Dalil Maulid Nabi dalam Al Quran dan Hadis, Lengkap dengan Pandangan Ulama

Dalil Maulid Nabi dalam Al Quran dan Hadis, Lengkap dengan Pandangan Ulama
dalil maulid nabi dalam al quran dan hadis (h)

Kapanlagi.com - Peringatan hari kelahiran Rasulullah selalu memunculkan pertanyaan soal landasannya dalam syariat. Karena itu, memahami dalil maulid Nabi dalam Al Quran dan hadis menjadi bekal penting bagi setiap Muslim.

Sebagian kalangan mempersoalkan perayaan ini karena tidak ada di masa Rasulullah. Namun sebagian besar ulama justru menemukan pijakannya pada sejumlah ayat dan riwayat sahih.

Kajian tentang dalil maulid Nabi dalam Al Quran dan hadis mencakup ayat soal rahmat, syukur, hingga cinta kepada Rasul. Semua landasan itu memperkuat alasan umat menyambut kelahiran Nabi dengan penuh kegembiraan.

Mengutip kemenag.go.id, Maulid Nabi merupakan peringatan yang jatuh pada 12 Rabiulawal sebagai wujud cinta kasih umat Muslim kepada Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini kemudian berkembang menjadi tradisi keagamaan yang meneguhkan kembali keteladanan akhlak Rasulullah di tengah masyarakat.

1. Mengenal Makna Maulid Nabi dan Kedudukan Dalilnya

Secara bahasa, kata maulid berasal dari akar kata Arab "milad" yang berarti hari lahir atau kelahiran. Dalam konteks keislaman, istilah ini merujuk pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada bulan Rabiul Awal. Perlu dipahami sejak awal bahwa Al Quran tidak menyebut kata "maulid" secara langsung, sehingga dalilnya bersifat dukungan prinsip, bukan perintah eksplisit.

Karena tidak ada nas yang tegas seperti perintah salat atau puasa, para ulama menyandarkan amalan ini pada ayat dan hadis yang memuat nilai rahmat, rasa syukur, kecintaan kepada Rasul, serta kaidah tentang perbuatan baik. Inilah yang menjadikan pembahasan dalil maulid Nabi dalam Al Quran dan hadis lebih bersifat istinbath atau penyimpulan hukum dari prinsip umum. Menariknya, mereka yang mendukung maupun yang menolak sama-sama sepakat bahwa mencintai Nabi adalah kewajiban setiap Muslim.

Sebagaimana dilaporkan SoundVision, tanggal pasti kelahiran Nabi masih diperdebatkan para sejarawan, dengan sejumlah pendapat menyebut tanggal 2, 8, 10, hingga 12 Rabiul Awal, meski tanggal 12 paling banyak diterima. Perbedaan ini menunjukkan bahwa titik penting perayaan bukan pada ketepatan tanggal, melainkan pada semangat mengenang dan mensyukuri kehadiran Rasulullah. Untuk memahami akar keturunan beliau, pembaca dapat menelusuri silsilah Nabi Muhammad SAW yang bersambung hingga Nabi Ibrahim AS.

Dengan kerangka ini, dalil maulid tidak dipahami sebagai kewajiban ritual, melainkan sebagai bentuk ekspresi cinta yang berpijak pada teks keagamaan. Bulan kelahiran beliau sendiri termasuk salah satu bulan istimewa dalam kalender bulan Islam. Berikut penjabaran dalilnya, dimulai dari Al Quran lalu hadis.

2. Dalil Maulid Nabi dalam Al Quran

Meskipun tidak menyebut istilah maulid secara harfiah, sejumlah ayat kerap dijadikan sandaran spiritual untuk membenarkan kegembiraan atas kelahiran Nabi. Ayat-ayat ini berbicara tentang rahmat, karunia, syukur, dan penghormatan kepada Rasulullah. Berikut enam ayat yang paling sering dikemukakan sebagai dalil maulid Nabi dalam Al Quran dan hadis oleh para ulama.

  1. Surah Yunus Ayat 58 - Ayat ini memerintahkan orang beriman bergembira dengan karunia dan rahmat Allah. Transliterasinya, "Qul bifadlillahi wa birahmatihi fa bizalika falyafrahu, huwa khairum mimma yajma'un", yang berarti anjuran bergembira dengan rahmat Allah. Sebagian mufasir menafsirkan kata rahmat dalam ayat ini sebagai Nabi Muhammad SAW, sehingga kelahiran beliau layak disyukuri.
  2. Surah Al Anbiya Ayat 107 - Berbunyi "Wa ma arsalnaka illa rahmatal lil-'alamin", artinya "Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." Kehadiran Nabi ditegaskan sebagai rahmat teragung, dan mensyukuri rahmat adalah perbuatan terpuji.
  3. Surah Al Ahzab Ayat 56 - Ayat ini memuat perintah bersalawat, "Innallaha wa mala'ikatahu yusalluna 'alan-nabiyy, ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima." Karena inti banyak perayaan maulid adalah pembacaan salawat, ayat ini menjadi landasan yang kuat untuk memperbanyak salawat kepada Nabi.
  4. Surah Ali Imran Ayat 164 - Menegaskan bahwa Allah memberi karunia besar kepada orang beriman dengan mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Diutusnya Nabi disebut sebagai karunia (mannallahu), sehingga wajar bila umat merayakan nikmat teragung ini.
  5. Surah Al Hajj Ayat 77 - Berisi perintah rukuk, sujud, menyembah Tuhan, serta berbuat kebaikan agar beruntung. Kata "al-khair" atau kebaikan bermakna umum, mencakup salawat, sedekah, dan majelis kebaikan yang biasa dilakukan dalam peringatan maulid.
  6. Surah Hud Ayat 120 - Menjelaskan bahwa kisah para rasul diceritakan untuk meneguhkan hati Nabi. Membaca sirah dan mengenang perjalanan hidup Rasulullah dinilai sebagai cara meneguhkan iman umat, yang menjadi inti acara maulid.

3. Dalil Maulid Nabi dalam Hadis

Selain ayat Al Quran, sejumlah hadis dijadikan pijakan untuk membenarkan penghormatan terhadap hari kelahiran Nabi. Beberapa riwayat bahkan menunjukkan bahwa Rasulullah sendiri memuliakan hari lahirnya melalui ibadah. Berikut hadis-hadis yang lazim dikutip terkait pembahasan dalil maulid Nabi dalam Al Quran dan hadis.

  1. Hadis Puasa Senin (HR Muslim) - Ketika ditanya soal puasa hari Senin, Rasulullah menjawab, "Dzalika yaumun wulidtu fihi wa yaumun bu'itstu fihi", yang bermakna hari itu adalah hari beliau dilahirkan dan hari beliau diutus. Riwayat ini menjadi dalil paling kuat karena Nabi sendiri memuliakan hari kelahirannya dengan berpuasa. Pola memuliakan hari lahir dengan ibadah inilah yang menjadi dasar amalan puasa Senin Kamis.
  2. Hadis Balasan Salawat (HR Muslim) - Rasulullah bersabda, "Barangsiapa bersalawat kepadaku satu kali, maka Allah bersalawat kepadanya sepuluh kali." Karena maulid identik dengan pembacaan salawat, hadis ini menunjukkan keutamaan besar bagi yang melantunkannya.
  3. Hadis Manusia Paling Utama (HR Tirmidzi) - Dari Abdullah bin Mas'ud, Nabi menyebut bahwa manusia yang paling dekat dengannya pada hari kiamat adalah yang paling banyak bersalawat kepadanya. Riwayat ini menguatkan anjuran memperbanyak salawat, termasuk dalam majelis maulid.
  4. Hadis Sunnah Hasanah (HR Muslim) - Rasulullah menyatakan bahwa siapa yang memulai suatu perkara baik dalam Islam akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya. Hadis ini menjadi dasar utama bahwa perkara baru yang baik dan tidak menyalahi syariat dapat bernilai pahala.
  5. Hadis Cinta kepada Nabi (Muttafaq Alaih) - Dari Anas bin Malik, Nabi bersabda bahwa iman seseorang belum sempurna sampai beliau lebih dicintai daripada anak, orang tua, dan seluruh manusia. Peringatan maulid dipandang sebagai salah satu ungkapan cinta tersebut.
  6. Hadis Puasa Asyura (HR Bukhari-Muslim) - Saat tiba di Madinah, Nabi mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai syukur atas keselamatan Nabi Musa. Ibnu Hajar menjadikan riwayat ini sebagai dasar bahwa mensyukuri nikmat pada hari tertentu adalah perbuatan terpuji, termasuk puasa Asyura di bulan Muharram.

4. Pandangan Ulama tentang Hukum Maulid Nabi

Perbedaan pendapat ulama soal maulid berpusat pada satu titik, yakni cara mengekspresikan kecintaan kepada Nabi. Mayoritas ulama, terutama dari kalangan mazhab Syafi'i, menggolongkan perayaan maulid sebagai bidah hasanah selama diisi ibadah dan kebaikan. Prinsip yang sering dikutip adalah pandangan Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa maulid memang tidak dilakukan generasi salaf, tetapi tetap bernilai baik jika mencakup kebaikan dan menjauhi keburukan.

Ibnu Taimiyah, dalam kitab Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim, menyatakan, "Mengagungkan kelahiran Nabi dan menjadikannya perayaan tahunan mengandung pahala yang besar karena niat baik dan pengagungan kepada Rasulullah." Imam Abu Syamah, guru Imam Nawawi, dalam kitab al-Ba'its 'ala Inkar al-Bida' wa al-Hawadits menegaskan, "Sebaik-baik perkara baru di zaman kita adalah peringatan hari kelahiran Nabi."

Imam asy-Syaukani dalam kitab al-Badr ath-Thali' menyatakan secara ringkas, "Merayakan hari kelahiran Nabi hukumnya boleh." Imam as-Sakhawi turut menuturkan, "Maulid mulai dilakukan tiga abad setelah Nabi, lalu seluruh negeri Muslim merayakannya dan para ulama menerimanya." Merujuk kajian Syekh Muhammad Tahir-ul-Qadri yang dipublikasikan di academia.edu, telaah menyeluruh atas rujukan Al Quran, hadis, dan pendapat ulama terdahulu digunakan untuk menjawab apakah maulid merupakan penyimpangan atau justru manifestasi cinta kepada Rasulullah.

Di sisi lain, terdapat kelompok ulama yang menolak. Sebagaimana dikutip dari IslamQA.info, disebutkan, "Tidak ada dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa kita harus merayakan Maulid Nabi." Argumen utama kelompok ini adalah tidak adanya contoh dari Nabi maupun para sahabat, serta kekhawatiran tercampurnya perayaan dengan praktik yang menyalahi syariat. Meski berbeda pandangan, kedua kelompok menekankan pentingnya penghormatan dan cinta kepada Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

5. Sejarah Perayaan dan Amalan Maulid Nabi

Menelusuri sejarah membantu meletakkan dalil maulid pada konteks yang utuh. Perayaan ini tidak muncul seketika, melainkan melewati beberapa fase dari masa awal Islam hingga menyebar ke berbagai penjuru dunia. Dilansir dari mui.or.id, Imam al-Suyuthi menyebutkan bahwa raja pertama yang memperingati kelahiran Rasulullah dengan perayaan besar adalah al-Muzhaffar Abu Sa'id Kukburi, penguasa Irbil, yang mengeluarkan dana sangat besar untuk sedekah pada hari peringatan tersebut.

Secara historis, perayaan maulid pertama kali dikenal luas pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, kemudian menyebar melalui tradisi kaum sufi yang meramaikannya dengan zikir dan pembacaan syair pujian. Di Indonesia, tradisi ini berakar kuat dan diisi dengan pembacaan barzanji, salawat, serta pengajian yang mengisahkan perjalanan Nabi. Untuk memahami akarnya lebih jauh, simak ulasan tentang asal usul peringatan Maulid Nabi dan perkembangannya di dunia Islam.

Adapun dalam praktiknya, peringatan maulid diisi dengan berbagai amalan yang bernilai ibadah. Berikut beberapa amalan yang umum dilakukan dan sejalan dengan semangat dalil di atas.

  1. Memperbanyak salawat - Melantunkan salawat sebagai wujud pengamalan Surah Al Ahzab ayat 56 dan penghormatan kepada Nabi.
  2. Membaca Al Quran - Membuka majelis dengan tilawah sebagai bentuk pengagungan sekaligus memohon keberkahan.
  3. Membaca sirah Nabi - Mengisahkan riwayat kelahiran dan perjuangan Rasulullah untuk meneguhkan iman dan kecintaan umat.
  4. Bersedekah dan memberi makan - Berbagi kepada fakir miskin sebagai ekspresi syukur atas kelahiran pembawa rahmat. Pahami lebih dalam arti sedekah dan keutamaannya dalam Islam.
  5. Menghadiri majelis ilmu - Mengikuti pengajian dan tausiah yang membahas keteladanan Nabi. Bagi panitia, tersedia panduan contoh teks MC maulid di masjid.
  6. Meneladani akhlak Rasulullah - Menjadikan momentum ini sebagai pijakan memperbaiki diri dan mempererat ukhuwah antar sesama Muslim.

Pada akhirnya, memahami dalil maulid Nabi dalam Al Quran dan hadis membantu umat menyikapi peringatan ini dengan bijak dan penuh ilmu, tanpa terjebak dalam perdebatan yang memecah belah. Baik yang merayakan maupun tidak, keduanya berpijak pada niat mencintai dan meneladani Rasulullah. Semangat itu bisa dituangkan lewat berbagai cara, mulai dari ucapan Maulid Nabi, rangkaian kata-kata Maulid Nabi, hingga caption Maulid Nabi yang menyentuh hati.

Baca juga: Amalan Maulid Nabi yang Baik Dilakukan beserta Sejarahnya

Baca juga: Kata Mutiara Kalimat untuk Maulid Nabi Penuh Makna

Baca juga: Nama Sahabat Nabi Muhammad dan Perannya dalam Sejarah Islam

Baca juga: Arti Nama Muhammad, Makna dan Signifikansinya dalam Islam

6. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Maulid Nabi

Apakah ada dalil maulid Nabi dalam Al Quran secara langsung?

Tidak ada satu ayat pun yang menyebut kata "maulid" secara eksplisit atau memerintahkan perayaannya. Namun, para ulama menyandarkan amalan ini pada ayat-ayat tentang rahmat, syukur, dan cinta kepada Rasul, seperti Surah Yunus ayat 58, Surah Al Anbiya ayat 107, dan Surah Al Ahzab ayat 56. Dalilnya bersifat penguat prinsip, bukan perintah khusus.

Apakah merayakan Maulid Nabi termasuk bidah?

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Mayoritas ulama menggolongkannya sebagai bidah hasanah selama diisi ibadah seperti salawat, tilawah, sedekah, dan pengajian, serta bebas dari hal yang menyalahi syariat. Sebagian ulama lain menolaknya karena tidak dicontohkan Nabi maupun para sahabat, sehingga umat dianjurkan menyikapi perbedaan ini dengan bijak.

Kapan Maulid Nabi pertama kali dirayakan?

Perayaan maulid tidak dikenal pada masa Rasulullah maupun para sahabat. Secara historis, perayaan ini mulai dikenal luas pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, lalu dirayakan secara besar-besaran oleh al-Muzhaffar Kukburi, penguasa Irbil, yang menggelarnya dengan penuh kemeriahan dan sedekah kepada masyarakat.

Daftar Referensi

  1. SoundVision.com. Mawlid Celebrations: Historical and Contemporary. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://www.soundvision.com/article/mawlid-celebrations-historical-and-contemporary
  2. IslamQA.info. Celebrating Mawlid al-Nabi (Muhammad's Birthday): Allowed? Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://islamqa.info/en/answers/249
  3. Academia.edu. Mawlid al-Nabi: Celebration and Permissibility. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://www.academia.edu/5837336/Mawlid_al_Nabi_Celebration_and_Permissibility
  4. MUI. Majelis Ulama Indonesia. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://mui.or.id
  5. Kementerian Agama RI. Diakses pada 21 Agustus 2026, dari https://www.kemenag.go.id

(kpl/cel)

Rekomendasi

Trending