'THE PHILOSOPHERS', Jendela Untuk ‘Mengintip’ Keindahan Indonesia

'THE PHILOSOPHERS', Jendela Untuk ‘Mengintip’ Keindahan Indonesia

Kapanlagi.com -
Sejak awal produksi, film THE PHILOSOPHERS disebut-sebut sebagai produksi Hollywod yang akan ‘mengekspos’ Indonesia pada dunia. Saat syuting berlangsung, tahun 2011, film drama EAT, PRAY, LOVE yang dibintangi Julia Robert juga tengah tayang di bioskop. Film tersebut memilih Ubud, Bali sebagai setting lokasinya. Indonesia tampaknya telah memikat sineas manca lewat keeksotisannya.
Ada juga SAVAGES yang syuting di Sumbawa dan ALEX CROSS di Bali. Lantas apa yang membuat THE PHILOSOPHERS istimewa?  Film ini seluruhnya diambil gambarnya di Indonesia, maka tak heran jika film ini bisa menjadi jendela dunia untuk mengintip keindahan Indonesia.
Sutanto Hartono, CEO SCM, mengatakan sejak awal setuju ikut menanam modal untuk produksi film arahan John Huddles ini karena pengambilan gambarnya yang dilakukan di Indonesia seluruhnya.
"Ide film ini datang dari John yang punya konsep yang cukup unik. Tertarik karena dua hal, syuting semua di Indonesia. Alangkah indahnya kalau culture dan kekayaan Indonesia dibawa ke pentas dunia. Eksposenya lebih maksimal dibanding film-film lain yang sebagian syuting di Indonesia. Kedua Indonesia punya potensi tenaga kreatif, bagaimana kalau kita support tim hollywood dengan tenaga lokal. Secara cost production lebih murah. Ini akan membuka produksi film lain untuk syuting di sini,” paparnya saat jumpa pers di Senayan City, Jaksel, Rabu (5/6).
Film yang diberi judul AFTER THE DARK saat dipasarkan di Amerika ini mengisahkan 20 murid senior di sekolah Internasional yang mengikuti kelas filosofi. Tugas mereka kali ini adalah memilih 10 orang yang diselamatkan dalam bungker untuk memulai kehidupan awal setelah kiamat.
Kisah film ini cukup menarik dengan dialog-dialog cerdas. Cerita menjadi sangat menarik dengan peran masing-masing orang yang memiliki 'kelebihan' dan 'kekurangan' untuk bertahan hidup. Setting bungker ada di Prambanan, Gunung Bromo, dan Pulau Lengkuas di Belitong.

Prambanan menjadi salah satu setting apiknya.Prambanan menjadi salah satu setting apiknya.


Tentu saja pemandangan tiga tempat itu cantik. Tapi John Radel di kursi DOP membuat kecantikan itu menjadi cantik jelita. Mata kita dimanjakan dengan imajinasi yang digabungkan dengan anugerah alam Indonesia yang luar biasa. Siapapun pasti tergoda untuk datang pada tempat-tempat yang ‘dipamerkan’ di film THE PHILOSOPHERS.
"Kami menampilkan cinematografi yang menggugah karena target audience anak muda. Filosofi yang menjadi dasar di cerita ini akan lebih mudah dipahami oleh anak muda. Semangat berpetualang juga ditunjukkan,” imbuh Sutanto.
Industri film tanah air diharapkan akan maju dengan transfer ilmu dan teknologi dari sineas Hollywood ke sineas lokal. Proses pendampingan sineas Hollywood menjadi sarana belajar bagi sineas tanah air.
“Kenapa enggak sineas Indonesia bikin film Hollywood. Ada proses transfer ilmu karena semua kru Hollywood ditemani tim lokal. Ada perbedaan kultur tapi akhirnya sama-sama belajar. Kru Hollywood biasanya technical aspec langsung ada, di sini mesti datangin luar. Akhirnya setelah film ini beberapa rental company menyediakan teknologi yang diperlukan sineas luar” ujar Wicky Olindo, Director of Screenplay pada kesempatan yang sama.
THE PHILOSOPHERS diharapkan juga bisa menjadi 'etalase' bagi penyediaan lokasi syuting di tanah air. “Mau nunjukin Indonesia bisa banget buat syuting. Aman dan izin gampang. Mereka (sineas Hollywood) saat lihat Bromo, Prambanan, Belitung mereka jatuh cinta," katanya.

Cita-cita mulia untuk 'memamerkan' keindahan Indonesia itu tentu saja tak hanya berdampak pada dunia film tanah air. Dampak lain adalah promo pariwisata yang optimal dengan gambaran  keindahan alam Indonesia di film ini. Hal ini sudah terbukti dengan kenaikan jumlah wisatawan Rusia ke Bali akhir-akhir ini setelah THE PHILOSOPHERS naik ke jajaran film box office di Rusia. "Rusia opening weekend itu dapat USD 700 ribu, dan kawasan Eropa Timur sudah tembus USD1 juta," ujar Sutanto.
"Kenaikan wisatawan Rusia di Bali bisa dua kali lipat. Sekarang wisatawan Rusia jadi wisatawan tertinggi,” ujar Herdiana Keihl ibunda Cinta Laura yang menetap di Bali. Pemilihan Cinta Laura merupakan pelengkap syarat investasi yang diajukan oleh SCTV.

Cinta Laura juga bermain dalam film ini. Ia berperan sebagai Utami.Cinta Laura juga bermain dalam film ini. Ia berperan sebagai Utami.


Sutanto mengisahkan syaratnya adalah ada artis Indonesia yang ikut bermain di film ini. Tapi soal siapa yang terpilih dikembalikan pada proses casting. "Syarat SCTV kalau film ini dibikin harus ada artis Indonesia yang terlibat. Minimal ada dua yang orang Indonesia. Karena seluruhnya dialognya Inggris. Kita pilih yang fasih dan schedule bisa untuk syuting. Dari proses audisi, Cinta dan Natasha yang terpilih,” terangnya.
Herdiana menyebut yang paling teruntungkan adalah pariwisata Indonesia dan Cinta Laura. “Cinta jadi dikenal di Hollywood. Sudah lulus mulai Agustus pindah ke Los Angeles dan fokus di Hollywood. Semoga bisa mengangkat nama Indonesia di kancah dunia,” katanya.
Well, bukankah Cinta Laura juga bagian dari kecantikan Indonesia? Maka pantas kiranya memang film yang mulai tayang 12 Juni 2014 di bioskop Indonesia ini disebut sebagai jendela dunia untuk 'mengintip' keindahan Indonesia. Ya, mengintip saja, karena sesungguhnya yang ditampilkan di THE PHILOSHOPERS hanya sebagian kecil keindahan tanah air. Kita sendiri jika tak sempat jalan langsung ke lokasi-lokasi indah itu, tak ada salahnya jika ikut ‘mengintip’ di film THE PHILOSOPHERS.


 

(kpl/uji/dka)

Reporter:

puji puput

Rekomendasi
Trending