KOREA

Lay EXO Putuskan Kontrak dengan Samsung Karena One China Policy, Apa Itu?

Rabu, 14 Agustus 2019 13:35 Penulis: Rahmi Safitri

Lay EXO © Lay Zhang Studio

Kapanlagi.com - Banyak yang bertanya-tanya kenapa Lay sampai sekarang belum juga beraktivitas dengan EXO. Selain penuh jadwal di negaranya, adalah masalah politik antara China dan Korea sejak 2016. Ini semua diawali saat Amerika Serikat menempatkan sistem pertahanan rudal Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) di Korsel. China merasa terganggu dengan penempatan THAAD tersebut yang mengakibatkan mereka membatasi segala bentuk bisnis dari Korsel, termasuk K-Drama dan K-Pop.

Lay kini jadi pembicaraan lagi setelah memutuskan kontraknya dengan salah satu brand besar Korea, Samsung. Tapi kali ini masalahnya bukan karena THAAD melainkan One China Policy atau Kebijakan Satu Tiongkok. 

Buat yang belum tahu One China Policy adalah kebijakan yang menyatakan kalau Republik Rakyat Tiongkok adalah pemerintah resmi dari seluruh China daratan termasuk Tibet, Hong Kong, Taiwan, dan Macau. Jika semua negara di dunia ingin punya hubungan diplomatik dengan China, mereka harus menerapkan kebijakan tersebut dengan menghindari hubungan resmi dengan Taiwan dkk. Bagi China, Taiwan dll adalah provinsi yang suatu hari nanti akan kembali pada mereka.

1. Lay Putuskan Kontrak dengan Samsung

Lalu apa hubungan Lay dengan Samsung?

Selasa malam (13/8/2019) seperti dilansir dari Koreaboo, agensi Lay di China menyatakan telah memutuskan kontrak dengan Samsung Electronics setelah mereka melakukan pengamatan terhadap brand tersebut, terkait dengan One China Policy. Mereka lalu menyatakan kalau bendera negara-negara yang ada di situs global milik Samsung Electronics tidak memenuhi syarat One China Policy.

Samsung Electronics memang menganggap kalau Hong Kong dan Taiwan adalah negara yang berdiri sendiri. Samsung memasang bendera Taiwan dan Hong Kong serta tidak menggabungkan mereka ke dalam satu bendera China.

2. Pernyataan Agensi

"Samsung Electronics telah sangat menyinggung perasaan nasionalisme rekan-rekan di China karena menjadi ambigu tentang kedaulatan dan wilayah kita. Kami ingin menyampaikan penyesalan tapi tidak akan memberi toleransi. Kami sudah memeriksa semua brand yang memilih Lay sebagai model," kata agensi Lay di China.

Lay sendiri diumumkan sebagai juru bicara Samsung sejak Desember 2018 lalu. Sampai sekarang belum ada pernyataan dari Samsung mengenai hal ini.

3. Lay dan Calvin Klein

Sementara itu, Lay sendiri baru saja diumumkan sebagai brand ambassador untuk jeans dan pakaian dalam Calvin Klein. Brand tersebut juga mendapat protes dari banyak orang Tiongkok karena dianggap tidak mematuhi One China Policy. Untuk brand ini, Lay masih belum menunjukkan apa langkah yang akan dilakukannya. Oleh karena itu, penyanyi lagu Namanana itu mendapat kritikan dari banyak orang.

Lay sebelumnya sudah membatalkan konsernya di Hong Kong, terkait protes yang terjadi di sana.

4. Yang Mi dan Versace

Versace sebelumnya diprotes besar-besaran oleh netizens setelah dalam salah satu produk kaosnya mereka menyebut Hong Kong dan Macau sebagai negara yang berdiri sendiri. Setelah kejadian ini, aktris top China, Yang Mi, memutuskan kontrak dengan Versace.

Versace sudah minta maaf pada hari Minggu (11/8/2019) terkait masalah ini. Dan berjanji akan menarik seluruh produk serta tidak mengulangi permasalahan serupa.

5. Liu Wen dan Coach

Senin (12/8/2019), giliran tiga brand lainnya yang minta maaf, yaitu Coach dan Givenchy. Sama seperti Versace, mereka membuat desain kaos yang hampir sama dengan menyebut Hong Kong dan Taiwan sebagai negara sendiri.

Top model asal China, Liu Wen, memutuskan kontraknya dengan Coach yang baru diumumkan pada 26 Juli 2019. Ia minta maaf di media sosialnya karena telah salah memilih produk untuk diiklankan dan menyatakan cintanya pada China serta mendukung kedaulatan negaranya.

6. Jackson Yee dan Givenchy

Masih di Senin (12/8/2019), agensi penyanyi dan aktor Jackson Yee juga membuat pernyataan lewat media sosial kalau mereka telah memutuskan hubungan kerja dengan Givenchy Beauty. Mereka merasa marah dengan apa yang dilakukan oleh brand tersebut. 

Perusahaan peralatan olahraga asal Jepang, Asics, juga minta maaf karena merasa tidak konsisten. Di situs resmi yang berbahasa Inggris, mereka mendata Hong Kong dan Taiwan sebagai negara sendiri. Sedangkan di situs berbahasa Mandarin, mereka memasukkan Taiwan dan Hong Kong di bawah negara China.


REKOMENDASI
TRENDING