Cara Menggunakan Jarum Bekam yang Benar dan Aman untuk Pemula hingga Praktisi
cara menggunakan jarum bekam (h)
Kapanlagi.com - Terapi bekam merupakan salah satu metode pengobatan alternatif yang sudah dipraktikkan selama ribuan tahun di berbagai kebudayaan dunia. Terapi bekam merupakan bentuk pengobatan tradisional yang berasal dari Tiongkok dan Asia Barat, dan telah dipraktikkan selama ribuan tahun. Memahami cara menggunakan jarum bekam dengan tepat menjadi langkah krusial agar prosedur berjalan aman dan efektif.
Dalam bekam basah, sebuah lancet digunakan untuk menusuk kulit sebelum cangkir diletakkan, yang mendorong sejumlah kecil darah mengalir dari area tersebut. Proses ini memerlukan ketelitian tinggi, terutama dalam hal sterilisasi alat dan ketepatan teknik penusukan. Oleh karena itu, cara menggunakan jarum bekam wajib dipelajari secara menyeluruh sebelum diterapkan pada pasien.
Terapi bekam adalah teknik terapeutik yang memanfaatkan gaya vakum yang diciptakan di bawah wadah kecil yang diletakkan pada permukaan kulit, dengan pendekatan yang berfokus pada darah dan substansi penyembuhan autologous di area tertentu. Menurut Alodokter, jarum steril sekali pakai atau pisau bedah dan cangkir sekali pakai harus digunakan untuk bekam basah.[1]
Advertisement
1. 1. Cara Menggunakan Jarum Bekam dengan Memasang Lancet pada Pen Bekam
Langkah paling dasar dalam cara menggunakan jarum bekam adalah mengetahui bagaimana memasang lancet ke dalam pen bekam dengan benar. Pen jarum hijama dirancang untuk presisi dan keamanan, serta merupakan alat penting bagi praktisi terapi bekam basah. Pen pegas ini memungkinkan tusukan superfisial yang cepat dan terkontrol.[1] Pemasangan yang tepat menentukan kedalaman tusukan sehingga prosedur berlangsung minim rasa sakit.
Buka penutup pen bekam: Lepaskan tutup pelindung pen bekam dan pastikan pen dalam kondisi bersih serta steril sebelum digunakan. Bersihkan bagian kepala pen dengan kapas alkohol terlebih dahulu.[1]
Masukkan jarum lancet steril: Ambil jarum lancet steril sekali pakai dari kemasan, lalu masukkan ke dalam ruang pen hingga terasa kokoh dan tidak longgar. Pastikan menggunakan jarum yang masih tersegel untuk mencegah kontaminasi.[2]
Lepaskan pelindung jarum: Setelah jarum terpasang, putar bagian pelindung jarum dan lepaskan dengan hati-hati agar ujung jarum tidak menyentuh permukaan apa pun sebelum digunakan.
Pasang kembali penutup pen: Tutup pen bekam kembali dengan rapat untuk keselamatan selama proses pengaturan kedalaman. Pastikan semua komponen terpasang dengan benar.
Atur kedalaman tusukan: Masukkan lancet steril ke dalam pen, tekan perlahan ke kulit, dan picu pelepasan untuk menciptakan tusukan mikro yang presisi. Pilih level kedalaman yang sesuai dengan kebutuhan terapi, biasanya ditandai dengan nomor pada pen.[1]
Uji fungsi pen sebelum digunakan: Tekan mekanisme pegas satu kali untuk memastikan pen berfungsi dengan lancar. Pastikan jarum keluar dan masuk kembali secara otomatis dengan mulus.
2. 2. Cara Menggunakan Jarum Bekam untuk Prosedur Bekam Basah
Prosedur bekam basah memerlukan pemahaman menyeluruh tentang cara menggunakan jarum bekam karena melibatkan proses penusukan kulit secara langsung. Langkah kedua dalam bekam basah adalah tentang skarifikasi atau penusukan, di mana insisi superfisial dibuat pada kulit menggunakan pisau bedah atau penusukan dengan jarum, alat auto-lancing, atau jarum plum-blossom.[3] Berikut langkah-langkahnya secara berurutan.
Lakukan bekam kering terlebih dahulu: Cangkir dengan ukuran yang sesuai ditempatkan pada titik yang dipilih, lalu terapis menghisap udara di dalam cangkir melalui api, hisapan elektrik, atau manual, kemudian cangkir ditempelkan pada kulit dan dibiarkan selama tiga hingga lima menit.[3]
Angkat cangkir dan bersihkan area: Lepaskan cangkir setelah tiga hingga lima menit. Bersihkan kulit yang sudah memerah akibat hisapan dengan larutan antiseptik yang sesuai.
Lakukan penusukan dengan jarum lancet: Praktisi menggunakan jarum untuk menusuk kulit secara ringan sebelum menempatkan cangkir, yang memungkinkan pelepasan toksin melalui darah yang terhisap ke dalam cangkir.[2] Tusukan harus dangkal dan merata di area bekas hisapan.
Pasang cangkir kembali: Cangkir ditempatkan kembali pada kulit menggunakan prosedur yang sama seperti sebelumnya selama tiga hingga lima menit.[3] Pada tahap ini, darah akan terhisap keluar melalui bekas tusukan jarum.
Lepaskan cangkir dan bersihkan: Langkah selanjutnya adalah melepas cangkir, diikuti dengan membersihkan area luka dan mendisinfeksi dengan disinfektan kulit yang disetujui.[3]
Balut area yang ditusuk: Oleskan salep antibiotik pada bekas tusukan dan tutup dengan perban steril untuk mencegah infeksi pada luka terbuka.[10]
Baca juga: Manfaat bekam yang dipercaya baik bagi tubuh
3. 3. Cara Sterilisasi Jarum dan Alat Bekam Sebelum Digunakan
Sterilisasi menjadi aspek vital dalam cara menggunakan jarum bekam yang sering diabaikan oleh praktisi pemula. Dalam teknik bekam basah, mengutamakan keselamatan dan higienitas adalah hal yang utama karena melibatkan pengambilan sejumlah kecil darah dari tubuh pasien. Alat pelindung diri (APD) disarankan untuk melindungi pasien dan praktisi. Selain itu, memilih cangkir sekali pakai, pompa vakum, dan pisau bedah membantu meminimalkan risiko transmisi patogen.[1]
Gunakan jarum lancet sekali pakai: Pisau bedah sekali pakai dan cangkir harus digunakan untuk setiap pasien. Jangan pernah menggunakan jarum yang sama untuk pasien berbeda demi mencegah penularan penyakit.[1]
Siapkan area kulit dengan betadine: Betadine sebaiknya digunakan untuk persiapan kulit, bukan alkohol. Betadine memberikan perlindungan antimikroba yang lebih lama dibandingkan alkohol biasa.[1]
Kenakan APD lengkap: Semua individu yang berpartisipasi dalam prosedur, termasuk terapis bekam dan asisten, harus mengenakan APD yang sesuai, seperti sarung tangan steril, gaun, dan tirai.[1]
Buang limbah medis dengan benar: Cangkir, pisau, dan barang sekali pakai lainnya yang digunakan selama prosedur harus dibuang dengan tepat ke dalam wadah limbah tajam dan biohazard.[1]
Sterilisasi cangkir yang dapat dipakai ulang: Jika menggunakan cangkir non-sekali pakai, rendam dalam air sabun hangat selama 30 menit untuk menghilangkan residu organik, bilas hingga bersih, keringkan, lalu desinfeksi dengan hidrogen peroksida 7,5% selama 30 menit.[1]
Baca juga: Sejumlah artis yang masih percaya pengobatan alternatif
4. 4. Cara Menggunakan Jarum Bekam pada Titik Tubuh yang Tepat
Menentukan lokasi penusukan yang tepat merupakan bagian penting dari cara menggunakan jarum bekam agar terapi memberikan hasil optimal. Dalam terapi bekam, cangkir sering ditempatkan di punggung, leher, dan bahu atau di lokasi nyeri.[5] Praktisi berpengalaman John E. Ebinger, PT, spesialis kedokteran olahraga di Banner Physical Therapy, pernah menjelaskan, "Hisapan ini menciptakan lingkungan tekanan negatif yang memungkinkan dekompresi miofasial saat kulit ditarik ke dalam cangkir."[9]
Identifikasi titik nyeri atau titik akupunktur: Teknik klasik melibatkan penempatan cangkir di atas titik ashi (area nyeri) atau titik akupunktur sepanjang meridian energi. Diskusikan dengan pasien untuk mengetahui lokasi keluhan utama.[5]
Pilih area dengan otot yang cukup tebal: Area dengan massa otot yang memadai seperti punggung, perut, lengan, dan kaki merupakan lokasi paling umum untuk terapi bekam.[10]
Hindari area kulit yang bermasalah: Periksa adanya retakan, luka, dan suhu lokal yang meningkat serta kulit yang sensitif sebelum menentukan titik penusukan.[1]
Sesuaikan jumlah cangkir: Tergantung pada perawatan, praktisi mungkin menempatkan beberapa cangkir pada kulit. Rata-rata, praktisi menggunakan antara tiga dan lima cangkir, meskipun bisa menggunakan hingga tujuh. Jarang ada yang mendapat lebih dari tujuh cangkir dalam satu sesi.[2]
Tusuk dengan kedalaman yang tepat: Lakukan tusukan superfisial saja pada area yang sudah ditandai. Tusukan yang terlalu dalam dapat merusak pembuluh darah besar dan menyebabkan komplikasi serius.
5. 5. Cara Merawat Luka Setelah Menggunakan Jarum Bekam
Perawatan pasca-penusukan sama pentingnya dengan teknik penusukan itu sendiri. Memahami cara menggunakan jarum bekam tidak lengkap tanpa menguasai protokol perawatan luka. Setelah prosedur, oleskan pelembap atau krim antiseptik untuk mencegah kemungkinan infeksi.[1]
Bersihkan area bekas tusukan: Segera setelah melepas cangkir, bersihkan area kulit menggunakan disinfektan yang disetujui secara medis. Pastikan tidak ada sisa darah yang tertinggal.[3]
Oleskan salep antibiotik: Menurut Alodokter, setelah prosedur, oleskan pelembap atau krim antiseptik untuk mencegah kemungkinan infeksi.[10]
Tutup dengan perban steril: Setelah bekam basah, pembalutan luka harus dilakukan. Gunakan perban steril yang menutupi seluruh area bekas tusukan.[1]
Ganti perban secara berkala: Lakukan penggantian perban sesuai instruksi praktisi, biasanya setiap 24 jam, hingga luka menutup sempurna. Luka umumnya sembuh dalam dua hingga empat hari.[2]
Pantau tanda-tanda infeksi: Perhatikan apakah muncul kemerahan berlebih, bengkak, nanah, atau demam pada area bekas tusukan. Segera konsultasikan ke tenaga medis jika muncul tanda-tanda tersebut.
Baca juga: Makanan pembersih darah yang berkhasiat jaga kesehatan
6. 6. Cara Memilih Jarum Bekam yang Tepat untuk Setiap Kebutuhan
Pemilihan jarum yang sesuai menjadi faktor penentu keberhasilan saat menerapkan cara menggunakan jarum bekam dalam praktik. Pemilihan alat dan material bekam yang tepat harus mempertimbangkan kenyamanan pasien dan tujuan perawatan spesifik.[1] Jenis dan ukuran jarum akan memengaruhi kedalaman tusukan serta tingkat kenyamanan pasien selama prosedur.
Kenali jenis jarum yang tersedia: Terdapat beberapa jenis jarum untuk bekam basah, mulai dari jarum lancet tunggal (single needle) hingga jarum multi-kepala (tiga, lima, atau tujuh kepala). Jarum lancet tunggal cocok untuk pemula karena memberikan kontrol yang lebih presisi.
Perhatikan ukuran gauge: Jarum bekam umumnya tersedia dalam ukuran 21G hingga 28G. Angka gauge yang lebih besar menunjukkan diameter jarum yang lebih kecil. Untuk tusukan superfisial pada bekam basah, ukuran 23G merupakan pilihan yang umum digunakan.[1]
Pastikan jarum steril dan sekali pakai: Risiko infeksi atau komplikasi diminimalkan dengan mengikuti protokol ketat, termasuk penggunaan pisau steril sekali pakai untuk sayatan kulit.[1]
Sesuaikan dengan tipe pen bekam: Tidak semua jarum lancet kompatibel dengan semua tipe pen bekam. Pastikan jarum yang dibeli sesuai dengan spesifikasi pen yang digunakan agar mekanisme pegas berfungsi optimal.
Pertimbangkan sensitivitas kulit pasien: Untuk pasien dengan kulit sensitif, gunakan jarum dengan gauge lebih besar (diameter lebih kecil) dan atur kedalaman tusukan pada level minimum. Hal ini membantu mengurangi ketidaknyamanan selama prosedur.
7. Perbedaan Metode CPC dan PC dalam Terapi Bekam Basah
Selain memahami cara menggunakan jarum bekam secara teknis, praktisi juga perlu mengetahui dua metode utama dalam bekam basah yang memengaruhi urutan penggunaan jarum. Bekam basah melibatkan pengeluaran darah dan memiliki dua bentuk utama. Salah satu bentuk disebut metode cupping, puncturing, and cupping (CPC), yang pada dasarnya dimulai dengan bekam kering. CPC terdiri dari enam langkah total: menandai kulit, mensterilkan area, bekam, menusuk, bekam, dan mensterilkan kembali.[4]
Metode CPC (Cupping-Puncturing-Cupping): Metode CPC lebih umum digunakan di Timur Tengah dan secara tradisional dikenal sebagai "Al-hijamah". Dalam metode ini, cangkir dipasang terlebih dahulu untuk menghisap darah ke permukaan, baru kemudian dilakukan penusukan, dan diikuti oleh penghisapan kedua untuk mengeluarkan darah.[4]
Metode PC (Puncturing-Cupping): Bentuk lainnya adalah metode puncturing dan cupping (PC), yang dimulai dengan penusukan. Lima langkah diterapkan: menandai kulit, mensterilkan area, menusuk, bekam, dan mensterilkan kembali.[4]
Al-Hijamah (bentuk lanjutan CPC): Dalam Al-Hijamah, putaran tambahan bekam dilakukan setelah skarifikasi awal. Madu sering digunakan selama Al-Hijamah untuk melindungi kulit pasien dari tepi cangkir dan meningkatkan segel vakum. Karena madu dikenal memiliki sifat penyembuhan, diyakini dapat mendukung pemulihan kulit setelah prosedur.[1]
Pemilihan metode berdasarkan kondisi: Bekam telah dipraktikkan untuk empat tujuan utama: pengurangan nyeri, penurunan peradangan, imunomodulasi, dan penyesuaian hematologis. Metode CPC umumnya lebih direkomendasikan untuk kondisi yang memerlukan pengeluaran darah lebih terkontrol.[4]
8. Manfaat Terapi Bekam bagi Kesehatan Tubuh
Memahami cara menggunakan jarum bekam tidak akan lengkap tanpa mengetahui tujuan terapeutik di balik prosedur ini. Para ahli masih mengeksplorasi bagaimana bekam meredakan nyeri dan gejala penyakit, dan belum banyak penelitian tentang terapi ini.[2] Meskipun demikian, banyak pasien dan praktisi melaporkan manfaat nyata. Anna Brantman, akupunkturis berlisensi di Cedars-Sinai Integrative Health, pernah mengatakan, "Banyak pasien saya melaporkan manfaat langsung setelah kami selesai. Saya sering mendengar mereka mengatakan rasa sakit mereka turun dari skala 8 menjadi 3 dari skala 10."[8]
Menurut Cleveland Clinic, beberapa alasan mengapa bekam mungkin efektif mencakup kemampuannya untuk:[2]
Meningkatkan sirkulasi darah ke area yang dirawat, sehingga mendorong proses penyembuhan alami tubuh.[2]
Mengurangi peradangan pada jaringan otot dan persendian yang mengalami ketegangan.[2]
Mendorong kenyamanan dan relaksasi seluruh tubuh serta meningkatkan ambang nyeri.[2]
Mengeluarkan toksin dari tubuh melalui proses penghisapan dan pengeluaran darah stasis.[2]
Menstimulasi sistem saraf perifer yang berkontribusi pada pengurangan rasa nyeri.[2]
Mengurangi kolesterol dan lipoprotein densitas rendah (LDL) serta membantu mencegah penyakit kardiovaskular.[2]
Menurut KapanLagi, manfaat bekam bagi tubuh salah satunya membantu melancarkan peredaran darah. Selain itu, bekam juga dipercaya dapat membantu membuang kolesterol jahat dan racun di dalam tubuh.[11]
Baca juga: Tips alami untuk mengatasi darah tinggi dan kolesterol
9. Efek Samping dan Risiko Penggunaan Jarum Bekam
Setiap prosedur medis termasuk bekam tentu memiliki risiko, terutama jika cara menggunakan jarum bekam tidak dilakukan dengan benar. Terapi bekam merupakan terapi yang relatif berisiko rendah.[2] Namun, John E. Ebinger, PT, seorang spesialis kedokteran olahraga, pernah mengingatkan, "Meskipun ada banyak manfaat yang diklaim dari bekam, masih sangat sedikit penelitian klinis berkualitas tinggi yang mendukung klaim tersebut."[9]
Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah terapi bekam meliputi:[2]
Bekas merah bundar yang akan memudar dalam satu hingga dua minggu. Meskipun tanda ini terlihat seperti memar, sebenarnya bukan memar sejati yang melukai serat otot.[2]
Efek samping lokal dapat mencakup pembentukan jaringan parut, luka bakar, garis-garis memar, tukak kulit, dan penggelapan kulit yang tidak diinginkan.[5]
Dalam kasus yang jarang, seseorang dapat mengalami sinkop vasovagal (pingsan akibat penurunan tekanan darah dan detak jantung), terutama setelah bekam basah pada orang yang mudah pingsan saat ditusuk jarum.[2]
Infeksi kulit, gatal, atau jaringan parut apabila sterilisasi tidak dilakukan dengan benar.[2]
Menurut Alodokter, terapi bekam juga sebaiknya dilakukan oleh terapis yang memiliki kompetensi. Hal ini penting untuk menghindari komplikasi yang tidak diinginkan.[10]
Baca juga: Penyebab darah rendah dan cara mengatasinya
10. Kondisi yang Tidak Dianjurkan untuk Terapi Bekam
Tidak semua orang dapat menjalani prosedur bekam basah meskipun sudah mengetahui cara menggunakan jarum bekam dengan benar. Terdapat sejumlah kondisi medis yang menjadi kontraindikasi terapi ini. Rob Stanborough, PT, DPT, seorang fisioterapis berpengalaman, pernah menyampaikan, "Kami menggunakan tangan dan siku, tetapi juga bisa menggunakan manipulasi jaringan lunak berbantuan instrumen, dry needling jika diizinkan, bekam, dan metode lainnya. Tujuan kami adalah meningkatkan mobilitas, mendorong penyembuhan, dan memulihkan fungsi."[2] Namun, ia menekankan bahwa pemilihan teknik harus mempertimbangkan kondisi setiap pasien.
Menurut Cleveland Clinic, terapi bekam sebaiknya dihindari pada kondisi berikut:[2]
Kehamilan, karena peneliti masih sangat sedikit mengetahui tentang efek bekam pada kehamilan.[2]
Gangguan perdarahan seperti hemofilia yang menyebabkan darah sulit membeku.[2]
Masalah pembekuan darah, seperti trombosis vena dalam (DVT) atau riwayat stroke.[2]
Penyakit kardiovaskular dan kondisi kulit seperti eksim serta psoriasis.[2]
Kejang atau epilepsi yang berisiko kambuh selama prosedur.[2]
Pengguna alat pacu jantung (pacemaker) juga tidak disarankan menjalani bekam.[2]
Ebinger juga menambahkan, "Teori kedokteran Timur adalah di mana ada stagnasi, di situ ada rasa sakit. Hilangkan stagnasi, maka Anda hilangkan rasa sakitnya. Inilah yang berusaha diatasi oleh bekam."[9] Meskipun demikian, ia menekankan bahwa bekam sebaiknya dilakukan di bawah bimbingan profesional kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat tekanan darah rendah atau gangguan kronis lainnya.
11. Tips Perawatan Setelah Sesi Terapi Bekam
Perawatan setelah terapi (aftercare) menjadi penentu keberhasilan jangka panjang dari prosedur bekam. Kebanyakan penyedia layanan kesehatan merekomendasikan bekam sebagai pengobatan komplementer, dengan kata lain, sebaiknya digunakan bersamaan dengan pengobatan medis Barat tradisional, bukan sebagai prosedur berdiri sendiri.[2] Berikut tips yang perlu diperhatikan setelah sesi terapi selesai.
Hindari mandi selama tiga jam: Para ahli bekam merekomendasikan untuk menunggu setidaknya tiga jam setelah sesi bekam sebelum mandi. Setelah bekam, kulit sensitif dan pori-pori terbuka, sehingga rentan terhadap infeksi.[7]
Jaga area luka tetap bersih: Hindari menyentuh bekas tusukan jarum dengan tangan kotor. Ganti perban secara rutin dan oleskan krim antiseptik setiap kali penggantian.[1]
Perbanyak minum air putih: Terapis mungkin menyarankan Anda untuk minum banyak air untuk membantu mengeluarkan toksin, tetap hangat, dan beristirahat.[7]
Hindari sauna dan aktivitas berat: Selama 24 hingga 48 jam setelah bekam basah, hindari paparan panas ekstrem seperti sauna, hot tub, serta olahraga intens yang dapat meningkatkan risiko pembengkakan.[7]
Kenakan pakaian longgar: Pakaian berbahan katun yang longgar membantu mengurangi gesekan pada area yang baru saja dibekam dan mendukung proses penyembuhan kulit.[7]
Konsumsi makanan bergizi: Lengkapi pemulihan dengan asupan makanan pembersih darah yang kaya akan zat besi dan vitamin untuk mendukung regenerasi sel darah merah.[7]
Hindari kafein dan alkohol: Kedua zat ini dapat memengaruhi sirkulasi darah dan menghambat proses penyembuhan alami tubuh setelah prosedur bekam basah.[7]
Menurut Healthline, bekam meningkatkan sirkulasi darah ke area tempat cangkir ditempatkan, yang dapat meredakan ketegangan otot dan meningkatkan aliran darah keseluruhan serta mendorong perbaikan sel. Ini juga dapat membantu membentuk jaringan ikat baru dan pembuluh darah baru.[6]
Baca juga: Tanaman herbal yang bisa ditanam di rumah untuk kesehatan
12. Mekanisme Kerja Terapi Bekam dari Perspektif Medis Modern
Para ilmuwan terus mempelajari bagaimana prosedur bekam bekerja dari sudut pandang sains modern. Terapi bekam merupakan metode kuno yang saat ini digunakan dalam pengobatan berbagai kondisi medis, namun mekanisme kerjanya belum sepenuhnya dipahami.[3] Beberapa teori yang menjelaskan efek terapeutik bekam meliputi:
Teori Pain-Gate: Pengurangan nyeri dan perubahan sifat biomekanis kulit serta peningkatan sirkulasi darah dapat dijelaskan oleh Teori Pain-Gate dan Diffuse Noxious Inhibitory Controls (DNICs).[3]
Teori Nitric Oxide: Relaksasi otot, perubahan spesifik pada struktur jaringan lokal, dan peningkatan sirkulasi darah dapat dijelaskan oleh teori pelepasan Nitric Oxide.[3]
Teori sistem imun: Dalam teori sistem imun, bekam dapat mengurangi zat-zat inflamasi dan meningkatkan produksi substansi yang memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Bekam juga dapat meningkatkan proses antioksidan tubuh.[7]
Aktivasi Heme oxygenase-1: Menurut sebuah studi, efek mekanis bekam meningkatkan aliran darah lokal dan meregangkan jaringan di bawahnya. Aktivasi gen Heme oxygenase-1 yang berperan penting dalam pencegahan peradangan vaskular dapat menjelaskan banyak manfaat yang diklaim.[6]
Baca juga: Manfaat kerokan bagi kesehatan yang jarang diketahui
Tidak ada satu teori pun yang dapat menjelaskan mekanisme kerja terapi bekam beserta seluruh efeknya.[3] Namun, Dr. Houman Danesh, spesialis manajemen nyeri di Mount Sinai Hospital New York, pernah menyampaikan bahwa bekam membantu memicu proses penyembuhan alami tubuh dengan meningkatkan aliran darah di area perawatan, yang berdampak pada percepatan penyembuhan serta meredakan nyeri sendi dan otot.[8]
13. Sejarah dan Perkembangan Penggunaan Jarum dalam Terapi Bekam
Penggunaan jarum atau alat penusuk dalam terapi bekam memiliki sejarah yang sangat panjang. Terapi bekam sudah ada sejak budaya Mesir kuno, Tiongkok, dan Timur Tengah. Salah satu buku teks medis tertua di dunia, Ebers Papyrus dari tahun 1550 SM, menjelaskan bagaimana bangsa Mesir kuno menggunakan bekam.[7] Perkembangannya terus berlanjut hingga era modern dengan berbagai inovasi pada alat bekam.
Ebinger menjelaskan, "Terapi bekam, juga dikenal sebagai dekompresi miofasial, dapat ditelusuri kembali ke budaya Mesir kuno, Tiongkok, dan Timur Tengah. Ini digambarkan sebagai salah satu intervensi pengobatan tertua, dan sejarahnya berasal dari tahun 1500 SM."[9] Pada masa lalu, alat penusuk dibuat dari tanduk hewan, bambu, atau logam. Kini, jarum lancet steril sekali pakai menjadi standar keamanan dalam praktik bekam modern.
Selama berabad-abad, teknik dan gaya bekam sering dipengaruhi oleh lokasi geografis serta material yang tersedia di wilayah tersebut, termasuk tanduk hewan, bambu, keramik, kaca, logam, dan plastik dalam budaya Mesir Kuno, Tiongkok, Unani, Korea, Tibet, dan Amerika Latin.[1] Perkembangan teknologi membuat cara menggunakan jarum bekam semakin aman, presisi, dan minim rasa sakit berkat alat auto-lancing modern.
Baca juga: Cara menjaga kondisi fisik agar tetap sehat
14. Panduan Keselamatan Pasien Selama Prosedur Bekam
Keselamatan pasien menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan dalam setiap prosedur bekam. Kasus ini menyoroti bahwa pertimbangan terpenting selama terapi bekam basah adalah bahwa praktisi harus memiliki pelatihan yang memadai dan prosedur harus dilakukan dalam kondisi yang sesuai.[3]
Dapatkan persetujuan pasien: Langkah utama dalam persiapan bekam kering mencakup mendapatkan persetujuan tertulis dan lisan dari pasien.[1]
Lakukan konseling sebelum prosedur: Konseling yang tepat harus dilakukan kepada pasien mengenai prosedur dan tentang bekas atau jaringan parut pasca perawatan.[1]
Sediakan pendamping: Kehadiran pendamping di ruang perawatan direkomendasikan, terutama saat menangani pasien yang belum familiar dengan prosedur tersebut.[1]
Dokumentasikan sesi terapi: Koordinasikan perawatan pasien secara efektif dengan mendokumentasikan sesi terapi bekam dalam catatan pasien.[1]
Pastikan pasien makan ringan sebelum sesi: Makan ringan dan minum air yang cukup sebelum terapi dapat mengurangi risiko pusing atau pingsan selama prosedur.[2]
Pantau respons pasien: Perhatikan tanda-tanda ketidaknyamanan berlebih, pucat, atau lemas selama prosedur berlangsung. Hentikan sesi jika pasien menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
Baca juga: Kisah seleb yang berjuang menjaga kesehatan
15. Bekam Kering versus Bekam Basah dan Peran Jarum di Dalamnya
Perbedaan mendasar antara bekam kering dan bekam basah terletak pada penggunaan jarum atau alat penusuk. Banyak studi sepakat bahwa bekam paling efektif ketika digunakan sebagai kombinasi dengan farmakoterapi, sedangkan studi lain tidak menemukan peran klinis yang signifikan.[4]
"Bekam kering menggunakan metode pemompaan untuk menarik jaringan kulit ke dalam cangkir," menurut Ebinger. "Jaringan subkutan ditarik ke dalam cangkir dan ditahan selama waktu singkat, antara 5 hingga 15 menit."[9] Dalam bekam kering, tidak diperlukan jarum karena prosedur hanya mengandalkan tekanan hisapan.
Sebaliknya, bekam basah memerlukan penggunaan jarum atau pisau bedah untuk membuat sayatan superfisial. Bekam basah menciptakan hisapan ringan dengan membiarkan cangkir menempel selama sekitar tiga menit, kemudian terapis melepas cangkir dan menggunakan skalpel kecil untuk membuat sayatan ringan pada kulit.[1] Inilah mengapa pemahaman tentang cara menggunakan jarum bekam sangat krusial bagi praktisi bekam basah.
Meskipun teknik bekam basah dan kering tetap relevan dalam kedokteran kontemporer, meta-analisis efektivitas bekam dalam mengelola nyeri punggung menunjukkan bahwa sebagian besar studi yang memenuhi kriteria inklusi terutama berfokus pada bekam kering. Preferensi ini kemungkinan disebabkan oleh sifat non-invasif bekam kering dibandingkan bekam basah.[1]
16. FAQ
Apakah cara menggunakan jarum bekam sulit dipelajari untuk pemula?
Teknik penggunaan jarum bekam memerlukan pelatihan khusus, terutama dalam hal sterilisasi dan penentuan kedalaman tusukan yang aman. Pemula sebaiknya belajar di bawah bimbingan praktisi berpengalaman sebelum melakukan prosedur secara mandiri.[1]
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk satu sesi terapi bekam basah?
Sesi terapi bekam umumnya berlangsung sekitar 30 menit. Durasi ini mencakup proses persiapan, penghisapan awal, penusukan dengan jarum, penghisapan kedua, dan perawatan luka.[2]
Apakah proses penusukan jarum bekam terasa sakit?
Proses ini umumnya tidak terasa sakit. Anda mungkin merasakan sensasi cubitan ringan selama penghisapan dan sedikit ketidaknyamanan saat sayatan, tetapi kebanyakan pasien melaporkannya masih dalam batas toleransi. Pengaturan kedalaman jarum pada level yang tepat sangat membantu mengurangi rasa tidak nyaman.[2]
Berapa kali sebaiknya terapi bekam dilakukan?
Cangkir dibiarkan menempel selama 5 hingga 20 menit tergantung kondisi pasien. Rangkaian perawatan umum melibatkan empat hingga enam sesi dengan interval tiga hingga sepuluh hari. Frekuensi terapi sebaiknya dikonsultasikan dengan praktisi yang memahami kondisi kesehatan Anda.[5]
Apakah bekas jarum bekam bisa menimbulkan jaringan parut permanen?
Tusukan jarum lancet pada bekam basah bersifat sangat superfisial dan umumnya tidak meninggalkan bekas parut permanen. Tanda bundar merah setelah bekam biasanya akan memudar dalam satu hingga dua minggu. Namun, jika tusukan terlalu dalam atau perawatan luka tidak memadai, risiko jaringan parut meningkat.[2]
Siapa saja yang sebaiknya menghindari cara menggunakan jarum bekam atau terapi bekam secara umum?
Terapi bekam sebaiknya dihindari oleh ibu hamil, penderita gangguan pembekuan darah, pengguna obat pengencer darah, penderita penyakit kardiovaskular, serta mereka yang memiliki kondisi kulit aktif seperti eksim dan psoriasis. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum memulai terapi.[2]
Apakah jarum bekam boleh digunakan ulang untuk pasien yang sama?
Jarum lancet untuk bekam basah harus selalu menggunakan jarum steril baru yang sekali pakai, bahkan untuk pasien yang sama di sesi berbeda. Penggunaan ulang jarum meningkatkan risiko infeksi dan kontaminasi bakteri secara signifikan. Selalu pastikan kemasan jarum masih tersegel sebelum digunakan.[1]
Baca juga: Panduan lengkap perawatan kulit di rumah
Menguasai cara menggunakan jarum bekam dengan benar merupakan tanggung jawab besar bagi setiap praktisi terapi bekam. Mulai dari pemilihan jarum yang tepat, sterilisasi yang ketat, teknik penusukan yang presisi, hingga perawatan luka setelah prosedur, setiap langkah memiliki peran krusial dalam menjamin keselamatan pasien. Anda tetap harus berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan sebelum mencoba bekam atau terapi alternatif apa pun.[2] Dengan pengetahuan yang memadai dan praktik yang konsisten, terapi bekam dapat menjadi pilihan pengobatan komplementer yang bermanfaat bagi banyak orang.
Daftar Referensi
- NCBI Bookshelf (StatPearls). Cupping Therapy. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538253/
- Cleveland Clinic. Cupping Therapy: Definition, Types & Benefits. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/16554-cupping
- PubMed Central (PMC). The Medical Perspective of Cupping Therapy: Effects and Mechanisms of Action. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6435947/
- PubMed Central (PMC). Cupping (Hijama) in Rheumatic Diseases: The Evidence. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8802202/
- MedicineNet. Cupping Therapy: Types, Benefits, Process & Side Effects. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://www.medicinenet.com/cupping/article.htm
- Healthline. Cupping Therapy: Uses, Benefits, and More. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://www.healthline.com/health/cupping-therapy
- WebMD. What Is Cupping Therapy? Uses, Benefits, Side Effects, and More. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://www.webmd.com/balance/cupping-therapy
- Cedars-Sinai. What Is Cupping? Does It Work? Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://www.cedars-sinai.org/stories-and-insights/expert-advice/cupping-therapy
- Banner Health. Cupping Therapy: The Pros, Cons and How It Works. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://www.bannerhealth.com/healthcareblog/teach-me/does-cupping-therapy-really-work
- Alodokter. Terapi Bekam dan Manfaatnya bagi Kesehatan. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://www.alodokter.com/mengenal-terapi-bekam-dan-manfaatnya-bagi-kesehatan
- KapanLagi. 7 Manfaat Bekam Bagi Tubuh, Membuang Racun - Melancarkan Peredaran Darah. Diakses pada 6 Mei 2026, dari https://plus.kapanlagi.com/7-manfaat-bekam-bagi-tubuh-membuang-kolestrol-dan-racun-22683648220-melancarkan-peredaran-darah-4a21a2.html
(kpl/fed)
Advertisement
D Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8