INDONESIA

Menggugah Nasionalisme Lewat Film

Senin, 16 Agustus 2010 15:28  | 

Ari Sihasale


Menggugah Nasionalisme Lewat Film




KapanLagi.com - Oleh: Rita Sugihardiyah

Mengangkat film bertema perjuangan, fakta sejarah masa lalu, atau sekedar sindiran realita sosial sepertinya sudah jadi tema yang rutin diangkat sineas kita di tengah maraknya film horor dan 'komedi saru'.

Dan bicara film-film nasionalisme, kita punya banyak pilihan, mulai dari film nasional, film dokumenter atau sekedar film perang beraroma Hollywood, semua memiliki pesan moral-sosial yang mengetuk hati kita dan menggugah rasa bangga terhadap tanah air. Apa saja film penggugah nasionalisme itu? Bisa jadi pilihan film di bawah ini sesuai juga dengan opini Anda:

  • TANAH AIR BETA

    Film ini mengangkat referendum berdarah 1999, saat Timor Leste akhirnya terpisah dari Indonesia dan mengakibatkan eksodus besar-besaran bagi mereka yang memilih bergabung dengan Indonesia sebagai tanah airnya. Film ini menggugah empati tentang derita hidup dalam pengungsian, berpisah dengan keluarga, kemiskinan dan keterbatasan, dan sebuah tamparan bahwa masih banyak saudara kita yang hidup dalam penderitaan. Film besutan Ari Sihasale ini juga menggambarkan persahabatan tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis yang terlihat dengan penggambaran karakter Abubakar (keturunan Arab) dan pedagang peranakan Tionghoa (Koh Ipin dan Cik Irene). Film yang mendapat penghargaan dari Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Ir H. Ahmad Helmy Faishal Zaini ini tak hanya menjual pesona perbatasan Atambua, NTT, tapi juga mengajak kita untuk kembali mengukur rasa cinta kepada Indonesia dengan nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan.

  • ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI

    Sutradara dan aktor kawakan Deddy Mizwar memandang Indonesia sedang sakit, dan rasa sakit itu terlihat dari sentilan Deddy lewat film garapannya bertajuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Deddy mengangkat realita sosial dari pengangguran, Satpol PP, kriminalitas, anak jalanan, menjadi tema utama film ini. Film yang didukung sederet aktor ternama ini memberi beragam rasa, dari sedih, marah, haru, tawa, bahkan pilu. Deddy sukses mengangkat realita sosial yang sekian lama menjadi PR yang tak terselesaikan, sebuah film yang sarat pesan moral, sosial, politik dan juga menggugah rasa nasionalisme untuk lebih berkaca dan menyadarkan diri tentang kondisi negeri kita saat ini.

  • GARUDA DI DADAKU

    Film bertema sepak bola ini cukup dikenal dengan Ost. lagu Garuda di Dadaku yang dengan garang dibawakan Netral. Tak pelak, lagu yang kerap dibawakan suporter sepakbola nasional di setiap laga pertandingan ini menjadi nilau plus film yang berkisah tentang perjuangan Bayu. Seorang bocah yang memiliki bakat bermain bola dan sangat ambisius bisa bergabung timnas U-13, memakai seragam timnas dengan gambar garuda di dada. Kisahnya memang tak beda jauh dengan sepenggal kisah sederhana yang kerap dijual di layar kaca, tapi mengangkat tema olahraga (sepakbola), keragaman bocah di timnas U-13 dari berbagai kalangan (Cina, Jawa dan juga Papua) memiliki filosofi lain, bahwa persahabatan tidak memandang ras, suku, dan agama. Di dalam timnas, semua bersatu, semua sama untuk tujuan yang satu. Lagu Garuda di Dadaku memberi nilai lebih yang dengan lantangnya menggema lirik: Garuda di Dadaku, Garuda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang...

  • KING

    Tak jauh beda dengan GARUDA DI DADAKU, KING juga mengangkat olahraga (bulutangkis) sebagai tema utama yang diunggulkan. King berkisah tentang Guntur, seorang bocah asal Banyuwangi yang berusaha mewujudkan citanya sebagai pemain bulu tangkis nasional. Guntur mengidolakan atlet bulu tangkis legendaris, Liem Swie King. KING sarat dengan adegan yang bersifat patriotisme, nasionalisme dan tak lupa juga menyelipkan emosi pribadi dalam ikatan persahabatan, setia kawan, toleransi, pengorbanan, kerja keras, semangat, dan disiplin untuk meraih tujuan. Ari Sihasale, sang sutradara yang dikenal fanatik dengan film-film nasionalisme ini sukses membawa KING lebih dari sekedar tontonan anak-anak.

  • DENIAS: SENANDUNG DI ATAS AWAN

    Kembali film besutan Ari Sihasale mengajak kita untuk lebih memiliki Indonesia. Film yang mengisahkan Denias, seorang anak petani di pedalaman Papua yang rela menebas perbukitan untuk belajar. Ari kembali membidik kawasan timur Indonesia yang tertinggal di beberapa aspek terutama pendidikan. Melihat film ini, kita di hadapkan pada realita sulitnya pendidikan untuk rakyat miskin. DENIAS dan KING bisa dibilang serupa tapi tak sama, sama-sama memiliki keinginan kuat untuk maju dan sama-sama mengumandangkan lagu Indonesia Raya dalam salah satu adegannya.

  • LASKAR PELANGI

    Film yang diangkat dari novel tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini bercerita tentang perjuangan anak-anak Bangka Belitung (Babel) meraih pendidikan di era 70-an. Ikal, Lintang, Kucai, Mahar, Zahara, lima bocah lainnya, serta ibu dan bapak guru yang menjadi teladan mereka, saling berbagi pengalaman secara visual di film besutan Riri Reza ini. Laskar Pelangi tidak hanya mengkritisi kondisi pendidikan tapi juga sindiran terhadap penguasa yang membiarkan korporasi asing menguras Babel dan membiarkan penduduk asli Babel terpinggirkan kemegahan PN Timah yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

  • SANG PEMIMPI

    Tak jauh beda dengan sekuelnya, Sang Pemimpi masih berkisah tentang bocah-bocah Babel yang berjuang meraih mimpi. Seperti diajak bereuni dengan tiga sahabat, film ini juga menyindir kaum muda yang terkesan ogah-ogahan meraih mimpi, berbeda jauh dengan sikap Ikal dan Arai (dua tokoh utamanya) yang datang dari daerah terpencil dan rela banting tulang demi membiayai kuliah mereka, meraih beasiswa di Paris dan mengangkat Babel dari keterpurukan. Film ini membuka mata siapa saja bahwa mimpi bisa diraih dengan semangat, perjuangan, keyakinan, ketekunan, dan juga doa. Sebuah gambaran nasionalisme dari daerah tertinggal terwujud dalam diri tiga sabahat ini.

  • NAGA BONAR

    Anggap saja film ini adalah film perjuangan jadul, tapi tetap saja terasa fenomenal hingga saat ini. Kisah pencopet dari Medan yang berakhir menjadi pejuang ini tenar pada masanya. Dibuat pada tahun 1987, Asrul Sani mengusung konsep sederhananya dengan harapan bisa mengobarkan semangat patriotisme. Kesuksesan film ini membawa tokoh fiktif Naga Bonar seperti nyata dengan tag-nya yang khas "Apa kata dunia?", yang akhirnya 'dibeli' DirJen Pajak sekitar tahun 2008. Ya, singkat kata bisa dibilang, Apa Kata Dunia jika rasa nasionalisme kita mulai luntur? Benar begitu Bang Bonar?

  • MERAH PUTIH

    Jika dilihat dari sederet nama sineas asing yang terlibat, bisa jadi Merah Putih adalah satu-satunya film blasteran Indonesia-Hollywood, tapi yang jadi keunggulan film ini bukan saja sisi teknisnya, tapi juga tema ceritanya. Film besutan Yadi Sugandhi ini mengambil setting perjuangan Indonesia pada tahun 1947, tentang lima pemuda yang mendaftarkan diri ke sekolah tentara rakyat. Dengan perbedaan watak, latar belakang dan kepercayaan mereka harus harus bersatu atau kalah di tangah penjajah. Film ini berusaha mengembalikan semangat perjuangan para pahlawan, dan perbedaan kelima tokohnya layaknya Bhinneka Tunggal Eka, berbeda-beda tetapi satu jua.

  • MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK (MPVP)

    Film yang menyoroti kehidupan TKW di Hongkong ini mengajak kita untuk menyelami kehidupan TKW dari berbagai sudut, tidak hanya ekonomi dan politik, tetapi juga sosial dan budaya. Persoalan buruh migran yang rentan rasialisme, perbudakan, dan diskriminasi ini memang tak tergambar secara nyata di film garapan Lola Amaria ini. Namun cukup menyadarkan kita akan kondisi negeri yang minim lahan kerja dan tak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi rakyatnya. Beberapa adegan di MPVP ini menggambarkan rasa nasionalisme, saat TKW berkumpul dan mendengarkan lagu-lagu musisi Indonesia yang bagi sebagian orang dianggap murahan. Mereka hidup di negeri orang tetapi membuktikan nasionalisme mereka lebih besar dari yang tinggal di negeri sendiri.

Nasionalisme memang bukanlah tema komersil di dunia perfilman, namun melalui film-film ini, para sineas mengajak kita untuk belajar bahwa kemerdekaan yang kita rasakan saat ini bukan hanya didapat dalam satu atau dua hari. Pengorbanan para pejuang seringkali terasa menguap begitu saja. Coba kita tanyakan ke diri sendiri, seberapa bangga kita dengan Indonesia? Sejauh mana kita memaknai kemerdekaan ini? dan seberapa Merah Putih kah kita? (kpl/rit)