'COLD MOUNTAIN': Saat Kesetiaan Menyatu dengan Ketakutan

KapanLagi.com - Bukan hanya sebuah film romantis tahun ini namun COLD MOUNTAIN juga didaulat sebagai film terbaik. Sebuah film besutan sutradara yang juga seorang penulis Anthony Minghella, yang sebelumnya menelorkan sebuah film peraih Oscar THE ENGLISH PATIENT.

Minghella mengusung sebuah novel karya Charles Frazier yang menuturkan bersatunya kesetiaan dan ketakutan yang tak pernah tetap, bisa berakhir di awal maupun di akhir. COLD MOUNTAIN dilatar belakangi perjalanan di era Perang Saudara, seorang prajurit yang kembali menjumpai kekasihnya yang telah setia menunggunya selama bertahun-tahun. Bisa disepadankan dengan kisah klasik antara Odysseus-Penelope karya Homer, Inman (Jude Law) dan Ada (Nicole Kidman) menghadapi sebuah halangan yang sulit diatasi, yang diwarnai bahaya dan godaan.

Film dibuka dengan sebuah peperangan Petersburg di Virginia, sebuah gambaran yang membawa kita dalam sebuah kerusuhan bermandikan darah, lumpur dan aroma kematian. Saat terluka parah Inman dikirim ke sebuah rumah sakit bersamaan dengan datangnya surat dari Ada yang memohonnya untuk kembali padanya, "Jika kau berperang berhentilah berperang, jika kau berbaris, berhentilah berbaris. Kembalilah padaku."

Berjalan tertatih-tatih Inman meninggalkan rumah sakit berjalan ratusan mil dengan satu tujuan, sebuah kota kecil Cold Mountain, North Carolina. Sebuah pengembaraan yang bukan hal mudah untuk dilakoni, bayangan Home Guard (para penjaga yang tenar dengan kebrutalannya dan siap menembak mati para deserter-prajurit yang lari dari dinas) selalu siap mengintai setiap waktu, bahkan tak segan menembak mati mereka.

Semuanya tak berjalan mulus, sebut saja Ada, yang merupakan anak perempuan seorang duda (Donald Sutherland) yang harus mengasuh ayahnya sepeninggal ibunya, bukanlah seorang wanita abad 19an. Ada memang fasih berbicara perancis, bermain piano, namun sama sekali tak bisa memasak sebutir telur, bahkan terlalu kasihan untuk menyakiti seekor ayam jago. Sampai datanglah Ruby (ReneŽ Zellweger), seorang wanita gunung yang sudah terbiasa menyembelih seekor ayam, mengajari Ada bagaimana bertahan hidup di dunia nyata, dan sebaliknya Ada mengajari Ruby tentang sastra dan puisi.

Sementara itu dalam perjalanan menuju Cold Mountain, Inman berjumpa seorang pendeta (Philip Seymour Hoffman), seorang pemuda hutan yang licik (Giovanni Ribisi) dan tiga orang penggoda laki-laki. Namun dari semua perjumpaan tersebut, satu hal yang tak bisa dilupakan Inman adalah saat dia berjumpa dengan seorang janda muda cantik (Natalie Portman), yang mungkin tak pernah ada tahu akankah dia dan bayinya bisa bertahan hidup sampai perang berakhir atau mungkin sampai musim semi depan.

Bukan sebuah kisah klasik tentang Perang Saudara-nya David O. Selznick. Bahkan Tara dan Twelve Oaks tak memiliki hubungan dengan kerasnya pegunungan Blue Ridge. Namun satu hal yang patut kita cermati, saat ungkapan-ungkapan perang dan para pengembara gunung mulai berteriak layaknya GONE WITH THE WIND, maupun bersikap keras kepala, aristocrat yang rasis.

Lelaki-lelaki dalam COLD MOUNTAIN mungkin lebih umum dengan Ratso Rizzo dibanding Ashley Wilkes. Satu hal yang tak pernah mereka jumpai dalam perjalanan adalah seorang budak, namun bagi mereka perang adalah sebuah kebanggaan, sebuah cara dimana Yankees tak bisa memerintah kaum Selatan. Kemaskulinan dan sisi laki-laki mereka mulai muncul saat salah satu karakter berujar, "Mereka dikirim ke medan perang hanya dengan 'sebuah bendera dan sebuah kebohongan.'

Minghella, menulis naskah skenarionya sendiri meskipun masih terpaku dengan novel aslinya- bukanlah sebuah kejadian sambil lalu, namun lebih memiliki irama, sebuah gabungan romantisnya kisah cinta, pengembaraan liar, sebuah renungan akan ketakutan dan kejamnya perang, berbaur menjadi satu membentuk sebuah kisah yang luar biasa dramatis. Hanya satu hal yang dirindukan Minghella pada tulisan Frazier adalah kurangnya penggambaran indahnya bukit, karang-karang, aliran sungai serta megahnya pegunungan. Namun cinematography garapan John Seale semakin membuat film terasa lebih mendalam, keindahan pesona alamnya tergambar habis dalam film ini.

Portman dan Eileen Atkins menawarkan akting yang mempesona meskipun mereka hanya tampil selama lima menit, namun kehadiran mereka cukup memberi arti dengan penampilan mereka yang tajam, pedas, mengharukan dan menyedihkan.

Penampilan Hoffman sebagai penganut Tuhan serta kehadiran Annie Oakley memberikan sedikit gambaran komik kasar yang mengiringi kelembutan yang disuguhkan Law dan Kidman dalam sebuah kisah cinta yang tajam. Akting yang disuguhkan tiga bintang utama Law, Kidman dan Zellweger sukses mendorong mereka meraih nominasi Golden Globe, bahkan mungkin nominasi Oscar tak akan melewatkan mereka.

Seperti halnya kisah trilogy kepahlawanan-nya Peter Jackson THE LORD OF THE RINGS, COLD MOUNTAIN adalah sebuah film adaptasi novel berintelijensi tinggi yang diusung ke layar lebar yang pernah dibuat. Seperti halnya pengabdian dan perjuangan pahlawan-pahlawan dalam kisah ini, film ini benar-benar sebuah kisah perjalanan sejati. (rita)

(kpl/rit)

Rekomendasi

Trending