saoirse Ronan) dan Doon Harrow (Harry Treadaway) mulai mencari tahu penyebab redupnya lampu-lampu kota mereka. Mereka tak pernah tahu bahwa pencarian mereka ini akan membuka tabir misteri masa lalu kota Ember yang selalu diliputi kegelapan.

Ratusan tahun sebelumnya, para ilmuwan memutuskan untuk mengevakuasi beberapa orang untuk menghindar dari bencana yang datang menyapu permukaan bumi. Maka dibuatlah kota bawah tanah yang dirancang untuk sanggup bertahan hingga ratusan tahun dengan perkiraan bahwa setelah kota Ember tak lagi bisa 'hidup' maka keadaan di muka bumi sudah aman untuk ditinggali lagi.

Film fiksi ilmiah arahan sutradara Gil Kenan ini sebenarnya adalah visualisasi dari naskah novel karya Jeanne Duprau yang berjudul The City of Ember. Dan seperti pada kebanyakan film fiksi ilmiah yang diadaptasi dari novel, film ini gagal membuat visualisasi dari 'roh' cerita yang ada dalam novelnya.

Yang jadi masalah di sini adalah durasi film yang terlalu pendek (95 menit) tak mampu menggambarkan karakter yang ada dalam novelnya dengan cukup detail. Ini ditambah lagi dengan jumlah karakter yang cukup banyak sehingga kebanyakan dari karakter ini tak bisa benar-benar menjadi sebuah karakter yang utuh. Mungkin hanya para pemeran utama saja yang mendapat perhatian penuh dari penulis naskah, sementara sisanya cenderung hanya jadi tokoh yang hampa.

Masalah kedua yang terlihat adalah kurang 'digarapnya' akting para tokohnya sehingga dialog yang mereka bawakan seolah hanya sebuah naskah dan bukannya ungkapan dari sebuah perasaan. Untungnya beberapa pemeran seperti Bill Murray dan Saoirse Ronan cukup mampu menghidupkan peran yang mereka bawakan sehingga film ini jadi cukup bernilai.

Satu-satunya nilai lebih dari film ini bisa jadi adalah visualisasi kota bawah tanah benar-benar terlihat nyata. Setidaknya sepanjang film penonton dibuat merasa 'sesak napas' karena setting yang terasa sempit. Sang sutradara seolah tahu benar cara menggambarkan suasana di bawah tanah yang selalu diliputi kegelapan. Untuk sebuah hiburan, film berbudget US$38 juta ini sebenarnya cukup layak dijadikan tontonan untuk keluarga. (kpl/roc)