INDONESIA

[Review] 'BANGKITNYA SUSTER GEPENG', Menagih Janji Sehidup Semati

Senin, 15 Oktober 2012 17:30  | 

Roro Fitria


[Review] 'BANGKITNYA SUSTER GEPENG', Menagih Janji Sehidup Semati
Sumber: KapanLagi.comŽ




KapanLagi.com - Oleh: Puput Puji Lestari

Film dibuka dengan perjalanan dua pasang kekasih, Keiko Larasati Hirosuke (Aelke Mariska), Dodo (Andreano Phillip), Hendri (Shiddiq Kamidi) dan Sita (Baby Margaretha) dengan mengenakan mobil. Selama di perjalanan, merek mengalami serangkaian kejadian aneh.

Awalnya mereka berfikir kejadian aneh itu akibat Keiko yang suka berhalusinasi berlebihan. Keiko mengaku melihat penampakan, perjalanan mereka mulai tidak nyaman dengan kegelisahan Keiko. Terlebih mereka mendengar suara teror setan di radio yang menuntut balas pada Sato Hirosuke, kakek Kei yang tinggal di Jepang. Dihantui rasa penasaran, Keiko bertanya pada Kakek Kei melalui telepon.

Akhirnya terungkap, bahwa saat masih menjadi tentara Jepang, Sato muda (Alfian) terluka ditolong oleh perawat Larasati (Roro Fitria). Keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Sato berjanji akan kabur bersama Larasati. Nyatanya Sato tak menepati janjinya. Malah, Sato diam saja saat komandannya menjepitkan Larasati di sela-sela pintu lift hingga mati gepeng.

Sejak teror malam itu, Keiko mengalami teror-teror lain dengan munculnya Suster Gepeng yang bersimbah darah dan selalu mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jepang "Yakusoku wa shakkindesu. Inochi ga kiken narudarou!" yang berarti "Janji adalah hutang, nyawa taruhannya."

Keiko yang merasa terancam tidak bisa diam diri. Entah mendapat keberanian darimana, Keiko menantang Suster Gepeng dengan mendatangi rumah sakit kuno tempat suster gepeng mati. Kondisi rumah sakitnya masih utuh dan tidak jauh berbeda, seolah rentan waktu 67 tahun kemerdekaan membeku. Aksi nekad tersebut berbuntut kematian satu per satu teman Keiko.  
 
Review:
Ada beberapa "bonus" yang bisa anda dapatkan ketika menonton film BANGKITNYA SUSTER GEPENG. Pertama, menebak-nebak adegan yang sama dengan film lain. Menikmati perjalanan waktu yang super ajaib ala pintu ajaib sebuah tokoh kartun dengan tidak konsistennya setting film ini. Dan tentu saja bonus peran seksi yang menonjolkan bagian tubuh tertentu.  Tanpa ingin memberikan spoiler untuk pembaca, saya coba buktikan adanya banyak bonus tersebut.

Pertama pemeran hantu, hampir semua gerak-gerik dan perwujudannya menyerupai Sadako 3D. Bahkan hingga cara mengagetkan penontonnya sangat mirip. Rumah sakit tempat suster Larasati bekerja jelas bukan rumah sakit bertingkat, masih bisa dipahami jika sutradara membuat lift manual. Namun, setelah lift tertutup, tali super canggih yang menarik lift melunturkan cerita yang settingnya diambil tahun 1945 itu.

Nama Roro Fitria, sebagai seorang model majalah pria dewasa jelas tidak keberatan jika harus tampil seksi. Tapi yang menyiksa, keseksian Roro dibuat-buat dengan menghadirkan seragam perawat berbelahan rendah, sangat rendah. Siksaan itu jelas kata-kata kiasan, karena bagi anda yang memang niat dari awal menonton film ini untuk mencari gambar seksi tentu siksaan itu jadi kesenangan.

Yang paling parah dari film ini adalah tidak dicantumkannya nama sutradara. Memakai nama K-Team, sutradara sepertinya bukan jadi orang penting lagi bagi sang produser KK Dheeraj dalam memproduksi film.

 

(kpl/uji/dka)