CLOSE

7 Film yang Mengangkat Isu Body Image, Wajib Ditonton

7 Film yang Mengangkat Isu Body Image, Wajib Ditonton
I Feel Pretty (2018). (IMDb)

Kapanlagi.com - Standar kecantikan yang sempit masih membebani banyak orang setiap hari. Kritik terhadap bentuk tubuh datang dari berbagai arah, mulai dari lingkungan terdekat hingga media sosial, dan sering kali meninggalkan luka pada rasa percaya diri. Gerakan body positivity lahir sebagai respons atas tekanan tersebut, mengajak setiap orang menerima tubuhnya apa adanya.

Dunia perfilman turut mengambil bagian dalam percakapan ini. Sejumlah judul memilih menghadirkan tokoh dengan bentuk tubuh yang jauh dari standar ideal industri hiburan, lengkap dengan pergulatan batin yang menyertainya. Melalui cerita-cerita tersebut, penonton diajak melihat sisi lain dari sebuah perjuangan yang selama ini jarang mendapat panggung.

Berikut kumpulan film yang mengangkat isu body image terbaik yang wajib kamu tonton di rumah yang telah dipilih oleh KapanLagi.com dari berbagai sumber, Selasa (29/92/2026). Setiap judul membawa sudut pandang berbeda tentang bagaimana seseorang berdamai dengan tubuhnya sendiri. Simak ulasan singkatnya satu per satu.

1. Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (2019)

Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (2019). (IMDb)

Film arahan Ernest Prakasa ini mengikuti kisah Rara, perempuan yang tumbuh dengan bentuk tubuh berisi dan kulit sawo matang warisan sang ayah, berbeda dari sang adik. Diperankan oleh Jessica Mila berlawanan dengan Reza Rahadian, cerita diadaptasi dari novel karya Meira Anastasia, istri sang sutradara sendiri.

Rara harus menghadapi tuntutan mengubah penampilan fisik demi kenaikan jabatan yang ditawarkan bosnya di perusahaan kosmetik, sementara kekasihnya justru mencintainya apa adanya tanpa syarat. Situasi ini menggambarkan pergulatan banyak perempuan yang merasa nilai dirinya diukur dari angka pada timbangan, bukan dari kemampuan sesungguhnya.

Kombinasi drama dan komedi membuat topik berat ini terasa lebih dekat dengan keseharian penonton Indonesia, tanpa kehilangan kedalaman pesannya. Isu body shaming yang diangkat pun terasa relevan, mengingat komentar tentang bentuk tubuh masih kerap terdengar di lingkungan keluarga, pertemanan, hingga media sosial sehari-hari.

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

2. Dumplin' (2018)

Willowdean, yang akrab disapa Dumplin', adalah remaja bertubuh besar yang dibesarkan oleh bibinya di sebuah kota kecil Texas. Danielle Macdonald memerankan tokoh utama, beriringan dengan Jennifer Aniston sebagai sang ibu, mantan ratu kecantikan yang menaungi kontes tahunan setempat sejak bertahun-tahun lalu.

Sebagai bentuk protes, Willowdean mendaftarkan diri ke kontes kecantikan yang selama ini terasa asing baginya, meski ia tahu langkah itu akan mengundang banyak cibiran. Keputusan itu memicu gelombang perubahan, membuat peserta lain dengan latar belakang berbeda ikut tampil percaya diri di atas panggung yang sama.

Balutan musik dan humor khas remaja membuat pesan film ini tersampaikan tanpa terasa menggurui, meski mengangkat tema yang cukup berat bagi banyak remaja. Panggung kontes kecantikan yang biasanya identik dengan standar tunggal justru berubah menjadi ruang perayaan keberagaman bentuk tubuh dan warna kulit.

3. 200 Pounds Beauty (2006)

200 Pounds Beauty (2006). (IMDb)

Hanna adalah penyanyi berbakat yang bekerja sebagai pengisi suara di balik layar untuk seorang bintang pop ternama yang tidak memiliki kemampuan bernyanyi sama sekali. Kim Ah-joong berperan sebagai Hanna, seorang perempuan yang bakatnya kerap tertutup oleh penampilan fisiknya sendiri di industri yang serba visual.

Setelah dipermalukan di depan orang yang dicintainya pada sebuah pesta ulang tahun, Hanna memutuskan menjalani operasi plastik menyeluruh dan kembali setahun kemudian dengan identitas baru bernama Jenny. Popularitas pun datang dengan cepat, tetapi ia harus menghadapi pertanyaan tentang keaslian dirinya sendiri di balik wajah barunya.

Film musikal Korea Selatan ini menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan pada masanya, bahkan tercatat sebagai salah satu film terlaris tahun 2006. Di balik kemasan komedi romantis, ada pertanyaan mendasar tentang apa yang sebenarnya membuat seseorang layak dicintai dan dihargai oleh orang sekitarnya.

4. To the Bone (2017)

Ellen, perempuan berusia dua puluh tahun, telah melalui berbagai program pemulihan akibat anoreksia tanpa hasil yang bertahan lama sejak masa remajanya. Lily Collins memerankan Ellen, didampingi Keanu Reeves sebagai dokter dengan metode penanganan yang tidak biasa di sebuah rumah pemulihan bagi anak muda.

Keluarganya akhirnya mengirim Ellen ke rumah pemulihan bersama pasien lain yang juga bergulat dengan gangguan makan masing-masing, dengan aturan yang jauh berbeda dari program sebelumnya. Di sanalah ia mulai belajar mengenali akar masalahnya, alih-alih sekadar mengejar angka di timbangan setiap hari.

Sutradara Marti Noxon menuliskan cerita ini berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri melewati gangguan makan semasa muda, yang membuat narasinya terasa jujur. Pendekatan yang tidak menghakimi membuat film ini kerap dijadikan bahan diskusi tentang pentingnya memahami gangguan makan, bukan sekadar menghakimi penderitanya.

5. Tall Girl (2019)

Tall Girl (2019). (IMDb)

Jodi selalu menjadi murid tertinggi di sekolahnya dengan tinggi 185 sentimeter, sebuah kondisi yang justru membuatnya kerap merasa canggung dan sulit mendapat perhatian lawan jenis. Ava Michelle memerankan Jodi, remaja berusia enam belas tahun yang lama menghindari sorotan karena tinggi badannya sendiri.

Kehadiran murid pindahan asal Swedia dengan tinggi badan setara membuka pintu baru bagi Jodi untuk melihat dirinya dari sudut pandang berbeda, meski hubungan itu tak selalu berjalan mulus. Dukungan sahabat dan keluarganya turut membantunya menemukan kepercayaan diri yang selama ini terpendam.

Meski dikemas ringan khas film remaja Netflix, pesan tentang penerimaan diri tetap tersampaikan dengan jelas lewat perjalanan Jodi sepanjang cerita. Tinggi badan yang sering dianggap kelebihan oleh orang lain justru digambarkan sebagai sumber ketidaknyamanan tersendiri bagi sebagian orang yang mengalaminya.

6. I Feel Pretty (2018)

Renee adalah perempuan yang setiap hari bergulat dengan rasa tidak percaya diri terhadap penampilannya sendiri, mulai dari bentuk tubuh hingga cara berpakaian. Amy Schumer memerankan Renee, berlawanan dengan Michelle Williams sebagai atasan yang justru mengalami krisis kepercayaan diri versinya sendiri di baliknya.

Setelah mengalami kecelakaan ringan saat berolahraga, Renee terbangun dengan keyakinan bahwa penampilannya telah berubah menjadi sosok idaman, meski secara fisik ia tetap sama seperti sebelumnya di mata orang lain. Keyakinan itu justru membawanya pada keberanian yang selama ini ia pendam dalam-dalam.

Cerita ini mengajak penonton mempertanyakan seberapa besar rasa percaya diri sebenarnya bergantung pada penampilan fisik semata, bukan pada cara seseorang memandang dirinya sendiri dari waktu ke waktu. Perubahan yang dialami Renee justru terjadi sepenuhnya di dalam pikirannya, bukan pada pantulan di cerminnya.

7. The Fat Boy Chronicles (2010)

The Fat Boy Chronicles (2010). (IMDb)

Jimmy Winterpock kerap menjadi bahan olok-olok tim football di sekolahnya karena berat badannya yang jauh di atas rata-rata teman sebayanya. Christopher Rivera memerankan Jimmy, remaja yang menuliskan pengalamannya dalam sebuah jurnal untuk tugas sekolah, tanpa menyangka tulisannya akan mengubah banyak hal.

Ditemani sang ayah, Jimmy mulai berlari setiap hari dengan target menurunkan berat badan sekaligus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar bahan candaan teman-temannya di sekolah. Persahabatan baru dengan sesama murid yang juga punya persoalan masing-masing pun perlahan tumbuh di tengah proses itu.

Diangkat dari kisah nyata seorang remaja di Cincinnati, film ini menggambarkan perundungan berbasis bentuk tubuh dari sudut pandang korban secara langsung dan cukup jujur. Pesannya sederhana, namun cukup kuat untuk membuka mata banyak orang muda tentang dampak candaan yang dianggap sepele.

8. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Film yang Mengangkat Isu Body Image

Apa itu body image dan body positivity?

Body image adalah cara seseorang memandang dan merasakan bentuk tubuhnya sendiri. Body positivity adalah gerakan yang mendorong penerimaan terhadap segala bentuk tubuh tanpa menghakimi.

Film Indonesia apa yang mengangkat isu body image?

Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan garapan Ernest Prakasa menjadi salah satu film Indonesia yang secara khusus mengangkat isu body shaming dan penerimaan bentuk tubuh.

Apa film yang membahas gangguan makan?

To the Bone yang dibintangi Lily Collins menggambarkan perjalanan seorang perempuan muda melewati masa pemulihan dari anoreksia bersama pasien lain di rumah pemulihan.

Kenapa isu body image penting diangkat dalam film?

Film membantu penonton melihat bahwa standar kecantikan tunggal bukan patokan mutlak, sekaligus membuka ruang percakapan tentang tekanan sosial terhadap penampilan fisik.

Apakah semua film di daftar ini cocok untuk remaja?

Sebagian besar cocok untuk remaja, namun ada beberapa judul seperti To the Bone yang menyentuh tema gangguan makan sehingga sebaiknya ditonton bersama pendampingan orang dewasa.

(BCL Bantah Isu Hamil, minta netizen stop berasumsi.)

(kpl/bim)

Rekomendasi

Trending