Idris Sardi Sang MaestroPeriode Idris Sardi Sudah Selesai

Rabu, 04 Juni 2014 08:31 Penulis: Darmadi Sasongko
Periode Idris Sardi Sudah Selesai Idris Sardi, Sumber Foto: @fadlizon dan © KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Oleh: Darmadi Sasongko

Ajaran agama menjadi pegangan kuat bagi hidup seorang Idris Sardi dalam mengarungi dunia musik. Dia tidak terlena dan mabuk dunia dengan godaan duniawi yang mengelilingi selama karirnya. Baginya, agama adalah benteng hidup yang sudah ditanamkan oleh kedua orang tuanya.

"Saya ini kan belajar biola, musiknya orang barat. Jadi harus diimbangi ilmu Alquran. Apalagi dunia musik itu identik dengan glamour dan segala macam. Jadi sepertinya Bapak ingin menyiapkan bekal pada saya agar tak terjerumus ke hal-hal yang tidak baik," kata Idris Sardi sebagaimana ditulis dalam buku Idris Sardi, Perjalanan Maestro Biola Indonesia karya Fadli Zon.

Idris sebagai pribadi yang patuh menjalankan ibadah. Dia tidak pernah meninggalkan salat lima waktu, sebagaimana yang dia tanamkan juga kepada anak-anaknya. Urusan salat, Idris bersikap keras melebihi sikap kerasnya saat melatih para murid-muridnya.

Idris Sardi © KapanLagi.comIdris Sardi © KapanLagi.com

Keseharian Idris dikenal sebagai pribadi yang religius. Dia selalu menyempatkan diri membaca Alquran. Saat menjadi guru musik di lingkungan tentara, Idris meminta kamar yang khusus untuk tempat salat dan baca Alquran. Bahkan di dalam tasnya juga tersimpan Alquran kecil yang selalu dibawa ke mana-mana.

"Semakin banyak orang menilai bagus, makin besar keyakinan saya bahwa semua itu bukanlah saya yang bikin. Ada faktor lain di belakang faktor yang sangat kuat, Tuhan Yang Maha Esa," kata Idris Sardi.

Kemampuan, bahkan kemaestroannya sebagai musisi diposisikan Idris Sardi sebagai pinjaman Tuhan. Dia yakin suatu saat barang pinjaman itu akan diambil pemiliknya. Bahkan ada perasaan risih ketika banyak orang selalu memuji-muji dirinya.

Idris Sardi © KapanLagi.comIdris Sardi © KapanLagi.com

"Saya hanya dipinjami kan? Dipakein, jadi bagaimana saya bisa membawa, membanggakan yang sebenarnya bukan milik saya. Orang selalu kasih salam saya, memuji saya. Nggak. Nggak pernah selalu Idris yang besar. Sedangkan saya menyadari kebesaran bukan milik saya. Bagaimana sih rasanya mengenakan pakaian yang bukan milik saya? Kita dipuji-puji, padahal bukan punya kita. Jadi risih kan?" kata Idris Sardi.

Idris telah selesai melalui menjalani perjalanan panjang. Penulis hanya menyajikan sekelumit yang terekam. Lintasan jalan hidupnya begitu kompleks, memberikan cerita yang tidak hanya patut dikenang, namun menjadi suri tauladan bagi mereka yang mau belajar.

Karya-karya almarhum patut menjadi legenda, diperdengarkan sepanjang masa, sebagai sebuah sentuhan yang menentramkan. Kini periode Idris Sardi sudah selesai!

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING