Ini Perbedaan Monstera dan Philodendron Beserta Cara Merawatnya, Jangan Salah
monstera tumbuh cantik di dalam pot (Image by Freepik)
Kapanlagi.com - Monstera dan Philodendron menjadi dua tanaman hias yang paling sering disamakan karena sama-sama menghadirkan nuansa tropis di dalam rumah. Bentuk daun yang sama-sama hijau dan dimiliki oleh keluarga Araceae membuat banyak orang, terutama pemula, kesulitan membedakan keduanya.
Padahal, meski berasal dari keluarga botani yang sama, Monstera dan Philodendron merupakan dua genus yang berbeda. Masing-masing memiliki karakteristik morfologi, pola pertumbuhan, hingga kebutuhan perawatan yang tidak sepenuhnya sama.
Dalam kajian klasifikasi aroid yang ditulis Dr. Thomas B. Croat melalui A Review of the Genus Philodendron for Central America (Jurnal Aroideana, 1997), setiap genus berkembang dengan adaptasi morfologi yang berbeda sesuai habitat aslinya di hutan hujan tropis. Perbedaan tersebut terlihat jelas apabila diamati dari struktur daun, batang, hingga pola pertumbuhannya.
Advertisement
1. Cara Membedakan Monstera dan Philodendron dari Ciri Fisiknya
Perbedaan paling mendasar terletak pada identitas genus masing-masing. Monstera dikenal sebagai tanaman yang mampu membentuk lubang alami pada daunnya melalui proses biologis tertentu, sedangkan Philodendron mempunyai ciri khas berupa selubung pelindung yang membungkus pucuk daun muda sebelum membuka sempurna.
Perbedaan juga tampak pada struktur internal tanaman. Monstera memiliki jaringan yang lebih kokoh dengan pelepah tebal sehingga mampu menopang daun berukuran besar. Sebaliknya, Philodendron mempunyai sistem vaskular yang lebih lentur dengan tingkat turgor batang yang tinggi sehingga getahnya lebih mudah keluar ketika batang mengalami gesekan.
Dari sisi tampilan, Monstera menghadirkan kesan tropis yang tegas melalui daun berukuran besar dengan lubang-lubang khas. Sementara itu, Philodendron menawarkan penampilan yang lebih rimbun karena bentuk daunnya sangat beragam, mulai dari menyerupai hati, memanjang, hingga memiliki permukaan seperti beludru.
Perbedaan bentuk daun
Daun menjadi bagian yang paling mudah digunakan untuk mengenali kedua tanaman ini. Dalam buku Aroids: Plants of the Arum Family karya Deni Bown (2000), dijelaskan bahwa daun Monstera berevolusi hingga mampu tumbuh jauh lebih besar dibanding banyak tanaman lantai hutan tropis lainnya.
Monstera dewasa dapat menghasilkan daun berdiameter lebih dari satu meter ketika tumbuh di habitat alaminya. Ukuran tersebut membuat tanaman ini membutuhkan ruang yang cukup lega apabila dipelihara di dalam rumah.
Sebaliknya, daun Philodendron umumnya lebih kecil, rapat, dan mudah ditempatkan di berbagai sudut ruangan karena pertumbuhannya lebih kompak.
Ciri lain yang paling mudah dikenali adalah keberadaan lubang pada daun. Monstera mempunyai fenestrasi, yaitu lubang oval alami yang muncul di bagian tengah helaian daun tanpa memutus bagian tepinya, seperti pada Monstera adansonii.
Philodendron tidak memiliki kemampuan genetik untuk membentuk lubang seperti itu. Permukaan daunnya tetap utuh, meskipun beberapa spesies memiliki belahan yang memanjang dari tepi daun menuju ke bagian dalam.
Tekstur keduanya pun berbeda. Daun Monstera terasa lebih tebal, kaku, dan mengilap karena memiliki lapisan kutikula yang cukup tebal. Sementara tekstur daun Philodendron sangat beragam, mulai dari licin hingga berbulu halus dengan kesan seperti kain beludru.
Batang dan akar udara juga memiliki karakter berbeda
Selain daun, batang menjadi petunjuk penting untuk mengenali kedua tanaman hias ini. Penelitian Alistair Hay dalam The Genera of Araceae (1999) menjelaskan bahwa struktur buku batang merupakan salah satu indikator pembeda utama antargenus dalam keluarga Araceae.
Batang Monstera umumnya berwarna hijau tua dan perlahan berubah menjadi abu-abu kecokelatan seiring bertambahnya usia tanaman. Ruas antarbatangnya pendek dan kokoh sehingga mampu menopang daun yang besar.
Philodendron justru mempunyai variasi warna batang yang lebih luas. Beberapa spesies memiliki tangkai berwarna merah, ungu kecokelatan, hingga hijau muda dengan corak garis putih. Ruas batangnya pun lebih panjang dan lentur sehingga tanaman lebih mudah mengikuti arah datangnya cahaya.
Perbedaan juga terlihat pada akar udara. Monstera menghasilkan akar udara yang besar, panjang, dan kuat sebagai penopang ketika memanjat pohon. Sementara itu, akar udara Philodendron berukuran lebih kecil, tumbuh lebih banyak di setiap buku batang, dan berfungsi membantu tanaman menempel pada media rambat yang lembap.
2. Perbedaan Pola Tumbuh dan Cara Merawat Monstera serta Philodendron
Habitat asli di hutan hujan tropis membuat Monstera dan Philodendron sama-sama menyukai lingkungan yang lembap. Namun, strategi pertumbuhan keduanya berkembang dengan cara yang berbeda sehingga memengaruhi penempatan dan perawatannya di rumah.
Monstera dikenal sebagai tanaman epifit atau hemiepifit yang cenderung tumbuh memanjat pohon untuk memperoleh cahaya. Sebaliknya, banyak jenis Philodendron mampu tumbuh merambat, menjuntai, bahkan membentuk rumpun tanpa harus bergantung pada batang pohon.
Perbedaan karakter tersebut menjadi alasan mengapa kebutuhan cahaya, media tanam, hingga penyiraman keduanya tidak bisa disamakan.
Pola tumbuh yang tidak sama
Monstera umumnya tidak tumbuh menjuntai secara alami. Jika tidak diberi penyangga, batangnya akan merayap di permukaan tanah hingga menemukan objek yang dapat dipanjat.
Saat berada di habitat aslinya, Monstera memanjat batang pohon menggunakan akar udara yang besar dan kuat. Pada fase awal pertumbuhan di lantai hutan, tanaman ini lebih dulu menjalar secara horizontal sebelum akhirnya tumbuh ke arah vertikal.
Philodendron memiliki karakter yang lebih beragam. Banyak spesies tumbuh menjuntai sehingga sering dimanfaatkan sebagai tanaman gantung. Ada pula jenis yang memanjat menggunakan akar lekat pendek, sementara beberapa lainnya termasuk tipe self-heading yang membentuk rumpun padat tanpa memanjat.
3. Kebutuhan Cahaya, Air, dan Media Tanam Berbeda
Walaupun sama-sama menyukai kelembapan tinggi, kebutuhan lingkungan tumbuh kedua tanaman ini memiliki perbedaan yang cukup jelas.
Monstera membutuhkan cahaya terang yang tidak mengenai daun secara langsung (bright indirect light). Kekurangan cahaya dapat menyebabkan daun baru tumbuh lebih kecil dan tidak membentuk lubang atau fenestrasi yang menjadi ciri khasnya.
Philodendron lebih toleran terhadap pencahayaan rendah. Tanaman ini masih dapat mempertahankan warna daunnya meski ditempatkan di sudut ruangan yang tidak terlalu terang.
Perbedaan juga terlihat dari kebutuhan air. Monstera sebaiknya disiram setelah bagian atas media tanam benar-benar mengering agar akar tidak mudah membusuk akibat kelebihan air.
Sebaliknya, Philodendron memiliki akar serabut yang lebih sensitif terhadap kondisi terlalu kering. Karena itu, media tanamnya sebaiknya tetap dijaga dalam kondisi lembap tanpa sampai tergenang.
Media tanam Monstera idealnya memiliki porositas tinggi, misalnya campuran cacahan pakis, bark, perlite, dan sedikit kompos agar sirkulasi udara di sekitar akar tetap baik.
Philodendron lebih cocok menggunakan media yang mampu menyimpan kelembapan secara merata, seperti campuran cocopeat, sekam bakar, dan sedikit pasir malang.
Dalam hal pemupukan, Monstera merespons baik pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi untuk mendukung pertumbuhan daun. Sementara Philodendron lebih aman diberi pupuk NPK seimbang dalam dosis encer agar tidak memicu penumpukan garam yang dapat merusak akar.
4. Mana yang Lebih Tepat untuk Pemula?
Bagi orang yang baru mulai memelihara tanaman hias, Philodendron berdaun licin seperti Philodendron hederaceum atau Philodendron cordatum umumnya dianggap lebih mudah dirawat.
Tanaman ini mampu beradaptasi terhadap perubahan kelembapan ruangan dan masih dapat tumbuh baik meski mendapatkan cahaya yang terbatas. Selain itu, bentuk daunnya relatif stabil sehingga tidak mudah berubah akibat kesalahan penempatan.
Monstera juga tetap dapat menjadi pilihan bagi pemula selama tersedia pencahayaan yang cukup, terutama dari jendela yang memperoleh sinar matahari pagi.
Kunci utamanya adalah menghindari penyiraman berlebihan (overwatering). Dengan pengaturan air yang tepat dan media tanam yang poros, Monstera dapat tumbuh sehat serta menghasilkan daun berlubang yang menjadi daya tarik utamanya.
5. Monstera Bukan Bagian dari Genus Philodendron
Salah satu kesalahpahaman yang masih sering ditemukan adalah anggapan bahwa Monstera termasuk jenis Philodendron. Secara klasifikasi botani, anggapan tersebut tidak benar.
Kedua tanaman memang sama-sama berada dalam keluarga Araceae, tetapi masing-masing merupakan genus yang berbeda dan berkembang melalui jalur evolusi tersendiri.
Kesalahan penyebutan ini muncul sejak lama karena tanaman Monstera deliciosa muda pernah dipasarkan dengan nama dagang Split-leaf Philodendron. Saat masih muda, bentuk daunnya memang tampak mirip dengan beberapa jenis Philodendron sehingga banyak orang mengira keduanya merupakan tanaman yang sama.
Memahami nama ilmiah tanaman menjadi langkah penting agar perawatan tidak keliru. Monstera membutuhkan sirkulasi udara pada media tanam yang lebih baik serta cahaya yang lebih terang untuk membentuk fenestrasi, sedangkan banyak jenis Philodendron lebih nyaman tumbuh pada kondisi teduh dengan kelembapan yang stabil.
Selain itu, perlu diketahui bahwa Monstera deliciosa dapat menghasilkan buah yang aman dikonsumsi apabila benar-benar matang. Buah yang masih muda mengandung kristal kalsium oksalat tinggi sehingga dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan.
Seluruh bagian tanaman Monstera maupun Philodendron juga mengandung kristal kalsium oksalat yang bersifat beracun bagi hewan peliharaan seperti kucing dan anjing apabila tergigit atau tertelan.
Untuk menjaga pertumbuhan Monstera dewasa tetap optimal, penggantian pot dan media tanam umumnya dilakukan setiap dua hingga tiga tahun, terutama ketika akar sudah memenuhi pot atau pertumbuhan daun mulai melambat akibat media tanam kehilangan nutrisi.
(kpl/mda)
Advertisement
D Academy 8
-
Dangdut Academy Mila Nurwanti Sebut April Sebagai Pesaing Terberat di D'Academy