Cara Menggunakan Suppositoria yang Benar untuk Rektal, Vagina, dan Uretra

Cara Menggunakan Suppositoria yang Benar untuk Rektal, Vagina, dan Uretra
cara menggunakan suppositoria (h)

Kapanlagi.com - Suppositoria adalah obat padat berbentuk kerucut atau peluru yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui anus, vagina, atau uretra.[1] Obat ini bekerja dengan cara meleleh di dalam tubuh akibat suhu tubuh, lalu melepaskan kandungan obatnya untuk diserap ke aliran darah.[2] Memahami cara menggunakan suppositoria dengan benar sangat penting agar obat dapat bekerja secara optimal dan efektif.

Jalur pemberian obat melalui suppositoria memang terasa kurang nyaman dibandingkan menelan pil atau sirup. Namun, cara menggunakan suppositoria justru memudahkan penyerapan obat bagi pasien yang tidak bisa menelan obat secara oral, seperti saat muntah hebat, kejang, atau tidak sadarkan diri.[3]

Menurut Healthline, obat dari suppositoria rektal cenderung bekerja dengan cepat karena langsung diserap ke dalam aliran darah melalui pembuluh darah di rektum.[3] Suppositoria tersedia dalam tiga jenis utama berdasarkan jalur masuknya, yaitu rektal, vagina, dan uretra, yang masing-masing memiliki prosedur penggunaan berbeda.[2]

1. 1. Cara Menggunakan Suppositoria Rektal untuk Dewasa

Cara menggunakan suppositoria rektal pada dasarnya cukup mudah jika dilakukan sesuai prosedur yang tepat. Sebelum memasukkan obat, disarankan untuk mengosongkan usus terlebih dahulu dengan buang air besar agar obat dapat bekerja lebih optimal di dalam rektum.[1] Menurut Medical News Today, "suppository medication is most effective when the bowel is empty."[1]

  1. Cuci tangan dengan sabun: Bersihkan tangan secara menyeluruh menggunakan sabun dan air hangat sebelum menyentuh obat untuk mencegah kontaminasi bakteri.[1] Kebersihan tangan adalah langkah awal yang tidak boleh dilewatkan.

  2. Buka kemasan dan beri pelumas: Buka bungkus suppositoria, lalu oleskan pelumas berbahan dasar air pada ujungnya atau celupkan obat ke dalam air bersih agar lebih mudah masuk.[2] Jangan gunakan petroleum jelly (Vaseline) karena dapat menghambat obat larut dengan baik.[1]

  3. Ambil posisi yang nyaman: Berbaring miring dengan kaki bawah lurus dan kaki atas ditekuk ke arah perut, atau berdiri dengan satu kaki diangkat ke atas kursi.[2]

  4. Masukkan suppositoria dengan lembut: Buka area bokong secara perlahan, lalu masukkan obat dengan ujung lancip terlebih dahulu ke dalam anus sedalam kurang lebih satu inci (sekitar 2,5 cm) untuk orang dewasa.[1]

  5. Tahan posisi selama 15 menit: Rapatkan kaki dan berbaring atau duduk diam selama sekitar 15 menit agar obat benar-benar larut dan tidak keluar kembali.[2]

  6. Cuci tangan kembali: Setelah proses selesai, cuci tangan lagi dengan sabun dan air hangat secara menyeluruh.[1]

2. 2. Cara Menggunakan Suppositoria Rektal untuk Anak-Anak

Pemberian obat suppositoria pada anak memerlukan perhatian khusus dan teknik yang sedikit berbeda dari orang dewasa. Menurut AboutKidsHealth, orang tua perlu mengetahui kedalaman insersi yang tepat sesuai usia anak agar proses pemberian suppositoria berjalan aman.[5] Berikut langkah-langkah cara menggunakan suppositoria rektal untuk anak yang perlu diperhatikan.

  1. Cuci tangan dan persiapkan obat: Cuci tangan dengan sabun hingga bersih dan periksa tanggal kedaluwarsa obat sebelum digunakan.[5] Jika suppositoria terlalu lunak, dinginkan dalam lemari es selama 30 menit atau alirkan air dingin di atasnya.[5]

  2. Posisikan anak dengan benar: Baringkan anak miring dengan kaki bawah lurus dan kaki atas ditekuk ke arah perut.[5] Posisi ini memudahkan akses ke area anus anak.

  3. Masukkan dengan kedalaman yang sesuai: Untuk anak-anak, dorong suppositoria sedalam sekitar 1,5 cm (½ inci), sementara untuk bayi atau balita, cukup dorong sedalam 1 cm saja.[8] Arahkan suppositoria menuju pusar anak.[5]

  4. Tahan bokong anak: Setelah obat masuk, tahan bokong anak dalam posisi merapat selama beberapa detik agar suppositoria tidak keluar kembali.[5]

  5. Biarkan anak berbaring: Pertahankan posisi anak berbaring selama kurang lebih 15 menit untuk memastikan obat terserap dengan baik.[5]

  6. Jika perlu dosis lebih kecil: Apabila dokter meresepkan setengah dosis, potong suppositoria secara memanjang (dari ujung ke ujung), bukan melintang di bagian tengah.[5]

Menurut Alodokter, obat paracetamol dalam bentuk suppositoria yang dimasukkan melalui anus dapat mengurangi efek samping pada lambung dan usus halus, sehingga sering menjadi pilihan untuk menurunkan demam anak.[8]

3. 3. Cara Menggunakan Suppositoria Vagina (Ovula)

3. Cara Menggunakan Suppositoria Vagina (Ovula) (c) Ilustrasi AI

Suppositoria vagina, yang juga dikenal sebagai ovula, berbentuk lonjong dan biasanya dilengkapi dengan aplikator khusus. Cara menggunakan suppositoria vagina memerlukan teknik yang tepat agar obat bisa bekerja optimal di area yang dituju. Berikut panduan lengkapnya.

  1. Cuci tangan dengan sabun: Bersihkan tangan secara menyeluruh dengan sabun dan air hangat sebelum memulai proses.[2]

  2. Siapkan obat dan aplikator: Buka bungkus suppositoria, lalu masukkan ke dalam aplikator yang disertakan.[2]

  3. Ambil posisi yang tepat: Berbaring telentang dengan lutut ditekuk ke arah dada, atau berdiri dengan lutut sedikit ditekuk dan kaki terbuka.[1]

  4. Masukkan aplikator secara perlahan: Dorong aplikator ke dalam vagina sejauh mungkin tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri.[2]

  5. Tekan pendorong pada aplikator: Tekan plunger di ujung aplikator untuk mendorong obat masuk, kemudian keluarkan aplikator secara perlahan.[2]

  6. Berbaring selama 10 menit: Tetap dalam posisi berbaring selama sekitar 10 menit agar obat terserap dengan baik ke dinding vagina.[1]

  7. Gunakan pembalut: Pertimbangkan untuk menggunakan pembalut setelah prosedur karena sisa obat mungkin akan keluar dan menempel di pakaian dalam.[1]

Menurut WebMD, "vaginal suppositories can be messy, so you may want to wear a pad for a little while after you put one in."[2] Suppositoria vagina umumnya digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri atau jamur vagina, vagina kering, serta sebagai alat kontrasepsi berupa spermisida.[8]

4. 4. Cara Menggunakan Suppositoria Uretra

Suppositoria uretra adalah jenis yang paling jarang digunakan dan biasanya diperuntukkan bagi laki-laki dengan masalah ereksi. Obat ini berukuran sangat kecil, seukuran butir beras, dan mengandung obat alprostadil.[8] Berikut cara menggunakan suppositoria uretra yang tepat.

  1. Kosongkan kandung kemih: Buang air kecil terlebih dahulu sebelum menggunakan suppositoria uretra.[9]

  2. Cuci tangan dengan sabun: Bersihkan tangan secara menyeluruh menggunakan sabun dan air hangat.[9]

  3. Buka kemasan dan penutup aplikator: Keluarkan obat dari bungkusnya dan lepas penutup aplikator dengan hati-hati.[9]

  4. Regangkan penis dan masukkan aplikator: Regangkan penis sepenuhnya untuk membuka uretra, lalu masukkan aplikator ke dalam lubang di ujung penis.[9]

  5. Tekan tombol aplikator: Tekan tombol pada ujung aplikator dan tahan selama 5 detik, lalu keluarkan aplikator secara perlahan.[9]

  6. Pijat penis selama 10-15 detik: Pijat penis secara perlahan selama minimal 10 detik untuk membantu penyerapan obat.[9]

  7. Cuci tangan kembali: Bersihkan tangan dengan sabun dan air hangat setelah seluruh proses selesai.[9]

5. 5. Cara Menyimpan Suppositoria dengan Benar

Penyimpanan yang tepat merupakan bagian penting dalam menjaga efektivitas obat. Karena sifat fisiknya yang sensitif terhadap suhu, cara menggunakan suppositoria yang benar harus dimulai dari penyimpanan obat yang sesuai agar bentuknya tetap utuh saat dipakai.

  1. Simpan di lemari pendingin: Suppositoria wajib disimpan di dalam lemari pendingin dengan suhu antara 2 hingga 8 derajat Celcius agar tidak meleleh sebelum digunakan.[7]

  2. Letakkan di pintu kulkas: Lokasi penyimpanan paling ideal adalah pada bagian pintu kulkas, bukan di dalam freezer yang justru dapat merusak struktur obat.[7]

  3. Hindari suhu ruang yang panas: Jangan menyimpan suppositoria di area yang panas seperti dekat kompor atau terkena paparan sinar matahari langsung.[7]

  4. Ikuti petunjuk pada label: Selalu periksa dan ikuti petunjuk penyimpanan yang tertera pada kemasan obat karena beberapa jenis suppositoria memiliki persyaratan suhu yang berbeda.[1]

  5. Jauhkan dari jangkauan anak-anak: Pastikan obat disimpan di tempat yang aman dan tidak mudah dijangkau oleh anak-anak untuk mencegah penggunaan yang tidak disengaja.[5]

6. 6. Cara Mengatasi Suppositoria yang Terlalu Lunak

Suppositoria yang terlalu lunak akan sulit dimasukkan dan mengurangi efektivitas pengobatan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan agar cara menggunakan suppositoria tetap berjalan lancar meskipun obat sempat melunak.

  1. Dinginkan dalam lemari pendingin: Jika suppositoria melunak karena suhu ruang, masukkan kembali ke dalam lemari pendingin selama sekitar 30 menit hingga mengeras kembali.[1]

  2. Alirkan air dingin: Alternatif lain adalah menahan suppositoria yang masih terbungkus di bawah aliran air dingin selama beberapa menit hingga kembali keras.[5]

  3. Periksa kekerasan sebelum digunakan: Remas suppositoria dengan lembut untuk memastikan konsistensinya cukup keras sebelum membuka kemasan.[1]

  4. Buka kemasan tepat sebelum digunakan: Jangan membuka kemasan terlalu lama sebelum pemakaian karena obat dapat cepat melunak akibat suhu tangan dan lingkungan.[2]

7. Jenis-Jenis Suppositoria dan Fungsinya

Suppositoria terbagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan jalur masuk dan tujuan penggunaannya. Memahami perbedaan ini penting agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan obat. Berikut penjelasan mengenai tiga jenis utama suppositoria.

  • Suppositoria rektal: Dimasukkan melalui anus dengan panjang sekitar 2,5 cm dan ujung membulat seperti peluru.[9] Obat ini diresepkan untuk mengatasi sembelit, ambeien, mual, demam, kejang, serta masalah gangguan mental seperti kecemasan.[9] Menurut WebMD, "rectal suppositories go in your bottom. They are about an inch long and have a rounded or bullet-shaped tip."[2]

  • Suppositoria vagina (ovula): Berbentuk oval dan diserap perlahan melalui dinding vagina.[8] Obat ini digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri, infeksi jamur, vagina kering, dan juga sebagai kontrasepsi berupa spermisida.[8] Menjaga kesehatan area kewanitaan merupakan hal yang penting.

  • Suppositoria uretra: Jenis yang paling jarang digunakan ini berukuran sebesar butir beras dan diperuntukkan bagi laki-laki dengan gangguan ereksi.[9] Obat ini mengandung alprostadil dan dimasukkan ke dalam lubang penis.[8]

8. Keunggulan Pemberian Obat Melalui Jalur Rektal

Keunggulan Pemberian Obat Melalui Jalur Rektal (c) Ilustrasi AI

Jalur rektal memiliki sejumlah keunggulan farmakologis yang sering kali tidak disadari oleh masyarakat umum. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Pharmacology, jalur rektal memiliki keuntungan signifikan baik untuk pemberian obat lokal maupun sistemik.[6]

Salah satu keunggulan utama pemberian obat secara rektal adalah kemampuannya melewati sebagian besar metabolisme lintas pertama (first-pass metabolism) di hati. Drainase vena rektum terdiri dari dua pertiga jalur sistemik dan sepertiga jalur portal hepatik, sehingga obat yang diberikan secara rektal melewati sekitar dua pertiga dari proses metabolisme pertama di hati.[4] Hal ini berarti obat masuk ke sistem peredaran darah dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan jalur oral.

Selain itu, pemberian obat melalui rektal menghasilkan onset kerja yang lebih cepat dan bioavailabilitas yang lebih tinggi untuk sejumlah obat tertentu.[4] Keunggulan lainnya adalah mengurangi rasa mual dan mencegah hilangnya obat akibat muntah.[4] Cara menggunakan suppositoria juga relatif mudah dipelajari oleh pasien tanpa memerlukan tenaga medis terlatih, berbeda dengan pemberian obat intravena.[6]

Rektum juga menyediakan lingkungan yang relatif stabil bagi obat karena tidak terpengaruh oleh asam lambung atau enzim pencernaan lainnya.[9] Hal ini menjadikan suppositoria pilihan yang baik untuk obat-obatan yang mudah terurai di saluran pencernaan bagian atas.

9. Tips Penting Sebelum Menggunakan Suppositoria

Persiapan yang matang sebelum menggunakan suppositoria akan menentukan keberhasilan penyerapan obat. Berikut beberapa tips penting yang perlu diperhatikan agar cara menggunakan suppositoria menjadi lebih aman dan nyaman.

  • Potong kuku terlebih dahulu: Kuku yang panjang dapat menggores atau melukai jaringan sensitif di area anus atau vagina saat memasukkan obat.[1] Kebersihan tangan dan kuku menjadi prioritas utama.

  • Gunakan sarung tangan lateks: Apabila tersedia, kenakan sarung tangan lateks sekali pakai atau finger cot untuk menjaga kebersihan obat dan melindungi jari.[1]

  • Gunakan pelumas berbahan dasar air: Oleskan pelumas water-soluble pada ujung suppositoria untuk memudahkan insersi. Jangan pernah menggunakan petroleum jelly (Vaseline) atau minyak mineral karena dapat mencegah obat larut dengan baik.[1]

  • Hindari aktivitas berat setelah penggunaan: Menurut Medical News Today, "avoid exercise or vigorous movement for 60 minutes after inserting the medication."[1] Hal ini memastikan obat terserap dengan sempurna.

  • Jangan buang air besar selama satu jam: Kecuali suppositoria yang digunakan adalah jenis pencahar, usahakan untuk tidak buang air besar selama minimal 60 menit setelah memasukkan obat.[1]

  • Periksa tanggal kedaluwarsa: Selalu pastikan obat masih dalam masa berlaku sebelum digunakan untuk menghindari penggunaan obat yang sudah tidak efektif.[5]

  • Baca petunjuk pada kemasan: Setiap jenis suppositoria mungkin memiliki instruksi khusus dari produsen yang perlu diikuti.[2]

Baca juga: Kata-Kata Kesehatan yang Memotivasi dan Menginspirasi

10. Efek Samping Suppositoria dan Cara Mengatasinya

Efek Samping Suppositoria dan Cara Mengatasinya (c) Ilustrasi AI

Meskipun pemberian obat melalui suppositoria umumnya aman, ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi. Memahami potensi efek samping ini akan membantu Anda mengambil tindakan yang tepat apabila muncul reaksi yang tidak diinginkan setelah menggunakan obat.

Menurut WebMD, suppositoria umumnya aman, namun beberapa masalah yang bisa terjadi antara lain obat bocor keluar kembali, tubuh tidak menyerap obat dengan baik, atau terjadi iritasi di area tempat obat dimasukkan.[2] Menurut sumber lain, efek samping ringan setelah penggunaan suppositoria rektal dapat meliputi iritasi ringan, diare, dan ketidaknyamanan pada perut.[10]

Apabila iritasi tidak membaik atau justru bertambah parah, segera periksakan diri ke dokter.[9] Jika Anda mengalami reaksi alergi berat seperti ruam kulit, pembengkakan pada wajah atau tangan, atau kesulitan bernapas setelah menggunakan suppositoria, segera cari pertolongan medis darurat.[10]

Untuk meminimalkan risiko efek samping, hindari gerakan berat setidaknya 60 menit setelah penggunaan obat.[1] Selain itu, pastikan selalu mengikuti dosis dan jadwal pemakaian yang diresepkan dokter agar manfaat obat tetap optimal. Konsultasi dengan dokter sangat penting ketika muncul gejala yang tidak biasa.

11. Kondisi yang Tidak Disarankan Menggunakan Suppositoria

Kondisi yang Tidak Disarankan Menggunakan Suppositoria (c) Ilustrasi AI

Tidak semua pasien dapat menggunakan suppositoria dengan aman. Terdapat beberapa kondisi medis tertentu yang menjadi kontraindikasi atau memerlukan pengawasan ketat dari dokter sebelum menggunakan bentuk sediaan obat ini.

  • Bayi baru lahir (neonatus): Obat umumnya tidak diberikan secara rektal pada bayi prematur atau baru lahir karena risiko penyerapan yang tidak konsisten dan potensi cedera pada lapisan rektum yang masih rapuh.[4]

  • Pasien imunosupresi: Bagi pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, pemberian obat melalui jalur rektal berisiko menyebabkan trauma dan infeksi.[4]

  • Pasien pasca operasi rektum: Penggunaan suppositoria rektal harus dihindari pada pasien yang baru menjalani operasi pada area dubur untuk mencegah komplikasi.[8]

  • Pasien dengan kondisi gastrointestinal tertentu: Menurut Healthline, pasien dengan riwayat IBD, IBS, atau kondisi GI lainnya sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan suppositoria rektal.[3]

  • Alergi terhadap bahan obat: Pasien dengan riwayat alergi terhadap gliserin, kedelai, atau kacang tanah perlu berhati-hati karena beberapa suppositoria mengandung bahan tersebut.[11]

  • Wanita pasca operasi atau radiasi area vagina: Penggunaan suppositoria vagina memerlukan pertimbangan khusus pada wanita yang telah menjalani prosedur medis di area tersebut.[8]

Baca juga: Jangan Anggap Remeh, Duduk Terlalu Lama Bisa Picu Wasir

12. Perbedaan Suppositoria dengan Enema

Banyak orang masih keliru membedakan suppositoria dengan enema karena keduanya sama-sama diberikan melalui jalur rektal. Padahal, kedua bentuk sediaan obat ini memiliki perbedaan mendasar yang penting untuk dipahami.

Perbedaan utama antara enema dan suppositoria terletak pada bentuk sediaannya. Enema merupakan obat dalam bentuk cairan, sedangkan suppositoria berbentuk padat.[12] Suppositoria dikembangkan sebagai alternatif enema karena dinilai lebih praktis dan nyaman untuk digunakan.[12]

Dari segi penggunaan, suppositoria lebih mudah dimasukkan tanpa memerlukan alat khusus dan bisa dilakukan sendiri oleh pasien di rumah. Sementara itu, enema memerlukan alat suntik atau kantong khusus dan terkadang membutuhkan bantuan tenaga medis. Konsultasi dengan dokter atau apoteker dapat membantu menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.

Cara menggunakan suppositoria juga cenderung lebih sederhana dan tidak menimbulkan sensasi penuh di perut seperti yang sering dirasakan saat menggunakan enema volume besar. Meski demikian, dalam beberapa kasus seperti sembelit parah dengan feses yang terletak tinggi di kolon, enema mungkin lebih efektif dibandingkan suppositoria.[12]

13. Waktu Terbaik Menggunakan Suppositoria

Pemilihan waktu yang tepat untuk menggunakan suppositoria dapat memengaruhi efektivitas obat. Berikut panduan mengenai waktu penggunaan yang optimal berdasarkan jenis suppositoria yang digunakan.

  • Suppositoria pencahar: Waktu paling efektif untuk menggunakan suppositoria pencahar adalah pagi hari setelah sarapan, ketika dorongan untuk buang air besar cenderung lebih kuat secara alami.[10] Pastikan Anda berada di dekat toilet karena efeknya bisa dirasakan dalam 15-30 menit.[10]

  • Suppositoria vagina (ovula): Sebaiknya digunakan pada malam hari sesaat sebelum tidur agar obat dapat bekerja semalaman tanpa terganggu oleh aktivitas fisik.[7] Perawatan area kewanitaan yang tepat waktu membantu mempercepat penyembuhan.

  • Suppositoria obat sistemik: Ikuti jadwal yang diresepkan oleh dokter dengan konsisten. Jangan melewatkan dosis dan jangan menggandakan dosis jika Anda lupa menggunakannya.[9]

  • Suppositoria antidemam untuk anak: Bisa digunakan kapan saja saat anak mengalami demam tinggi dan tidak bisa menelan obat oral, termasuk ketika anak sedang tidur pulas saat demam tinggi.[8]

14. FAQ

Apakah suppositoria terasa sakit saat dimasukkan?

Cara menggunakan suppositoria yang benar seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti. Rasa tidak nyaman ringan mungkin dirasakan saat pertama kali, namun penggunaan pelumas berbahan dasar air dan posisi tubuh yang tepat dapat meminimalkan ketidaknyamanan tersebut.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan suppositoria untuk bekerja?

Waktu kerja suppositoria bervariasi tergantung jenis obatnya. Suppositoria pencahar biasanya bekerja dalam 15-30 menit, sementara suppositoria dengan kandungan obat lain memerlukan waktu antara 15-60 menit untuk mulai diserap tubuh.[8]

Apa yang harus dilakukan jika suppositoria keluar setelah dimasukkan?

Jika suppositoria keluar segera setelah dimasukkan, kemungkinan obat belum didorong cukup dalam. Pastikan untuk mendorong obat melewati otot sfingter anus. Anda bisa mencoba memasukkan kembali suppositoria baru dengan mendorongnya lebih dalam secara perlahan.[3]

Bolehkah menggunakan suppositoria saat hamil?

Penggunaan suppositoria selama kehamilan harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Beberapa jenis obat suppositoria aman digunakan saat hamil, namun ada juga yang tidak direkomendasikan. Dokter akan menimbang manfaat dan risiko sebelum meresepkan obat ini.

Mengapa tidak boleh menggunakan Vaseline sebagai pelumas suppositoria?

Petroleum jelly atau Vaseline tidak boleh digunakan sebagai pelumas suppositoria karena dapat menghambat proses pelelahan dan pelarutan obat di dalam tubuh.[1] Gunakan hanya pelumas berbahan dasar air (water-soluble) yang tidak mengganggu penyerapan obat.

Apakah suppositoria bisa digunakan untuk semua usia?

Suppositoria dapat digunakan oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dengan penyesuaian dosis dan kedalaman insersi. Namun, penggunaannya pada bayi baru lahir sebaiknya dihindari kecuali atas arahan dokter karena risiko iritasi pada lapisan rektum yang masih rapuh.[4]

Bagaimana cara membuang suppositoria yang sudah kedaluwarsa?

Suppositoria yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa tidak boleh digunakan dan harus dibuang dengan benar. Periksa petunjuk pada kemasan mengenai cara pembuangan yang tepat, atau konsultasikan dengan apoteker. Jangan membuang obat sembarangan untuk mencegah penyalahgunaan dan pencemaran lingkungan.

Daftar Referensi

  1. Medical News Today. How Do Suppositories Work? Uses, Instructions, and Pictures. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/323008
  2. WebMD. Suppositories: Why You Need Them and How to Use Them. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.webmd.com/digestive-disorders/suppositories-how-to-use
  3. Healthline. Rectal Suppository: Positions, Tips, Side Effects. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.healthline.com/health/general-use/how-to-use-rectal-suppositories
  4. Frontiers in Pharmacology (PMC). Physiological and Pharmaceutical Considerations for Rectal Drug Formulations. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6805701/
  5. AboutKidsHealth. Suppository Instructions. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.aboutkidshealth.ca/suppository-instructions
  6. Research & Reviews: Drug Delivery. Rectal Route of Administration: Pharmacological and Pharmaceutical Considerations. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.rroij.com/open-access/rectal-route-of-administration-pharmacological-andpharmaceutical-considerations.php
  7. IAI Jatim. Begini Cara Penggunaan Suppositoria dan Ovula yang Benar. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://iaijatim.id/begini-cara-penggunaan-suppositoria-dan-ovula-yang-benar/
  8. Alodokter. Obat Suppositoria, Ketahui Jenis hingga Cara Pakainya. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.alodokter.com/obat-suppositoria-ketahui-jenis-hingga-cara-pakainya
  9. Hello Sehat. Obat Suppositoria: Fungsi dan Cara Pakai. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://hellosehat.com/obat-suplemen/suppositoria/
  10. Buckinghamshire Healthcare NHS Trust. How to Use Your Suppositories. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.buckshealthcare.nhs.uk/pifs/how-to-use-your-suppositories/
  11. Medical News Today. Suppository for Constipation: How to Use and Precautions. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/suppository-for-constipation
  12. GoodRx. Suppositories: 8 FAQs (How to Insert and More). Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.goodrx.com/drugs/medication-basics/what-is-suppository
  13. Johns Hopkins Medicine. Your Pharmacist: A Partner for Good Health. Diakses pada 25 Maret 2026, dari https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/your-pharmacist-a-partner-for-good-health

(kpl/fds)

Rekomendasi

Trending