in partnership with Indosiar
 
DANGDUT

Danang Kenang Masa Kecil Rayakan 17-an, Ikut Panjat Pinang

Jum'at, 16 Agustus 2019 18:38 Penulis: Dhimas Nugraha

Danang ©KapanLagi.com/Fikri Alfi Rosyadi

Kapanlagi.com - Agustus selalu penuh keceriaan di tiap sudut daerah di Indonesia. Berbagai acara dilakukan untuk merayakan momen spesial ini, dan salah satunya adalah dengan lomba. Seperti yang dilakukan oleh Danang di masa kecil ketika di kampung halaman.

Pedangdut jebolan ajang D'Academy ini mengenang masa kecilnya saat ikut serta lomba panjat pinang di kampungnya. Ia pun menceritakan betapa serunya lomba yang ia ikut kala itu.

"Yang kita rebutkan cuma kerupuk isinya yang kedua isinya yang sedeng-sedeng itu isinya handuk. Yang ketiga ada hadiah berat banget memang isinya sih lumayan isinya ternyata buku tulis. Karena kan kalo dipacking itu berat ya, kirain apa ternyata buku tulis isinya tiga pack," kata Danang saat ditemui di gedung Trans TV, Jakarta Selatan, Kamis (15/8/2019).

"Itu berat banget kita harus manjat isinya cuma begituan. Walaupun itu buat anak-anak yah, menyenangkan dari pada kita rebutan yang lain," sambungnya.

 

1. Lomba Paling Favorit Danang

Setiap lomba pasti ada yang paling disenangi atau yang menjadi favorit bagi para peserta. Nah, lomba yang paling menjadi favorit di kampung halaman Danang kala itu adalah lomba balapan ban.

"Kalau perlombaan favorit itu kalo di desa aku itu balapan ban. Jadi ban sepeda kita pukul-pukul pake tongkat gitu, dan kita sambil lari gitu. Jadi keliling kampung itu ada treknya, kita balapan pake ban itu. Jadi lari sambil muterin ban itu, bannya gelinding gitu," uajrnya.

"Jadi itu seru banget sampe jatuh-jatuh, tersungkur, dan segala macem yang dilakukan untuk gimana caranya kita nomor satu," imbuhnya.

2. Banyak Kegiatan Lain Selain Lomba

Tak hanya perlombaan, Danang juga menceritakan kegiatan lain, seperti menghias jalanan kampung, dan kegiatan lainnya. Selain itu, acara Agustusan juga, menurutnya itu juga sebagai ajang untuk silaturahmi.

"Namanya juga di kampung yah, jadi kalo di kampung itu menariknya itu. Kalo ketika 17an itu momennya ini dijadikan momen untuk bersilaturahmi, momen untuk berkumpulnya orang-orang kampung,"

"Itulah menariknya 17an dan itu jadi momen yang indah bagi kita semuanya dan seharusnya momen-momen seperti itu tidak dilupakan. Masyarakat desa tidak terdegradasi dengan modernisasi tekhnologi. Karena permainan-permainan tradisional itu harus dibudidayakan," paparnya.

(kpl/far/dim)

Reporter: Fikri Alfi Rosyadi


REKOMENDASI
TRENDING