Hari Moekti Tanggalkan Baju Rocker, Hijrah ke Dakwah
Kapanlagi.com - Kawula muda di rentang waktu 1980 hingga 1990-an tentu sangat kenal dengan sosok 'rocker' kondang Hari Moekti, yang dengan ciri khas suara maupun jingkrak-jingkrakannya begitu menyihir para penggemar musik, khususnya yang beraliran rock.
Namun, bagi para penggemarnya, sosok itu kini sudah tidak mungkin lagi dilihat dalam gaya seperti itu, dan boleh jadi penampilannya telah berubah seratus delapan puluh derajat.
Ia kini lebih dikenal sebagai sosok pendakwah, dan sangat sering diundang dalam kapasitas barunya sebagai dai atau ustad yang menyerukan pesan-pesan Islami.
Dalam diskusi di arena Islamic Book Fair (IBF) 2006 di Gelora Bung Karno, Senayan-Jakarta, Rabu (8/3), ia tampil sebagai salah satu pembicara diskusi 'Semai Syariah di Layar Kaca.'
Advertisement
Ia menyoroti bahwa saat ini banyak sekali bermunculan sinetron yang mengangkat tema Islami. Namun, ia mempertanyakan benarkah sinetron tersebut benar-benar Islami, atau jangan-jangan hanya meminjam label Islam untuk menarik penontonnya, sedangkan isinya justru tidak mengandung kebenaran Islam.
"Hal ini harus benar-benar diwaspadai," demikian diungkapkan Hari Moekti.
"Sinetron Islami di layar kaca bukanlah Islam. Karena menurut aturan Islam, jika sedikit saja Islam dicampur dengan yang haram maka akan menjadi haram," katanya.
Hadir pula sebagai pembicara, Anneke Putri, artis sinetron dan Syaeful G Wathon, sutradara sinetron.
Hari Moekti mengungkapkan, jika ingin berdakwah di kancah sinetron justru dikhawatirkan membawa banyak kemudharatan. Maka, adalah lebih baik jika dai mendakwahkan syariat Islam yang kaffah (menyeluruh). Bukan dengan jalur sinetron yang lebih banyak membawa mudharat, dan membawa keharaman.
"Jika berdakwah melalui media efektif, maka jalannya adalah dengan menguasai televisi," katanya.
Kemudian, kata Hari, televisi bisa dikuasai umat Muslim jika syariat Islam diterapkan.
"Jika orientasinya berdakwah ya.. tidak sembari bermaksiat," ujarnya.
Menurut dia, jika tidak dapat menerapkan syariat Islam dengan kaffah, maka jangan meninggalkan sesuatu yang bisa dilakukan sebagai kewajiban Muslim. Oleh karena itu dirinya memilih meninggalkan dunia gemerlap pertelevisian yang dinilainya mengandung banyak sekali kemudharatan. Apalagi, kata Hari, dirinya masih muda dan memiliki kekuatan fisik cukup untuk terus berdakwah.
Sementara itu, Anneke Putri berpendapat bahwa media harus dibalas dengan media. Jika saat ini yang berkembang adalah sinetron-sinetron yang mengumbar kemaksiatan, maka langkah untuk menangkisnya adalah dengan membuat sinetron religius.
"Karena jika media ditinggalkan maka nantinya dikhawatirkan akan dikuasai nonmuslim, begitu pula sinetron, jika tidak dimunculkan sinetron Islami maka akan terus menjamur sinetron yang mengumbar kemaksiatan," kata Anneke.
Selain itu, kata Anneke, kiprahnya dalam dunia sinetron adalah untuk mewarnai kancah sinetron dengan warna Islami. "Saya akui memang sangat sulit, dan saya masih mengupayakan agar ini bisa terwujud," ujarnya.
Sementara, Syaeful G Wathon, sutradara sinetron Islam mengaku sinetron yang religius dengan warna mistik masih sangat dinikmati pemirsa Indonesia.
Syaeful mengaku sangat prihatin dengan hal ini, dan karena itu dia kini sedang mengusahakan mencari pemodal yang bersedia membiayai sinetronnya yang benar-benar bernafas Islam. "Sinetron RAHASIA ILAHI sangat diminati karena unsur mistiknya," kata suami Anneke Putri itu memberi contoh.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
(*/erl)
Advertisement
D Academy 8
- Lesti Kejora Berita TerbaruPotret Lesti Kejora - Alexa di Panggung Dangdut Academy 8, Cantik dan Glamor










































