Sineas Muda yang Patut Dilirik Penikmat Film Indonesia

Kamis, 15 Februari 2018 14:30 Penulis: Galuh Esti Nugraini
Sineas Muda yang Patut Dilirik Penikmat Film Indonesia Para sineas muda Indonesia (credit : instagram.com/wregas_bhanutejaeja, balaikita.com, purbanegara.com)

Kapanlagi.com - Seiring berkembangnya jaman, industri audio visual terutama film semakin menyeruak ke kalangan masyarakat. Film sendiri telah mendapat tempat di kalangan penikmatnya. Sehingga banyak anak muda yang mengarahkan ketertarikannya ke dalam seni audio visual. Tak heran sekarang banyak sineas muda yang mulai bermunculan.

Tidak kalah dengan para seniornya, kini sineas muda telah mampu memberikan kontribusinya terhadap dunia perfilman Indonesia. Dengan adanya wajah baru di perfilman Indonesia diharapkan mereka dapat menjadi angin segar akan karya-karya yang dibuatnya. Dari banyaknya sineas di Indonesia, berikut adalah beberapa sineas muda yang telah mendapatkan beberapa penghargaan di ajang kompetisi film.

1. Wregas Bhanuteja

Wregas Bhanuteja (credit : instagram.com/wregas_bhanuteja)Wregas Bhanuteja (credit : instagram.com/wregas_bhanuteja)

Raphael Wregas Bhanuteja, begitulah nama lengkap dari sutradara muda yang telah mendapatkan penghargaan dari beberapa film yang dibuatnya. Wregas mulai mengenal dunia film saat bersekolah di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Ketertarikannya ke dalam dunia perfilman membuatnya untuk melanjutkan kuliah di IKJ dengan mayor penyutradaraan. Di situ ia mulai mengasah kemampuannya membuat film-film pendek.

Film pendek pertamanya yang mendapat penghargaan di ajang bergengsi adalah film SENYAWA sebagai Best Short Film di Jogja-NETPAC Asian Film Festival di tahun 2012. Tidak sampai disitu Wregas terus memproduksi berbagai film pendek. Berikut adalah beberapa film pendek karya Wregas, seperti film LEMBUSURA yang mendapatkan penghargaan Best Short Film di Berlin International Film Festival 2015, film FLOATING CHOPINF yang mendapatkan penghargaan di Hongkong International Film Festival 2016, film LEMANTUN yang berhasil mendapatkan tiga penghargaan sekaligus di XXI Short Film Festival 2016, yaitu sebagai Film Pendek Fiksi terbaik, Film Pendek Fiksi Pilihan IMPAS, dan Film Pendek Favorit.

Tidak hanya itu, film LEMANTUN juga sukses meraih sebagai Film Pendek Terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2015, Film Pendek Terbaik, Piala Maya 2015 dan meraih posisi sebagai salah satu dari lima film terbaik Asia Micro Film Begonia Award di Linzhang, China pada tahun 2015.

Tidak kalah dengan film-film sebelumnya, film pendek terbaru Wregas yang berjudul PRENJAK juga berhasil mendapatkan beberapa penghargaan. Diantaranya Leica Cine Discovery Prize, Best Short Film, 55th Semaine de la Critique, Cannes Film Festival 2016, Cinema Nova Awards, Best Short Film, Melbourne International Film Festival 2016, Piala Citra, Film Pendek Terbaik, Festival Film Indonesia 2016, Silver Screen Awards, Best Short Film, Singapore International Film Festival 2016, dan Best Short Film, Prague Short Film Festival 2016. Dari film PRENJAK inilah mulai melambungkan namanya. Wregas menjadi sineas muda yang diperhitungkan di dalam perfilman tanah air.

Di film PRENJAK yang berdurasi 12 menit ini Wregas ingin mengangkat kebudayaan seks lama. "Namun dikaitkan konteks kekinian, bercerita tentang perempuan yang membutuhkan uang kemudian dia menawarkan teman kerjanya sebatang korek api dengan harga Rp10 ribu dan temannya dapat melihat salah satu bagian tubuhnya," kata Wregas kelahiran Jakarta 20 Oktober 1992 ini seperti yang dilansir di antaranews.com

2. Yosep Anggi Noen

Yosep Anggi Noen sutrada film 'Istirahatlah Kata-Kata'Yosep Anggi Noen sutrada film 'Istirahatlah Kata-Kata'

Yosep Anggi Noen sejak kecil telah menyukai dunia film. Berawal dari jarangnya keluarga lain yang tidak memiliki televisi, setiap ingin menonton mereka berkumpul dulu di rumahnya. Dari situ Yosep Anggi Noen kecil menangkap bagaimana sebuah pesawat televisi bisa memiliki kekuatan untuk menarik dan mengundang orang-orang. Pengamatannya di waktu kecil tersebut begitu membekas bagi dirinya sampai sekarang.

Sutradara yang lebih akrab disapa Anggi ini menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Komunikasi Universitas Gadjah Mada dan membentuk sebuah organisasi yang diberi nama Kelompok 56. Awalnya Kelompok 56 ini adalah sebuah komunitas teater di SMAN 3 Yogyakarta, tempat Anggi dulu bersekolah. Kemudian berubah nama menjadi 56 Films yang bergerak sebagai media ekspresi bagi beberapa orang pengagum film. Kini 56 Films menjadi salah satu production house di Yogyakarta yang sampai sekarang masih aktif memproduksi karya.

Film-film pendek yang diproduksi Anggi bersama 56 Films diantaranya adalah HUJAN TAK JADI DATANG (2009), A LADY CADDY WHO NEVER SAW A HOLE IN HOLE (2013), RUMAH (2015), dan LOVE STORY NOT (2015). Di dalam film A LADY CADDY WHO NEVER SAW A HOLE IN HOLE ini Anggi menjadi sutradara sekaligus penulis skenario. Penghargaan yang diraihnya melalui film ini diantaranya adalah Best Short Film di Short Short Film Festival & Asia (2014), film pendek terbaik di Festival Film Solo (2014) dan film pendek terbaik di Busan International Short Film Festival (2013).

Namun Anggi lebih dikenal publik saat menyutradarai film ISTIRAHATLAH KATA-KATA. Film produksi tahun 2017 ini bercerita tentang perjuangan penyair Wiji Thukul akan kesendirian dan rasa rindu terhadap keluarga di saat Wiji Thukul bersembunyi di Kalimantan. Riset ia lakukan lewat beberapa puisi dan tulisan dari Wiji Thukul. Film ini juga turut mendapatkan penghargaan antara lain dari Festival Film Indonesia, Usmar Ismail Award, dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Yang bisa kita cermati dari film garapan Yosep Anggi Noen ini bahwa hampir semua adegan dan detail didalam film berdasar pada realita. Bagi Anggi bagaimana kejadian yang biasa di kehidupan sehari-hari bisa di implementasikan menjadi sebuah adegan yang mendalam dan dapat menggoyahkan emosi penonton.

3. BW Purba Negara

BW Purba Negara mendapatkan award film terbaik pilihan juri dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 di film ZIARAHBW Purba Negara mendapatkan award film terbaik pilihan juri dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 di film ZIARAH

Nama BW Purba Negara mulai terkenal di kalangan dunia perfilman. Purba mulai meniti kariernya lewat film-film pendek yang disutradarainya baik itu film fiksi maupun dokumenter. Tidak kalah dengan sutradara muda lainnya, alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta ini juga diperhitungkan dalam kancah perfilman. Sudah banyak karyanya mendapatkan berbagai penghargaan nasional maupun internasional.

Inilah beberapa film pendek karya Purba yang telah mendapatkan penghargaan, yaitu JERAT ASMARA (fiksi/2015), DIGDAYA ING BEBAYA (dokumenter/2014), KAMU DI KANAN AKU SENANG (fiksi/2013), BERMULA DARI A (fiksi/2011), SAY HELLO TO YELLOW (fiksi/2011), dan MUSAFIR (dokumenter/2008).

Di tahun 2017 Purba baru saja menyelesaikan karya terbarunya yang berjudul ZIARAH. Film tersebut merupakan film panjang pertamanya. Bercerita tentang seorang nenek yang mencari makan suaminya yang hilang saat agresi militer Belanda II. Mbah Sri (tokoh utama) mencari makan suaminya karena ia ingin dimakamkan di sebelah makam suaminya. Film ZIARAH turut meraih prestasi dari berbagai penghargaan, seperti film terbaik pilihan juri dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, skenario terbaik dalam ajang ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, film terbaik dalam Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina dan skenario terbaik versi Majalah Tempo 2016.

4. Arie Surastio

Arie Surastio sutradara film POLAHArie Surastio sutradara film POLAH

Siapa yang tidak kenal dengan pria kelahiran Madiun 27 Juli 1985 ini, sejak kecil sudah memiliki ketertarikan terhadap gambar bergerak. Sineas asal Solo ini sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Tidak kalah dengan sineas muda lainnya, Arie juga patut diberikan apresiasi dari penghargaan-penghargaan yang ia raih.

Arie Surastio mulai dikenal lewat filmnya yang berjudul POLAH, sebuah film yang diproduksi tahun 2014. Film tersebut berdurasi 10 menit. Lewat film POLAH Arie mengajak penonton untuk memahami dunia mistis sebagai logika. Sebuah pola pikir alami dari bangsa ini dalam menyikapi dunia.

Kemudian di tahun 2016 Arie semakin produktif dalam pembuatan karya. Sebuah film pendek berjudul MUSIM BERPERGIAN dengan durasi 18 menit. Film ini menggambarkan sebuah kondisi persawahan yang semakin hari semakin sempit dan sepi.

Dari film MUSIM BERPERGIAN Arie sukses dan menembus penghargaan di kancah internasional. Arie berhasil menembus Pacific Meridian International Film Festival di Vladivostok, Rusia. Film tersebut masuk dalam nominasi The Best Short Film Award.

5. Wahyu Utami Wati

Uut berhasil memenangkan film dokumenter pendek terbaik di FFI 2017 Uut berhasil memenangkan film dokumenter pendek terbaik di FFI 2017

Sineas muda kali ini datang dari kalangan wanita bernama Wahyu Utami Wati. Kerap disapa Uut, dia terus memberikan eksistensinya di dunia film. Wanita kelahiran Wonogiri ini telah berkarya membuat video sejak berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Uut telah mendapatkan banyak pengalaman dari berbagai residensi yang diikutinya dalam skala nasional dan internasional. Selain itu Uut juga bekerja menjadi asisten sutradara di rumah produksi dalam pembuatan film maupun iklan. Disamping masih berkecimpung di dunia audio visual, Uut juga menjadi dosen di sebuah akademi film di Jogja.

Bentuk apresiasi tertinggi dalam berkariernya menjadi sineas adalah ketika berhasil mendapatkan penghargaan di ajang Festival Film Indonesia, sebagai film dokumenter pendek terbaik di tahun 2017, lewat film garapannya yang berjudul THE UNSEEN WORD. Film dokumenter ini menceritakan sebuah kelompok ketroprak Distra Budaya dari mulai persiapan sampai pentas. Distra sendiri singkatan dari Disabilitas Netra. Uut sendiri mengaku ada ketertarikan disaat menemui kelompok tersebut pertama kalinya di tahun 2014. Kemudian di tahun 2016 Uut kembali untuk melakukan riset untuk dibuatkannya sebuah dokumenter.

Itulah tadi sedikit ulasan sineas muda berbakat Indonesia. Sineas muda tersebut memasuki perfilman Indonesia melalui berbagai karya film-film pendeknya. Mereka terus produktif berkarya dan membanggakan Indonesia.

(kpl/gen)


REKOMENDASI
TRENDING