Demi Mata Air, Paramitha Rusady Jadi Peneliti Capung

Selasa, 15 Desember 2015 06:52 Penulis: Rahmi Safitri
Demi Mata Air, Paramitha Rusady Jadi Peneliti Capung Paramitha Rusady © KapanLagi.com®/VJ Randy
Kapanlagi.com - Kakak beradik Ully Sigar Rusady dan Paramitha Rusady dikenal sebagai artis yang sangat peduli dengan lingkungan hidup. Berawal dari keprihatinan, terhadap air bersih, mereka berdua menggagas pembuatan sebuah film bertemakan penyelamatan mata air di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam film tersebut berjudul MY JOURNEY: MENCARI MATA AIR, Paramitha berperan sebagai peneliti capung. Seperti diketahui capung merupakan serangga yang menjadi indikator sebuah daerah memiliki kualitas udara, air dan alam yang sehat. Sebab di daerah seperti itulah mereka berkembangbiak.

"Kami sekeluarga emang main. Karena lebih mudah komunikasi. Keluarga sudah terbiasa. Saya jadi diri saya sendiri. Tanpa skrip. Kalau jadi orang lain mungkin tak bisa," ujar Ully melalui surat elektronik.

Ully akan membawa film ini ke festival-festival © KapanLagi.com®/Agus ApriyantoUlly akan membawa film ini ke festival-festival © KapanLagi.com®/Agus Apriyanto

Film yang disutradarai oleh Joko Nugroho itu sudah selesai syuting di beberapa daerah di Indonesia dan sedang dalam proses finishing. "Tinggal sedikit dubbing. Mudah-mudahan bulan ini bisa konferensi pers. Proses pengambilan gambar sendiri dilakukan di beberapa tempat di antaranya, Taman Nasional Halimun Salak, Bogor dan Taman Wisata Baluran, Situbondo/Banyuwangi. Melibatkan banyak sekali orang," terang Ully.

Film ini berkisah tentang usaha anak-anak untuk melindungi mata air dengan bahasa dan cara mereka. Drama keluarga yang dibalut petualangan dengan tema konservasi alam dan lingkungan hidup ini didedikasikan buat semua masyarakat Indonesia. Film ini juga mewakili para aktivis lingkungan hidup yang prihatin dengan keberadaan mata air yang hilang akibat kerusakan hutan di Indonesia.

"Bencana yang tidak kita sadari adalah punahnya mata air untuk keberlangsungan kehidupan. Film tentang lingkungan hidup, kelihatannya dokumenter karena asli, tapi diambil sedemikian rupa. Durasi film 1,5 jam. Maunya komersil tapi tetap bernilai edukatif. Rencana juga diikutkan ke festival film di luar negeri," tandas Ully.

(kpl/hen/pit)

Editor:

Rahmi Safitri


REKOMENDASI
TRENDING