Maulid Nabi Muhammad SAW: Pengertian, Sejarah, Dalil, dan Keutamaannya
maulid nabi muhammad saw (h)
Kapanlagi.com - Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW yang dirayakan umat Islam di berbagai belahan dunia. Momentum ini menjadi wujud kecintaan sekaligus penghormatan kepada sosok yang menjadi teladan utama bagi seluruh umat.
Secara bahasa, kata maulid berasal dari bahasa Arab yang bermakna kelahiran atau hari lahir. Dilansir dari Britannica, peringatan ini menandai hari lahir Nabi Muhammad yang secara tradisional diperingati pada tanggal 12 Rabiulawal dalam kalender Hijriah.
Lebih dari sekadar seremoni, peringatan maulid nabi muhammad saw menjadi sarana meneladani akhlak dan perjuangan beliau. Pemahaman tentang pengertian, sejarah, dalil, hingga keutamaannya akan membuat peringatan ini terasa lebih bermakna.
Advertisement
1. Pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW
Secara istilah, Maulid Nabi Muhammad SAW adalah perayaan tahunan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, yang diyakini umat Islam sebagai nabi dan rasul terakhir. Kata maulid sepadan dengan milad yang dalam bahasa Arab berarti hari kelahiran, sehingga istilah ini secara harfiah bermakna kelahiran sang Nabi.
Istilah Maulid berasal dari kata Arab yang berarti kelahiran dan diperingati pada 12 Rabiulawal, bulan ketiga dalam kalender lunar Islam. Dr. Attia Youseif, dikutip dari blog Indiana University, menyatakan, "Maulid Nabi bukan sekadar tradisi budaya, melainkan sebuah praktik spiritual."
Peringatan ini identik dengan bulan Rabiulawal, bulan yang justru menjadi istimewa karena kelahiran Nabi Muhammad SAW di dalamnya. Banyak umat memaknai bulan Rabiulawal sebagai waktu untuk memperbanyak selawat, kajian sirah, serta amal kebaikan.
Secara etimologi pun banyak sumber sepakat bahwa akar kata maulid menunjuk pada momen kelahiran. Untuk memperdalam maknanya, umat kerap merenungkannya melalui kata-kata mutiara Maulid Nabi yang sarat pesan keteladanan.
Baca juga: Mengenal 12 nama bulan Hijriah dalam kalender Islam
2. Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak dikenal pada masa Rasulullah masih hidup. Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkan para sahabat untuk merayakan hari kelahirannya, dan tradisi Maulid baru muncul beberapa abad setelah beliau wafat. Uraian mengenai sejarah Maulid Nabi membantu memahami bagaimana tradisi ini berkembang.
Menurut catatan sejarah, perayaan ini pertama kali berkembang di lingkungan Dinasti Fatimiyah di Mesir. Sejarawan Jonathan A.C. Brown dalam bukunya Muhammad: A Very Short Introduction menuliskan, "Maulid atau hari lahir Nabi kemungkinan berasal dari perayaan Syiah terdahulu atas kelahiran Ali." Ia mencatat, pada 1123 Masehi Dinasti Fatimiyah yang bermazhab Syiah di Mesir mulai menggelar perayaan hari kelahiran Nabi secara terbuka dengan membagikan manisan dan sedekah kepada masyarakat.
Merujuk catatan Calendarr, perayaan Maulid publik pertama di kalangan Sunni digelar oleh panglima Muzaffar al-Din Gokburi pada 1207 di Erbil, Irak. Gokburi yang masih berkerabat dengan Salahuddin al-Ayyubi menyelenggarakan perayaan besar, menyembelih ribuan hewan, dan konon menghabiskan sekitar 300.000 dirham, sehingga tradisi ini kian populer di kalangan pengikut tasawuf.
Kemunculan perayaan Maulid juga kerap dikaitkan dengan kebutuhan umat untuk bersatu di sekitar figur Nabi pada masa krisis, termasuk ketika pasukan Salib menguasai sebagian wilayah Syam dan Palestina. Dari titik inilah tradisi Maulid menyebar luas ke berbagai negeri hingga sampai ke Nusantara.
3. Hukum dan Pandangan Ulama tentang Maulid Nabi
Status hukum peringatan Maulid termasuk salah satu topik yang paling banyak diperbincangkan dalam kajian keislaman. Secara garis besar, mayoritas ulama Sunni dan hampir seluruh ulama Syiah membolehkannya, sementara sebagian ulama, khususnya dari kalangan Salafi, menolaknya.
Kelompok yang membolehkan umumnya memandang Maulid sebagai bidah hasanah atau inovasi yang baik, selama diisi kegiatan yang sesuai syariat. Ibn Hajar al-Asqalani, dikutip dari IslamQA, menyatakan, "Bidah dalam pengertian syariat itu tercela, berbeda dengan bidah dalam pengertian bahasa."
Adapun kelompok yang menolak berpendapat bahwa Maulid tidak pernah dicontohkan Nabi maupun para sahabat, sehingga dinilai sebagai bidah yang tidak berdasar. Sebagian kalangan bahkan memilih tidak menjadikannya perayaan resmi dan lebih menekankan ibadah yang bersifat pribadi.
Di tengah perbedaan itu, sikap yang bijak adalah saling menghormati kedua pandangan karena masing-masing memiliki argumen yang kuat. Yang terpenting, peringatan diarahkan untuk meneladani akhlak para nabi, memperbanyak ibadah, dan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan nilai Islam.
4. Keutamaan dan Tujuan Memperingati Maulid Nabi
Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW menyimpan sejumlah keutamaan dan tujuan yang mendalam bagi umat Islam. Perayaannya tidak berhenti pada seremoni, tetapi diarahkan untuk memperkuat iman dan kecintaan kepada Rasulullah.
Umat Islam meyakini kelahiran Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi semesta, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Anbiya ayat 107. Berikut sejumlah keutamaan dan tujuan memperingati Maulid Nabi:
- Wujud syukur atas kelahiran Nabi - Kehadiran Rasulullah adalah nikmat besar sehingga memperingatinya menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
- Menumbuhkan cinta kepada Rasulullah - Momen ini menyuburkan kecintaan umat, yang kerap diungkapkan lewat kata-kata mutiara untuk Rasulullah.
- Meneladani sifat mulia Nabi - Maulid mengingatkan umat pada sifat wajib rasul, yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.
- Mempelajari sirah Nabi - Peringatan ini menjadi kesempatan mengkaji perjalanan hidup Nabi, termasuk kedudukannya di antara 25 nabi dan rasul.
- Mempererat ukhuwah Islamiyah - Berkumpulnya umat dalam pengajian dan perayaan memperkuat tali persaudaraan.
- Momentum memperbanyak ibadah - Maulid mendorong umat memperbanyak selawat, sedekah, dan amal saleh lainnya.
5. Amalan dan Tradisi Perayaan Maulid Nabi
Ada beragam amalan dan tradisi yang lazim dilakukan umat Islam untuk menyemarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bentuknya bervariasi di setiap negara sesuai budaya masing-masing.
Berdasarkan data EBSCO, di banyak negara mayoritas muslim Maulid ditetapkan sebagai hari libur nasional yang dimeriahkan dengan pawai, festival, pembacaan syair, dan kegiatan amal; perayaannya bahkan meluas hingga negara nonmuslim seperti Amerika Serikat dan Kanada. Berikut amalan yang umum dianjurkan saat Maulid Nabi:
- Memperbanyak selawat - Umat dianjurkan melantunkan bacaan selawat Nabi, misalnya "Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina Muhammad" yang berarti "Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad".
- Membaca Al-Qur'an dan kajian sirah - Membaca ayat suci dan menyimak riwayat hidup Nabi menghidupkan makna peringatan.
- Bersedekah dan menyantuni anak yatim - Berbagi kepada sesama menjadi wujud nyata meneladani kedermawanan Rasulullah.
- Menggelar pengajian dan tabligh akbar - Acara di masjid biasanya dipandu pembawa acara dengan teks MC Maulid yang tertata.
- Melantunkan syair pujian - Selawat populer seperti Sholawat Jibril dan syair Hayyul Hadi kerap dikumandangkan.
- Menyebarkan ucapan kebaikan - Banyak orang berbagi ucapan Maulid Nabi dan kata-kata Maulid Nabi di media sosial.
Di Indonesia, perayaan Maulid berpadu dengan kekayaan budaya lokal. Di Jawa, misalnya, Maulid dirayakan lewat tradisi Sekaten yang berlangsung sepekan dengan pertunjukan gamelan, pawai, dan pasar rakyat. Tradisi lain yang masih lestari antara lain Grebeg Maulud di Solo, Endog-endogan di Banyuwangi, Weh-wehan di Kendal, Ampyang Maulid di Kudus, hingga Walima di Gorontalo.
Selain menghadiri perayaan, umat juga dapat menyemarakkan momen ini secara personal. Membagikan caption Maulid Nabi atau caption IG tentang Maulid Nabi, menuliskan kata-kata Maulid untuk media sosial, hingga membiasakan memperbanyak selawat di hari-hari penuh berkah adalah cara sederhana merawat kecintaan kepada Nabi.
Baca juga: Keutamaan dan cara mengamalkan selawat
6. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW
Apa itu Maulid Nabi Muhammad SAW?
Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan tahunan atas hari kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada 12 Rabiulawal. Peringatan ini menjadi wujud syukur, penghormatan, sekaligus sarana meneladani akhlak mulia Rasulullah.
Kapan Maulid Nabi diperingati pada 2026?
Maulid Nabi selalu diperingati setiap 12 Rabiulawal dalam kalender Hijriah. Pada 1448 Hijriah, peringatan tersebut diperkirakan jatuh pada akhir Agustus 2026 dalam penanggalan Masehi.
Apa hukum merayakan Maulid Nabi?
Hukum merayakan Maulid termasuk hal yang diperdebatkan para ulama. Mayoritas ulama Sunni membolehkannya sebagai bidah hasanah selama diisi kegiatan yang sesuai syariat, sementara sebagian ulama lain menolaknya karena tidak dicontohkan pada masa Nabi.
Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan pengingat untuk menghidupkan kembali nilai keteladanan Rasulullah dalam keseharian. Dengan memahami pengertian, sejarah, hukum, hingga keutamaannya, peringatan ini dapat menjadi jalan memperkuat iman, cinta kepada Nabi, dan kepedulian terhadap sesama.
Daftar Referensi
- Britannica. Mawlid: Meaning, Importance, Celebration, and Facts. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.britannica.com/topic/mawlid
- Indiana University (Muslim Voices). Al-Mawlid Al-Nabawi: A Global Celebration of the Prophet Muhammad's Birth. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://blogs.iu.edu/muslimvoices/2024/09/15/al-mawlid-al-nabawi-a-global-celebration-of-the-prophet-muhammads-birth-by-dr-attia-youseif/
- EBSCO Research Starters. Mawlid. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.ebsco.com/research-starters/religion-and-philosophy/mawlid
- Calendarr. Mawlid an-Nabi (Eid-e-Milad an-Nabi). Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.calendarr.com/united-states/mawlid-an-nabi-eid-e-milad-an-nabi/
- IslamQA. Response Regarding Celebrating the Prophet's Birthday (Mawlid). Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://islamqa.info/en/answers/128530
(kpl/ums)
Advertisement
D Academy 8
-
Selebritis Pacaran Zahra DA7 dan Eby Rizta Bawakan Ulang 'Saat Bahagia' Versi Dangdut
-
Dangdut Indonesia Fahri Labuan Batu Tersenggol dari Top 31 Group 5, Tetap Tegar
-
Dangdut Academy Mila Nurwanti Sebut April Sebagai Pesaing Terberat di D'Academy
