PBNU: 'Abad Kejayaan' Tak Sesuai Islam? Islam Yang Mana?

Minggu, 25 Januari 2015 18:45 Penulis: Wulan Noviarina Anggraini
PBNU: 'Abad Kejayaan' Tak Sesuai Islam? Islam Yang Mana? @antv

Kapanlagi.com - Serial Abad Kejayaan yang ditayangkan ANTV sempat menuai protes. Sebab, tayangan yang menggambarkan sejarah keemasan Islam tersebut disinyalir membelokkan sejarah Islam.

Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH Zakky Mubarak MA menilai pihak yang protes sebaiknya mempelajari lebih jauh tentang sejarah Islam.

"Kalau menganggap tidak sesuai dengan sejarah Islam, sejarah Islam yang mana? Ya itulah salah satu peradaban dan kerajaan Islam di belahan dunia mana pun. Silakan pelajari sejarah Islam dunia secara menyeluruh," kata Kiai Zakky di Jakarta.

Jangankan di Turki (Kekaisaran Ottoman/Kesultanan Ustmaniyah), lanjut Kiai Zakky, setelah era Khulafaur Rasyidin (kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib) pemerintahan Islam berubah menjadi kerajaan. Kekuasaan diwariskan secara turun temurun.

"Seorang khalifah pada masa Khulafaur Rasyidin, tidak pernah bertindak sendiri ketika negara menghadapi kesulitan, selalu bermusyawarah dengan pembesar-pembesar yang lain. Sedangkan setelah era sesudahnya sering bertindak otoriter," jelas dia.

Menurut ulama kelahiran Cirebon, 20 Februari 1950 itu fenomena perbudakan, selir, raja punya banyak wanita pendamping, adalah sesuatu yang sudah ada pada banyak kerajaan, termasuk kerajaan Islam.

"Jangan dikaitkan atau melihatnya dengan kacamata zaman sekarang," tandasnya.

Kyai Zakky juga mengimbau kepada pihak-pihak yang merasa berkeberatan dengan serial Abad Kejayaan agar melihatnya dari sisi karya seni yang selalu dibumbui berbagai hal agar menarik perhatian.

Selain itu, Korps Muballigh Jakarta (KMJ) yang sempat mendesak ANTV untuk menghentikan tayangan Abad Kejayaan akan memonitor perkembangan tayangan itu.

"Meski kami menilai manajemen telah berusaha melakukan segala hal yang diperlukan agar tayangan ini sesuai dengan nilai-nilai pemirsa di Indonesia. Tetapi tetap kita monitor,” ujar Ketua Umum KMJ Kyai Muhammad Shobari.

 

(kpl/ded/phi)

Reporter:

Dedi Rahmadi


REKOMENDASI
TRENDING