Lewat Buku, Brandon Tanu Beri Tips Atasi Bullying

Brandon Tanu © Dokumentasi Pribadi

Kapanlagi.com - Kasus bullying di lingkungan sekolah seolah tak pernah ada habisnya. Hal itu terkadang membuat sang korban depresi, namun tak jarang pula ada pula yang tegar menghadapi, seperti Brandon Tanu, sosok anak yang tergolong hiperaktif dengan tingkah laku aneh dan mengganggu teman di sekolahnya.

Sejak usia 8 tahun hingga saat ini, Brandon acap kali dibully teman-teman di sekolahnya. Yang terparah, Ia juga tak jarang dikucilkan dari lingkungan sekolah. Namun, dukungan dari kedua orangtua membuat Brandon kuat menghadapi itu semua, hingga akhirnya dia sudah tak lagi memperdulikan ucapan kasar dari teman-temannya.

Brandon Tanu © Dokumentasi PribadiBrandon Tanu © Dokumentasi Pribadi

Dari pengalamannya yang sudah bertahun-tahun menjadi korban bully, Brandon pun memberi sedikit tips bagi para korban seperti dirinya agar bisa melewati itu semua. Hal itu disampaikannya lewat sebuah buku yang berjudul Bully Aja, I Don't Care.

"Tips pertama, bukan memberontak kepada bullying tapi hanya stand up for yourself untuk diri kita sendiri. Kita harus menyadari mengapa mereka bully kita. Karena mereka tidak punya apa yang kita punya," ungkap Brandon saat peluncuran buku Bully Aja, I Don't care di kawasan Thamrin, Jakarta.

"Jangan menyendiri, jangan takut berpendapat menyatakan opini. Jangan takut, 'ini opini gue, jangan takut dengan apa yang gue pikir'. Sering kali karena dibully, jadi dianggap opininya salah, mereka langsung jatuh. Terus kita harus belajar tidak mengeluarkan reaksi karena seorang bully tambah dibully ketika mereka melihat kita bereaksi," kata Brandon melanjutkan.

Brandon Tanu dan sang ibunda © Dokumentasi PribadiBrandon Tanu dan sang ibunda © Dokumentasi Pribadi

Selain itu, peran orangtua juga sangat penting bagi anak-anak mereka yang menjadi korban bully. Wanda Ponika sebagai ibu dari Brandon mengungkapkan kalau komunikasi dan terus bisa dekat dengan anak menjadi point utama.

"Kita orangtua harus lebih mendengarkan, jadi tempat dia sharing. Karena kalau dengan teman dia enggak bisa sharing, dengan guru pun belum tentu bisa sharing. Hanya dengan orangtua bisa sharing. Kalau orangtua jadi tempat yang malah mencaci maki anak, anak ini mau lari kemana," tutup Wanda.

(kpl/aal/gtr)

Rekomendasi

Trending