Siapa yang Pertama Kali Merayakan Maulid Nabi? Ini Sejarah dan Sosoknya

Siapa yang Pertama Kali Merayakan Maulid Nabi? Ini Sejarah dan Sosoknya
siapa yang pertama kali merayakan maulid nabi (h)

Pertanyaan siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi kerap muncul setiap menjelang bulan Rabiul Awal. Jawabannya mengerucut pada dua nama besar, yakni Dinasti Fatimiyah di Mesir dan Raja Muzhaffar dari Irbil.

Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah merayakan hari kelahirannya, sehingga tradisi ini baru muncul jauh setelah beliau wafat. Karena itu, menelusuri siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi menuntut kita membaca catatan sejarah dengan jernih. p>

Secara bahasa, kata maulid berasal dari bahasa Arab yang berarti hari lahir, merujuk pada kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 bulan Rabiul Awal. Dilansir dari Britannica, masyarakat luas belum merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad hingga sekitar abad ke-13, sebuah jarak waktu yang cukup jauh dari masa kenabian.

1. Cara Menelusuri Jejak Perayaan Maulid Nabi dari Catatan Sejarah

Untuk mengetahui siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi, langkah paling awal adalah menelusuri kitab tarikh dan catatan para sejarawan. Jejak paling tua justru mengarah pada perayaan yang digelar sebuah dinasti, bukan oleh generasi sahabat maupun tabiin. Berikut tahapannya.

  1. Membaca kitab sejarah Islam: Mulailah dari kesepakatan dasar bahwa para sejarawan, ahli fikih, dan teolog dari semua kelompok sepakat bahwa Nabi tidak pernah memerintahkan pengikutnya merayakan hari kelahiran beliau, dan praktik ini tidak dikenal pada abad-abad pertama Islam. Anda bisa memperkaya pemahaman melalui uraian sejarah Maulid Nabi yang beragam versinya.

  2. Mengenali Dinasti Fatimiyah: Banyak akademisi mengarahkan jejak awal pada dinasti ini. Sejumlah sarjana seperti Nico Kaptein menyatakan Maulid dimulai oleh Fatimiyah, dan Annemarie Schimmel juga menyebut perayaan hari lahir Nabi dalam skala besar pertama kali muncul di Mesir pada masa pemerintahan Fatimiyah.

  3. Mencermati catatan al-Maqrizi: Sejarawan Mesir ini menjadi rujukan penting. Annemarie Schimmel melacak asal perayaan maulid ke Mesir era Fatimiyah dan menyoroti kemunculannya pada 1121 berdasarkan catatan al-Maqrizi, yang menggambarkan aktivitas seperti mendengarkan ceramah, membagikan manisan dan madu, serta memberi sedekah kepada fakir miskin.

  4. Menelisik rujukan tertua Ibn al-Ma'mun: Sumber ini membantu memperkirakan waktu. Penyebutan pertama perayaan maulid dalam karya sejarah mana pun muncul dari tulisan Jamaluddin Ibn al-Ma'mun yang wafat pada 587 H atau 1192 M.

  5. Memahami enam maulid ala Fatimiyah: Perayaan mereka tidak tunggal. Fatimiyah merayakan malam Tahun Baru, hari lahir Nabi, hari lahir Ali, Hasan, Husain, Fatimah, serta hari lahir penguasa yang sedang berkuasa, sehingga peringatan kelahiran Nabi hanyalah satu dari sekian banyak perayaan mereka.

Menurut catatan para sejarawan, perayaan Fatimiyah pada mulanya lebih menyerupai arak-arakan terbatas. Ensiklopedia Britannica menyebut perayaan Fatimiyah hanyalah pawai bagi para pejabat istana dan tidak terbuka untuk umum. Inilah yang membuat sebagian kalangan tidak menganggapnya sebagai perayaan Maulid dalam bentuk yang kita kenal sekarang.

2. Cara Mengenali Raja Muzhaffar sebagai Perintis Perayaan Maulid Nabi

Dalam tradisi Sunni, jawaban atas siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi umumnya mengarah pada Raja Muzhaffar Abu Said Kukaburi, penguasa Irbil. Ia dikenal menjadikan peringatan kelahiran Rasulullah sebagai perhelatan akbar yang tertata rapi, sehingga banyak ulama menyebutnya sebagai perintis. Berikut cara mengenalinya.

  1. Mengenali identitas Raja Muzhaffar: Ia bukan tokoh sembarangan. Perayaan formal pertama Maulid pada abad ke-13 digelar oleh Muzaffar al-Din Gokbori, ipar Salahuddin, dan keduanya adalah penganut tasawuf.

  2. Memahami waktu perayaannya: Ada tahun yang menjadi penanda. Mengutip Study.com, perayaan Maulid publik pertama tercatat berlangsung di Mesir pada abad ke-13, sementara kalangan Sunni menganggap perayaan Maulid pada tahun 1207 sebagai festival Maulid yang pertama.

  3. Menyimak kesaksian Imam as-Suyuti: Ulama besar ini menegaskan peran Muzhaffar. Imam Jalaluddin as-Suyuti, dikutip dari Dawateislami, menuturkan, "Merayakan kelahiran Nabi dalam perhelatan besar merupakan praktik yang dipelopori oleh raja Irbil, al-Muzaffar Abu Said, sosok yang namanya tercatat di jajaran para raja dan penguasa terkemuka."

  4. Membayangkan kemeriahannya: Skala perayaannya sangat besar. Ibn Katsir, sebagaimana dinukil MuslimMatters, menggambarkan, "Ia rutin memperingati Maulid pada bulan Rabiul Awal dan menggelar perayaan yang sangat besar, lengkap dengan ribuan kepala kambing panggang, ribuan ayam, serta puluhan nampan manisan."

  5. Menelusuri peran Syekh Umar al-Mulla: Sebelum Muzhaffar, ada tokoh perintis di kalangan Sunni. Syekh Umar al-Mulla adalah seorang sufi yang setiap tahun memberi perhatian besar pada Maulid dengan mengundang orang kaya dan miskin, para pembesar, penyair, dan ulama. Untuk lebih mengenal sosok Rasulullah, Anda dapat menyimak makna nama Muhammad secara mendalam.

Kemeriahan perayaan Raja Muzhaffar bahkan meninggalkan warisan keilmuan. Syekh Abu al-Khattab ibn Dihya menyusun kitab tentang Maulid berjudul al-Tanwir fi Maulid al-Basyir al-Nadzir untuknya, dan sang raja memberi hadiah 1.000 dinar, sementara Muzhaffar wafat pada tahun 630 Hijriah. Sebagai referensi kegiatan, tersedia pula panduan teks MC Maulid di masjid yang bisa dijadikan rujukan acara modern.

3. Cara Menyikapi Perbedaan Pendapat soal Siapa yang Pertama Kali Merayakan Maulid Nabi

Setelah menelusuri sumber, akan tampak bahwa jawaban siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi tidaklah tunggal. Para ulama dan sejarawan berbeda pandangan, sehingga sikap paling bijak adalah memahami konteks masing-masing pendapat. Berikut langkah menyikapinya.

  1. Membedakan "pertama secara historis" dan "pertama di dunia Sunni": Fatimiyah kerap disebut pertama secara historis, sedangkan Raja Muzhaffar dianggap pertama dalam format perayaan Sunni yang meriah dan terbuka. Membedakan dua kerangka ini mencegah kesimpulan yang keliru.

  2. Mencatat kaitan dengan Salahuddin al-Ayyubi: Nama ini sering muncul dalam pembahasan Indonesia. Faktanya, ketika Salahuddin al-Ayyubi mengambil alih Mesir dan Syam dari penguasa Syiah Fatimiyah terakhir, ia justru menghapus seluruh praktik Maulid, sehingga Maulid versi Sunni kemudian dihidupkan kembali dalam bentuk baru.

  3. Memperhatikan pandangan para ulama: Merujuk NU Online, sejumlah ulama menyebut Raja Muzhaffar Abu Said Kukaburi sebagai orang yang pertama mengadakan seremonial Maulid secara meriah dan tertib. Pandangan ini selaras dengan kesaksian Imam as-Suyuti dan Ibn Katsir yang telah disebutkan sebelumnya.

  4. Menitikberatkan pada makna, bukan sekadar perdebatan: Apa pun pendapatnya, esensi peringatan ini adalah meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Renungan atas hikmah dan nasihat bijak Rasulullah jauh lebih bermanfaat daripada sekadar memperuncing perbedaan.

Perlu dipahami pula bahwa perayaan versi Sunni tidak lahir dari ruang kosong. Ketika penguasa al-Afdhal melarang Maulid dan praktik-praktik yang diinovasi Fatimiyah, Muzaffar al-Din menghidupkannya kembali serta memberinya bentuk dan arah yang baru. Inilah alasan mengapa banyak catatan menempatkan Muzhaffar sebagai perintis format perayaan yang bertahan hingga kini.

4. Ragam Pendapat tentang Awal Mula Perayaan Maulid Nabi

Menelusuri awal mula perayaan Maulid Nabi memperlihatkan bahwa tidak ada satu jawaban tunggal yang disepakati seluruh ulama. Setidaknya ada beberapa nama dan kelompok yang kerap disebut sebagai perintis, masing-masing dengan konteks dan bukti sejarahnya.

Berdasarkan kajian para sejarawan, sebagian perbedaan ini muncul karena membedakan antara perayaan yang bersifat internal istana dan perayaan publik terbuka bagi masyarakat luas. Di Indonesia sendiri, tradisi ini terus berkembang, bahkan pemerintah menegaskan tidak melarang perayaan Maulid selama tetap tertib, seperti terlihat pada kebijakan perayaan Maulid Nabi saat masa pandemi.

  • Dinasti Fatimiyah di Mesir: Fatimiyah Syiah yang berkuasa di Mesir memperingati beberapa maulid, termasuk maulid Nabi Muhammad, dan banyak sarjana modern menilai merekalah yang pertama secara historis.

  • Raja Muzhaffar dari Irbil: Perayaan ini digelar oleh Muzaffar al-Din Gokbori, ipar Sultan Ayyubiyah Salahuddin, di Erbil dekat Mosul, dan dianggap paling mirip dengan bentuk Maulid modern.

  • Syekh Umar al-Mulla di Mosul: Menurut Imam Abu Syamah, orang pertama yang menyelenggarakan Maulid di Mosul adalah Syekh Umar bin Muhammad al-Mulla yang dikenal sebagai sufi, lalu penguasa Irbil mengikutinya.

  • Sultan Salahuddin al-Ayyubi: Sebagian pendapat populer mengaitkan penggagasan Maulid dengan Salahuddin, meski catatan lain justru menyebut ia sempat menghapus praktik Maulid warisan Fatimiyah.

  • Abu al-Abbas al-Azafi di Ceuta: Perayaan diyakini dibawa ke kota Ceuta oleh Abu al-Abbas al-Azafi untuk memperkuat komunitas Muslim sekaligus mengimbangi perayaan-perayaan Kristen.

  • Teori Abbasiyah: Sebagian meyakini Abbasiyah di Baghdad yang pertama memperkenalkan Maulid, dan al-Khayzuran dari Abbasiyah dianggap membuat Maulid menjadi lebih resmi.

  • Era Sultan Nuruddin Mahmud: Syekh Umar al-Mulla hidup pada masa penguasa Nuruddin Mahmud, seorang pemimpin saleh yang kerap dibandingkan dengan Umar bin Abdul Aziz, sehingga sebagian menautkan tonggak Maulid dengan era ini.

Ragam pandangan ini justru memperkaya khazanah keislaman. Alih-alih menjadi bahan pertikaian, perbedaan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperbanyak bacaan sholawat kepada Nabi dan menebar kata bijak Islami yang menyejukkan.

5. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Maulid Nabi

Siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi?

Secara historis, banyak sejarawan menunjuk Dinasti Fatimiyah di Mesir sebagai pihak yang pertama menggelar peringatan kelahiran Nabi, sementara dalam tradisi Sunni sosok Raja Muzhaffar dari Irbil dikenal sebagai perintis perayaan Maulid yang meriah dan tertata. Beragam kata mutiara kalimat Maulid Nabi pun kerap dibagikan untuk mengiringi peringatan ini.

Kapan Maulid Nabi mulai dirayakan?

Jejak perayaan mulai muncul pada masa Fatimiyah sekitar abad ke-4 hingga ke-6 Hijriah, lalu perayaan publik yang diakui kalangan Sunni berlangsung pada 1207 Masehi di Irbil. Sejak itu, tradisi ini menyebar dan berkembang hampir ke seluruh dunia Islam, termasuk melalui ucapan Maulid Nabi di era digital.

Apakah Nabi Muhammad pernah merayakan hari kelahirannya sendiri?

Tidak. Para sejarawan dan ulama sepakat bahwa Nabi Muhammad SAW maupun para sahabat tidak pernah merayakan hari kelahiran beliau, dan tradisi ini baru berkembang beberapa abad setelah beliau wafat. Karena itu, peringatan kini lebih dimaknai sebagai wujud ungkapan cinta kepada Rasulullah.

Terlepas dari perbedaan pendapat, inti peringatan Maulid Nabi adalah menumbuhkan kecintaan dan meneladani Rasulullah SAW dalam keseharian. Momen ini dapat diisi dengan kegiatan bermanfaat, mulai dari kajian, membagikan kata mutiara Maulid Nabi, menyusun caption untuk media sosial, hingga menyimak lagu penghormatan pada Rasulullah. Yang terpenting, semangat memahami siapa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi tidak berhenti pada nama, melainkan menuntun kita meneladani akhlak beliau. Anda juga bisa membaca beragam kata-kata penuh makna dan kata-kata Maulid Nabi sebagai pengingat kebaikan.

Daftar Referensi

  1. Britannica. Mawlid: Meaning, Importance, Celebration, and Facts. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.britannica.com/topic/mawlid
  2. Study.com. Eid Milad un Nabi: History, Celebration and Facts. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://study.com/academy/lesson/mawlid-history-facts-celebration-eid-milad-un-nabi.html
  3. MuslimMatters. The Birth-Date of the Prophet and the History of the Mawlid. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://muslimmatters.org/2009/03/11/the-birth-date-of-the-prophet-and-the-history-of-the-mawlid-part-i-of-iii/
  4. Dawateislami. History of Islam: Mawlid Celebrations 800 Years Ago. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://www.dawateislami.net/magazine/en/pages-of-the-history/mawlid-celebrations
  5. NU Online. Ragam Catatan Sejarah Perihal Orang Pertama yang Memperingati Maulid. Diakses pada 18 Agustus 2026, dari https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/ragam-catatan-sejarah-perihal-orang-pertama-yang-memperingati-maulid-alMcY

(kpl/phi)

Rekomendasi

Trending