#KartiniDalamLelaki: Didik Nini Thowok, Pelakon Tarian Wanita yang Maskulin

Selasa, 17 April 2018 17:00 Penulis: Galuh Esti Nugraini
#KartiniDalamLelaki: Didik Nini Thowok, Pelakon Tarian Wanita yang Maskulin Didik Nini Thowok (credit: instagram.com/didikninithowok)

Kapanlagi.com - Siapa yang tidak mengenal Didik Nini Thowok? Ia adalah seorang maestro tari Indonesia. Salah satu penari yang menjadi kebanggaan Indonesia. Konsistensinya dalam berkesenian dan berkarir membuatnya dikenal sampai mancanegara. 

Tidak hanya di Indonesia saja, ia juga dikenal luas di kancah internasional. Dalam setiap pertunjukannya, Didik selalu berhasil menampilkan keunikan-keunikan baru. Soal keluwesannya dalam menari? Rasanya tidak usah diragukan lagi. Ia selalu memberikan pesona dan penonton pun dibuatnya terpukau.

Keunikan dari tarian dari Didik Nini Thowok ini terletak pada gerakan per gerakan yang menimbulkan rasa kekaguman luar biasa. Ia selalu berusaha mempersembahkan sebuah tarian yang bercita rasa seni tinggi. Di atas pentas ia tampil ala wanita, memakai kebaya, bersanggul dan total mengenakan make up.

Didik Nini Thowok tak hanya belajar tarian Indonesia namun juga tarian luar, seperti di Jepang (credit: instagram.com/didikninithowok)Didik Nini Thowok tak hanya belajar tarian Indonesia namun juga tarian luar, seperti di Jepang (credit: instagram.com/didikninithowok)

Dan satu lagi yang menjadi ciri khasnya, ia kerap mengenakan topeng sebagai salah satu instrumen tariannya.  Topengnya ini ia pakai di belakang kepalanya. Seolah dalam tarian tersebut, terdapat dua sosok. Ia pun melenggak lenggok dengan gemulai, kemudian ia menghadap ke belakang untuk memperlihatkan sosok lain lewat topengnya tersebut. Bahkan ia telah menguasai beberapa jenis macam tarian di Indonesia.

Jika membicarakan penghargaan atau bentuk apresiasi, tentu tak ada habisnya. Menjadi seorang maestro tentu sudah memakan asam garam kehidupan menarinya. Maka dari itu, penghargaan pun kerap membanjiri dirinya.

Mulai dari penghargaan dalam negeri seperti Original Rekor Indonesia Award atas prestasinya sebagai seniman tari, Soedarpo Award, dan Cultural Award Governor of Indonesia. Penghargaan dari luar juga ia raih seperti, Indonesian Consulate of Kobe dan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Brunei. Namun dari penghargaan tersebut masih sekelumit dari semua penghargaan yang ia dapatkan.

Sebelum tampil dan sesudah tampil saat acara Anne Avantie (credit: instagram.com/didikninithowok)Sebelum tampil dan sesudah tampil saat acara Anne Avantie (credit: instagram.com/didikninithowok)

Tak lupa Didik Nini Thowok juga berfoto bersama Indra Bekti (credit: instagram.com/didikninithowok)Tak lupa Didik Nini Thowok juga berfoto bersama Indra Bekti (credit: instagram.com/didikninithowok)

Itulah sepenggal kisah dari Didik Nini Thowok saat pentas di atas panggung. Lantas bagaimana di luar itu semua? Bagaimana kehidupan dari pria bernama asli dari Didik Hadiprayitno ini? Apakah ia kemayu seperti saat sedang menari di atas panggung? Nyatanya tidak. 

Sama seperti seniman kebanyakan, dirinya tetap berada di lingkaran passionnya. Mau saat pentas atau pun di luar dari itu, di kehidupan sehari-harinya ia tetap bergelut dengan tarian. Ia memang mencintai tari dan tari adalah bagian dari hidupnya, seakan mengalir ke nadinya.

Hebatnya lagi, ia pun bisa menyeimbangkan diri bagaiamana cara dia tampil saat di pentas dan di kehidupan sehari-hari. Tentu saja dalam kesehariannya ini, ia akan tampil apa adanya. Tanpa riasan, tanpa sanggul dan tanpa memakai kostum tentunya.

Keseharian dari Didik Nini Thowok (credit: instagram.com/didikninithowok)Keseharian dari Didik Nini Thowok (credit: instagram.com/didikninithowok)

Didik Nini Thowok dalam aksi sosial (credit: instagram.com/didikninithowok)Didik Nini Thowok dalam aksi sosial (credit: instagram.com/didikninithowok)

Memang kehidupan yang sederhana ini yang selalu ia jalani. Ia pun ramah terhadap sesama. Sifatnya yang humoris menjadikannya sebagai sosok yang mudah bergaul dengan orang yang baru dikenalnya.

Di luar pentas, ia adalah seorang instruktur tari, pembicara pada seminar, mengikuti berbagai aksi sosial. Ia juga memiliki sanggar tarinya sendiri yang bernama Sanggar Tari Natya Lakshita yang didirikan pada 2 Februari 1980.

Sanggar itu pun berkembang, tak hanya menjadi sanggar biasa namun telah menjadi lembaga pendidikan dan kepelatihan (LPK). Tak hanya menari namun di sini juga ada kelas koreografi, tata rias, dan manajemen pertunjukan.

Didik Nini Thowok memperlihatkan minat tarinya dari kecil (credit: instagram.com/didikninithowok)Didik Nini Thowok memperlihatkan minat tarinya dari kecil (credit: instagram.com/didikninithowok)

Dirinya sudah memperlihatkan minatnya dari kecil. Di usia 12 tahun ia sudah belajar tari. Apalagi di masa kecilnya, sang neneklah yang berpengaruh pada hidup kecilnya. Sang neneklah yang mengajarkan dia bagaimana mengajarkan keterampilan pada wanita lainnya, seperti menjadi, membordir, dan kerajinan lainnya.

"Karena dari aku belajar menari dulu masih di Temanngung, guru saya bilang Mas Didik kalo nari jadi laki-laki yang gagah itu tidak pantes, kurang maskulin. Ya udah nari aja jadi perempuan. Awalnya malu- malu tapi lama-lama nanti kebiasa, yaudah nyaman aja," ucap Didik Nini Thowok.

"Atau mungkin dari sononya ditakdirkan lahir sebagai sosok yang cross gender," lanjutnya.

Ia lebih memilih tarian wanita karena ia menyadari jika ia memang ditakdirkan begitu. Guru tari masa kecilnya pun juga mengatakan jika dia lebih cocok menari wanita. Memang karena sikapnya ini ia menjadi bahan olokan oleh para teman-temannya. Ia hanya membiarkan saja olokan tersebut tanpa bisa membalas.

Lama kelamaan lulusan dari ASTI (Akademi Tari Indonesia Indonesia) ini mulai percaya diri. Dari panggung ke panggung, dari pentas ke pentas kepercayaan diri terbentuk dan ia mulai berani tampil di depan umum. Karena pengalamanlah yang berbicara.

Didik Nini Thowok bersama sang ibunda (credit: instagram.com/didikninithowok)Didik Nini Thowok bersama sang ibunda (credit: instagram.com/didikninithowok)

Menjadi seorang laki-laki yang juga seorang penari memang tak ada salahnya. Apalagi bagi sosok Didik Nini Thowok ini atau bahkan yang lainnya juga, mereka merupakan sebuah jembatan.

Mereka penyeimbang tradisi, dikala yang lain sudah meninggalkan tradisi yang ada, dan mengikuti derasnya arus modernisasi. Orang-orang seperti mereka yang mampu mengerti. Karena tradisi adalah budaya Indonesia. Salam budaya!

(kpl/gen)


REKOMENDASI
TRENDING