Film Dukun Korea: Panduan Menyelami Horor Mudang dari EXHUMA hingga THE WAILING

Film Dukun Korea: Panduan Menyelami Horor Mudang dari EXHUMA hingga THE WAILING
film dukun korea dan mengenal horor mudang (mydramalist.com)

Kapanlagi.com - Film dukun Korea semakin banyak diperbincangkan setelah kesuksesan EXHUMA (2024) yang membawa tema perdukunan Korea ke perhatian penonton global. Film yang mengangkat ritual, kepercayaan tradisional, dan unsur okultisme ini bukanlah genre baru, sebab kisah tentang mudang atau dukun Korea sudah menjadi bagian dari perfilman Negeri Ginseng sejak tahun 1970-an.

Bagi penonton yang baru mengenal genre ini melalui EXHUMA, ada banyak judul lain yang bisa menjadi pintu masuk untuk memahami dunia sinema horor Korea. Mulai dari THE WAILING (2016) hingga THE PRIESTS (2015), film-film tersebut menghadirkan pendekatan berbeda dalam menggambarkan ritual spiritual, konflik budaya, serta misteri yang berkaitan dengan dunia gaib.

EXHUMA sendiri mencatat pencapaian besar dengan meraih lebih dari 10 juta penonton di Korea Selatan hanya dalam 32 hari penayangan. Film tersebut kemudian menjadi film Korea terlaris sepanjang masa yang tayang di Indonesia. Kesuksesan itu kembali membuka perhatian terhadap genre film dukun Korea yang sebelumnya telah berkembang selama puluhan tahun.

1. Mengenal Perjalanan Film Dukun Korea dan Budaya Mudang

Dalam industri perfilman Korea, sosok mudang telah muncul dalam berbagai genre, mulai dari horor, thriller, hingga komedi. Perkembangan tersebut kemudian melahirkan istilah "musok film", yaitu subgenre film yang berfokus pada praktik perdukunan Korea.

Salah satu karya awal yang menjadi bagian penting dalam perkembangan genre ini adalah A SHAMAN'S STORY (1972). Film tersebut mengangkat kisah Mohwa, seorang mudang lokal yang menghadapi perubahan sosial ketika agama Kristen mulai menyebar di masyarakat Korea modern. Ceritanya diadaptasi dari novel karya Kim Dong-ree, salah satu novelis besar dalam sastra modern Korea.

Tradisi shamanisme Korea atau Muism menjadi elemen utama dalam banyak film bertema perdukunan. Dalam tradisi ini, mudang dikenal sebagai dukun yang melakukan ritual dan dipercaya dapat berkomunikasi dengan roh untuk tujuan tertentu, termasuk penyembuhan, bimbingan, maupun menghadapi kemalangan.

Mayoritas mudang dalam budaya Korea adalah perempuan. Peran tersebut juga menjadi salah satu aspek yang sering muncul dalam berbagai karya sinema Korea karena berkaitan dengan posisi perempuan dalam masyarakat pada masa lalu.

Kesuksesan EXHUMA menjadi salah satu momentum besar bagi genre ini. Film tersebut memperoleh pendapatan kotor sebesar US$84.095.030 dari 11.902.097 penonton secara global, menjadikannya film Korea terlaris tahun 2024 dan berada di posisi ketujuh sebagai film Korea terlaris sepanjang masa.

2. Tiga Film Dukun Korea yang Bisa Menjadi Awal Perjalanan Menonton

Bagi penonton yang ingin mengenal genre ini lebih jauh, ada beberapa film yang dapat menjadi pilihan awal. Masing-masing memiliki pendekatan cerita berbeda, mulai dari investigasi misteri hingga konflik spiritual.

THE WAILING (2016) menjadi salah satu film penting dalam genre horor Korea. Film yang ditulis dan disutradarai Na Hong-jin ini dibintangi Kwak Do-won, Hwang Jung-min, dan Chun Woo-hee.

Cerita berpusat pada seorang polisi yang menyelidiki rangkaian pembunuhan misterius serta penyakit aneh yang melanda sebuah desa terpencil. Penyelidikan tersebut dilakukan demi menyelamatkan putrinya dari ancaman yang tidak mudah dijelaskan.

Film ini dikenal dengan cerita yang berlapis dan unsur misteri yang kuat. THE WAILING juga mendapatkan skor 99% di Rotten Tomatoes.

Sementara itu, EXHUMA (2024) menghadirkan kisah tentang penggalian kuburan yang membawa konsekuensi mengerikan. Film horor Korea Selatan ini ditulis dan disutradarai Jang Jae-hyun dengan jajaran pemain seperti Choi Min-sik, Kim Go-eun, Yoo Hae-jin, dan Lee Do-hyun.

Film tersebut menggabungkan unsur misteri serta okultisme melalui cerita mengenai ritual dan kejadian supernatural yang berkaitan dengan sebuah makam.

Film lain yang dapat masuk daftar tontonan adalah THE PRIESTS (2015). Karya pertama Jang Jae-hyun ini mengangkat tema eksorsisme dengan perpaduan ritual pengusiran setan ala Katolik dan elemen perdukunan Korea.

Film tersebut juga menampilkan Park So-dam yang kemudian dikenal melalui film pemenang Oscar, PARASITE (2019).

3. Cara Memperluas Referensi Film Dukun Korea Setelah Tiga Judul Utama

Setelah mengenal film dasar seperti THE WAILING (2016), EXHUMA (2024), dan THE PRIESTS (2015), perjalanan menonton bisa dilanjutkan dengan berbagai judul lain yang masih berkaitan dengan tema perdukunan, ritual, maupun unsur supranatural Korea.

Pada tahap awal, penonton dapat mencoba film horor bertema perdukunan klasik seperti SVAHA: THE SIXTH FINGER (2019). Film ini membawa cerita tentang investigasi yang berkaitan dengan kelompok kultus dan shamanisme melalui sudut pandang detektif.

Pilihan lainnya adalah THE CURSED: DEAD MAN'S PREY (2021) yang memiliki unsur ilmu hitam serta menampilkan praktik perdukunan dari Korea dan Indonesia. Ada juga THE 8TH NIGHT (2021) yang mengisahkan perjalanan seorang biksu dan detektif dalam menghadapi kebangkitan iblis yang telah tersegel selama berabad-abad.

Selain film layar lebar, serial drama Korea juga memiliki sejumlah judul dengan tema dukun dan roh jahat. THE GUEST (2023) mendapatkan rating 8.7/10 di MyDramaList dan mengikuti kisah tiga pemburu roh jahat yang menghadapi fenomena bernama "Son".

Sementara itu, REVENANT (2023) bercerita tentang seorang mahasiswi yang menerima barang peninggalan dari ayahnya yang merupakan seorang dukun. Serial lain yang dapat ditonton adalah THE HAUNTED PALACE (2025), yang mengangkat kisah cucu seorang dukun terkenal yang berusaha menolak takdir spiritualnya.

Untuk penonton yang ingin memahami konteks budaya secara lebih dekat, dokumenter MUDANG garapan Park Ki-bok dapat menjadi pilihan. Film dokumenter tersebut dinarasikan oleh aktor Sol Gyung-gu dan mengikuti beberapa mudang perempuan ketika menjalankan upacara kematian serta menjadi perantara antara dunia manusia dan dunia roh.

Perjalanan menonton juga bisa dilanjutkan dengan karya lain seperti ALONG WITH THE GODS (2017-2018), film fantasi blockbuster yang diadaptasi dari webtoon dan mengangkat gambaran tentang alam baka Korea. Ada pula KPOP DEMON HUNTERS, film animasi yang memiliki kaitan dengan folklor Korea.

Dalam proses produksi EXHUMA, sutradara Jang Jae-hyun memilih menggunakan lokasi nyata dan efek praktis dibandingkan mengandalkan CGI. Pendekatan tersebut menjadi salah satu aspek teknis yang dapat diperhatikan ketika menganalisis film bertema horor Korea.

4. Kebiasaan Menonton yang Membantu Memahami Film Dukun Korea

Film dukun Korea memiliki pendekatan berbeda dibandingkan horor yang mengandalkan kejutan mendadak. Banyak karya dalam genre ini membangun ketegangan melalui atmosfer, simbol budaya, dan perkembangan cerita yang perlahan.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah tidak melewatkan subtitle. Istilah ritual, mantra, dan dialog spiritual dalam bahasa Korea memiliki peran penting untuk memahami alur cerita.

Penonton juga disarankan tidak terburu-buru meninggalkan film dengan durasi panjang. THE WAILING (2016), misalnya, memiliki durasi 156 menit dengan perkembangan cerita yang berjalan perlahan. Film tersebut menggunakan pendekatan slow burn dengan suasana yang menyerupai drama investigasi seperti MEMORIES OF MURDER karya Bong Joon-ho, termasuk penggunaan tempo santai dan palet warna cokelat basah.

Bagi pemula, menonton bersama teman dapat menjadi pilihan agar bisa berdiskusi setelah film selesai. Selain itu, memahami latar budaya mudang selama 15-20 menit sebelum menonton dapat membantu mengenali unsur cerita yang berkaitan dengan tradisi Korea.

Setelah menyaksikan sekitar 10-15 judul, penonton dapat mulai membuat catatan mengenai film yang sudah ditonton, memberikan rating pribadi, serta mencatat pola cerita yang ditemukan.

Beberapa format konten yang dapat dibuat dari pengalaman tersebut antara lain:

  • Thread Twitter/X mengenai perjalanan film dukun Korea dari era 1970-an hingga saat ini.
  • Video TikTok berdurasi 60 detik yang membandingkan ritual dalam beberapa film.
  • Artikel blog mengenai simbol budaya dalam satu film tertentu.
  • Podcast diskusi setelah menonton bersama komunitas.

5. Unsur Budaya yang Bisa Diamati Saat Menonton Film Bertema Mudang

Film dukun Korea tidak hanya berisi unsur horor, tetapi juga menghadirkan berbagai elemen budaya yang berkaitan dengan sejarah dan masyarakat Korea.

Salah satu elemen yang sering muncul adalah ritual gut, yaitu upacara shamanistik yang menjadi motif penting dalam berbagai cerita. Ritual tersebut kerap menjadi bagian dari adegan yang menggambarkan hubungan antara manusia dan dunia roh.

Penonton juga dapat memperhatikan konflik antara tradisi dan modernitas. Dalam sejumlah film Korea, mudang sering ditempatkan dalam posisi berhadapan dengan pengaruh budaya Barat atau perubahan masyarakat modern.

Aspek lain yang sering muncul adalah peran perempuan. Mayoritas mudang dalam budaya Korea merupakan perempuan, sehingga karakter mereka sering berkaitan dengan perjalanan menghadapi posisi sosial dan tradisi yang diwariskan.

Selain itu, terdapat konsep Han, yaitu perasaan kepahitan atau kesedihan yang diwariskan lintas generasi. Dalam sejumlah cerita, tugas mudang berkaitan dengan proses mendamaikan perasaan tersebut.

Bagi yang ingin menekuni genre ini secara lebih serius, memahami latar budaya Korea dapat membantu membaca simbol, karakter, dan konflik yang muncul dalam film.

6. Perkiraan Biaya Menikmati Film Dukun Korea Selama Enam Bulan

Menjadikan film dukun Korea sebagai hobi tidak membutuhkan biaya besar untuk memulai. Dengan akses internet dan beberapa platform streaming, penonton sudah dapat mengikuti berbagai judul bertema horor, misteri, hingga shamanisme Korea.

Perhitungan investasi selama enam bulan mencakup beberapa kebutuhan berikut:

Komponen

Biaya 6 Bulan

Langganan Netflix (6 bulan)

Rp 324.000

Langganan Vidio Premier (6 bulan)

Rp 300.000

Buku referensi budaya Korea (1-2 judul)

Rp 150.000

Biaya internet tambahan

Rp 0 (asumsi sudah berlangganan)

Total Investasi 6 Bulan

Rp 774.000

Dengan biaya tersebut, penonton dapat menyelesaikan setidaknya 15-20 film dan 3-4 serial, dengan masing-masing serial terdiri dari 16 episode. Jumlah tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun koleksi referensi film maupun membuat konten bertema sinema Korea.

Selain biaya langganan, durasi menonton juga dapat disesuaikan. Satu film umumnya membutuhkan waktu sekitar 2-2,5 jam, sedangkan satu episode drama membutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Film dukun Korea juga dapat dinikmati dengan berbagai pilihan situasi. Genre ini cocok ditonton sendiri maupun bersama kelompok dewasa usia 15 tahun ke atas, terutama ketika musim hujan karena suasana gelap dan suara hujan dapat menemani pengalaman menonton.

7. Dari Penonton Menjadi Kreator Konten Bertema Horor Korea

Ketika sudah memahami setidaknya 20 judul film dan mengetahui konteks budaya di baliknya, pengalaman menonton dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk karya kreatif.

Salah satu pilihan yang bisa dilakukan adalah membuat konten review film. Platform seperti TikTok dan YouTube Shorts menyediakan ruang untuk membahas film secara singkat dengan fokus pada niche tertentu, misalnya film horor Asia atau film okultisme Korea.

Pilihan lain adalah menulis artikel untuk blog atau media daring yang membahas perfilman Korea. Referensi tontonan yang luas dapat menjadi bahan untuk membuat ulasan maupun pembahasan mengenai unsur budaya dalam film.

Bagi yang tertarik dengan bahasa, komunitas penggemar juga membuka peluang sebagai penerjemah atau subtitle enthusiast. Pemahaman mengenai konteks budaya Korea dapat membantu proses penerjemahan konten.

Selain itu, hobi ini juga dapat dikembangkan melalui kegiatan nonton bareng atau nobar tematik. Acara tersebut dapat dibuat di kafe maupun co-working space dengan sesi diskusi setelah pemutaran film. Tiket masuk yang digunakan berkisar Rp 35.000-75.000 per orang, termasuk snack dan minuman.

Estimasi waktu untuk mulai menghasilkan dari aktivitas tersebut adalah 3-6 bulan setelah rutin membuat konten.

8. Platform dan Komunitas untuk Memperdalam Film Korea Bertema Dukun

Bagi penonton yang ingin berdiskusi atau mencari referensi tambahan, terdapat sejumlah komunitas daring yang dapat diikuti. Beberapa di antaranya adalah grup Facebook "Korean Movie Lovers Indonesia" dan "Drakor Addict Indonesia".

Untuk diskusi dalam bahasa Inggris, komunitas Reddit r/koreanfilm juga dapat menjadi tempat berbagi informasi mengenai film Korea.

Sumber lain yang dapat digunakan adalah Korean Film Council melalui database film dan artikel analisis berbahasa Inggris. Selain itu, channel YouTube Korean Film Council menyediakan trailer resmi serta wawancara dengan para pembuat film.

Untuk mengetahui rating dan ulasan penonton, platform MyDramaList juga dapat digunakan sebagai referensi, terutama untuk serial drama Korea bertema supranatural.

Sementara untuk akses tontonan legal dengan subtitle Indonesia, beberapa platform yang menyediakan pilihan film dan drama Korea antara lain:

  • Netflix
  • Vidio
  • Viu
  • WeTV
  • Disney+ Hotstar

Selain itu, Shudder juga memiliki koleksi horor khusus yang tersedia di beberapa wilayah.

(kpl/mda)

Rekomendasi

Trending