Abdee Slank Panik Akibat Gempa di Palu

Senin, 24 Januari 2005 23:37 Penulis: Darmadi Sasongko
Kapanlagi.com - Gara-gara gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Abdee Negara, pemain gitar Slank, tak jadi tidur sehabis begadang sepanjan malam. Ia memantau terus berita tentang kejadian itu. Betapa tidak, adik dan kakak-kakak perempuannya tinggal di kota tersebut. Belum lagi, ia mendengar kabar bahwa gempa bumi itu mungkin disusul gelombang tsunami.

Senin (24/1), sekitar pukul 04.00 WIB, dalam perjalanan pulang dari studio musik di Jakarta, Abdee menerima telepon dari seorang kerabatnya di Jakarta. Gempa bumi berkekuatan 6,2 pada Skala Richter terjadi kira-kira pukul 04.10 WITA atau 03.10 WIB.

Pria kelahiran Donggala, 28 Juni 1968 itu, berusaha mendapat kejelasan mengenai gempa bumi itu dan dampaknya. "Saya langsung telepon ke Palu. Di sana kan ada adik dan kakak-kakak perempuan saya. Mereka tinggal di dua rumah, satu rumah warisan orangtua kami, satu lagi rumah salah satu kakak perempuan saya," tutur lelaki yang sudah beranak-istri ini.

Setelah tak terjawab ketika menghubungi mereka lewat telepon rumah, Abdee mengontak mereka melalui telepon genggam. "Waktu saya telepon, mereka sedang ada di luar rumah, di jalan, mau mengungsi ke tempat yang tinggi. Kata mereka, mereka mendengar kabar dari orang-orang di jalan, air laut surut mendadak, seperti kalau mau ada gelombang tsunami," kisahnya.

Kedua rumah saudara-saudara Abdee itu terletak di kota, sekitar tiga kilometer dari pantai. "Jarak dari kota ke tempat-tempat yang tinggi, bukit-bukit, enggak jauh. Kalau kita lari-lari kecil, makan waktu sekitar 15 menit. Tapi, mereka naik mobil," terangnya. "Sekarang mereka masih di bukit. Kata mereka, ribuan orang mengungsi," imbuhnya.

Kedua rumah tersebut, sambungnya, tidak rusak sama sekali akibat gempa bumi itu. "Cuma, kata mereka, barang-barang yang digantung dan diletakkan di atas lemari atau meja, seperti lampu dan pajangan keramik, jatuh dan pecah. Kata mereka juga, di Palu belum pernah terjadi gempa sekeras itu," ucapnya.

Tak mudah bagi Abdee untuk memperoleh kejelasan pada Senin pagi. Siaran-siaran televisi dan radio ketika itu belum memberi informasi yang pasti tentang peristiwa tersebut. Abdee lalu ingat, ia menyimpan selembar kecil potongan sebuah surat kabar yang berisi daftar pihak-pihak yang bisa dihubungi sehubungan dengan peristiwa gempa bumi dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara (Sumut).

"Tiga hari setelah kejadian di Aceh dan Sumut, saya mengguntingnya dan menyimpannya di dompet saya. Siapa tahu nanti-nanti perlu," ujarnya.

Dari daftar itu ia tahu nomor telepon Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Jakarta. Namun, teleponnya tak terjawab. "Yang nyambung malah badan pengawas gempa di Medan (Sumut)," katanya. "Kata mereka, mereka belum tahu ada gempa di Palu. Setelah mereka tahu, mereka menelepon saya. Tapi, informasi dari mereka juga belum pasti," tambahnya.

Baru kira-kira pukul 06.00 WIB Abdee mendapat kejelasan bahwa gempa bumi tersebut berkekuatan 6,2 pada Skala Richter, tapi berpusat di darat, 30 kilometer di bawah permukaan bumi, pada 1,03 Lintang Selatan dan 119, 99 Bujur Timur, 16 kilometer sebelah tenggara Palu. "Menurut informasi itu, gempa bumi itu enggak berpotensi mengundang gelombang tsnumai. Jadi, sekarang saya mau tidur. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja,"

(kmp/dar)


REKOMENDASI
TRENDING