Produksi Drakor Turun 30 Persen, 12 Asosiasi Desak Kucuran Dana 1 Triliun Won

Ilustrasi drakor/Pexel.com
Kapanlagi.com - Industri drama Korea (drakor) tengah menghadapi krisis produksi. Sebanyak 12 asosiasi di bidang drama siaran meminta pemerintah dan parlemen Korea Selatan mempertimbangkan pembentukan sistem investasi dan dukungan jangka menengah-panjang senilai 1 triliun won atau sekitar Rp13,5 triliun.
Permintaan itu disampaikan dalam konferensi pers bersama di Korea Press Center pada 4 November 2026, yang dihadiri perwakilan asosiasi sutradara drama, hak pelaku pertunjukan siaran, sinematografer siaran, serta serikat pekerja kru siaran. Para asosiasi, termasuk Asosiasi Produser Drama Korea, menyebut basis produksi K-drama berada di ambang kehancuran dan menilai isu ini sebagai tantangan nasional yang menyangkut Hallyu dan perekonomian.
Advertisement
1. Produksi Drakor Turun, Apa Sebabnya?

Data Asosiasi Produser Drama Korea mencatat jumlah drama yang diproduksi di dalam negeri merosot sekitar 30 persen dalam dua tahun, dari 141 judul pada 2022. Di sisi lain, jatah tayang di tiga stasiun televisi terestrial menyusut dari 91 judul pada 2012 menjadi 32 judul pada 2023, dengan sebagian saluran bahkan menghentikan drama hari kerja.
Menurut asosiasi, penyebabnya berlapis: biaya produksi naik, kemampuan stasiun televisi untuk berinvestasi dan menyediakan slot tayang mengecil, sementara rumah produksi kesulitan mengamankan hak kekayaan intelektual (IP) dan pendapatan lanjutan.
Dampaknya mengancam lapangan kerja dan ruang berkarya. Kesempatan penulis pendatang baru menggarap karya kedua, pemeran pendukung mendapat peran utama pertama, atau kru pembantu debut sebagai sutradara hanya terbuka jika produksi konsisten. Basis produksi yang sudah runtuh, kata mereka, tidak otomatis pulih meski kondisi pasar membaik.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
2. Peran Drama bagi Ekosistem Hallyu
Para asosiasi menegaskan drama adalah konten penggerak ekspor Hallyu. Data Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan bersama Badan Promosi Pertukaran Budaya Internasional Korea mencatat total ekspor terkait Hallyu pada 2025 mencapai 18,975 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, ekspor barang konsumsi dan pariwisata menyumbang 8,788 miliar dolar AS.
Drama disebut sebagai medium utama di balik dampak ekonomi tersebut, sehingga pelemahan produksinya dinilai berisiko bagi ekosistem Hallyu secara keseluruhan.
3. Anggaran Turun, Ini Tiga Usulan Industri
Di tengah kondisi itu, dukungan anggaran pemerintah untuk sektor ini justru berkurang dalam rancangan anggaran 2027. Asosiasi menilai menaikkan pos anggaran secara terpisah tidak akan cukup untuk keluar dari krisis.
Karena itu, ada tiga tuntutan yang diajukan. Pertama, pemulihan jumlah produksi drama tahunan ditetapkan sebagai target kebijakan nasional, termasuk bagi karya berbiaya menengah-rendah dan beragam genre, bukan hanya proyek besar.
Kedua, pemerintah diminta sungguh-sungguh mempertimbangkan sistem investasi dan dukungan K-drama jangka menengah-panjang senilai 1 triliun won. Pemerintah diharapkan menyediakan dana pemantik untuk memulihkan siklus investasi, produksi, distribusi, pengembalian keuntungan, dan reinvestasi, serta menggandeng stasiun televisi dan platform OTT dalam negeri untuk menyiapkan jalur tayang. Periode pembentukan, komposisi sumber dana, dan mekanisme pengelolaan diusulkan dirancang bersama pemerintah, stasiun penyiaran, dan rumah produksi.
Ketiga, kementerian dan komisi terkait diminta mulai merancang sistem tersebut bersama pelaku lapangan, sementara parlemen diminta mempertimbangkan dukungan bagi karya berbiaya menengah-rendah dan tenaga baru dalam pembahasan anggaran 2027. Pihak industri berjanji ikut berbenah dengan merasionalisasi struktur biaya produksi dan menerapkan praktik produksi yang adil.
(kpl/fbi)
Advertisement
D Academy 8
- Fashion SelebritiPotret Seru Soimah di Dangdut Academy 8, Selfie Hingga Joget Bareng











































