INTERNASIONAL

[REVIEW] 'TRAIN TO BUSAN'

Film Zombie Terlaris Korea Penuh Bumbu Drama
Jum'at, 30 September 2016 17:52  | 

Gong Yoo


Film Zombie Terlaris Korea Penuh Bumbu Drama
Train To Busan/ŠIstimewa

KapanLagi.com - [SPOILER ALERTS]

Do you love zombie? I mean, zombie movies? Kalau iya, kalian pasti sudah mendengar 'kejayaan' TRAIN TO BUSAN di Korea. Film arahan sutradara Yeon Sang-ho ini sukses memecahkan rekor sebagai film pertama di tahun 2016 yang mampu tembus 10 juta penonton, lho. Melihat rekor ini, tentunya kalian bertanya-tanya sehebat apa sih film yang digolongkan dalam zombie apocalypse-thriller ini?

TRAIN TO BUSAN (TTB) dibintangi oleh aktor ganteng Gong Yoo yang berperan sebagai hot daddy bernama Seok-woo. Ia sudah bercerai dan ingin mengantar putrinya, Soo-an, untuk bertemu sang mantan istri yang tinggal di Busan, sebagai hadiah ulang tahun. Mereka berdua memilih untuk naik KTX alias kereta cepat dari Seoul menuju Busan.

Di awal keberangkatan kereta, Soo-an sempat melihat seorang perempuan diserang lelaki dari belakang. Tak tahunya, lelaki tersebut sudah infected virus zombie. Perempuan yang terinfeksi itu naik kereta dan hanya dalam hitungan detik ia pun berubah menjadi makhluk menyeramkan yang langsung menggigit beberapa orang.

Akhirnya? Bisa kalian bayangkan bagaimana chaos yang tercipta dalam gerbong kereta itu. Ceritanya terbagi menjadi 5 kisah karakter. Ada Seok-woo dan Soo-an, suami dan istrinya yang tengah hamil, tim baseball sebuah SMA, seorang eksekutif yang bekerja di perusahaan kereta api dan 2 orang wanita kakak beradik paruh baya.

Gong Yoo berperan jadi seorang manajer keuangan yang harus menyelamatkan diri dan putrinya dari kepungan zombie di dalam gerbong/ŠIstimewaGong Yoo berperan jadi seorang manajer keuangan yang harus menyelamatkan diri dan putrinya dari kepungan zombie di dalam gerbong/ŠIstimewa

Gong Yoo berperan jadi seorang manajer keuangan yang harus menyelamatkan diri dan putrinya dari kepungan zombie di dalam gerbong/ŠIstimewa

Semuanya terjebak dalam rangkaian gerbong kereta yang berisi mayat hidup ganas. Satu-satunya harapan mereka adalah Busan, ketika salah satu distrik tujuan mereka sudah 'jatuh' dan dikuasai oleh zombie. 

Zombie yang ada di dalam TTB mengingatkan kita pada zombie yang muncul di WORLD WAR Z. Berubah dengan cepat, beringas dan bergerak dengan super cepat.

Sang sutradara rupanya juga ingin para zombienya mendapatkan sentuhan berbeda hingga tak sama dengan karakter zombie lainnya. Zombie TTB tak terpengaruh bau badan manusia (seperti yang ada di serial The Walking Dead). Mereka menjadi 'bodoh' saat ada di dalam gelap dan mengandalkan indra pendengaran, namun akan sangat beringas ketika terang dan melihat 'mangsa'. 

Penampilannya pun tak lusuh, karena virus baru tersebar. Bisa dibilang, zombie TTB adalah zombie yang cukup bersih, jika dibandingkan dengan TWD.

Salah satu penampakan zombie TTB, seorang train attendant yang berubah dengan cepat/ŠIstimewaSalah satu penampakan zombie TTB, seorang train attendant yang berubah dengan cepat/ŠIstimewa

Salah satu penampakan zombie TTB, seorang train attendant yang berubah dengan cepat/ŠIstimewa

Jika kalian die hard fans serial The Walking Dead (TWD), asumsi pertama yang muncul ketika kengerian dimulai adalah: amatir. Ya, awal kengerian ini sudah cukup bikin gemas karena orang-orang selalu bereaksi terlambat ketika melihat sesuatu yang aneh.

Jangan berharap terlalu lebih dengan kemunculan scene-scene action seperti yang ada dalam TWD atau WORLD WAR Z, bahkan I'M LEGEND. TTB sama sekali jauh dari adegan peluru berdesing menembus tubuh zombie hingga terkoyak menjadi bentuk mengerikan. Tapi, justru hal tersebut membuat film ini sangat masuk akal.

Bayangkan jika kalian sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat dan outbreak itu dimulai di dalam gerbong. Sempatkah kalian berpikir untuk mencari sajam dan senjata api? Pastinya kalian akan melakukan hal-hal manusiawi yang dilakukan oleh para bintang di TTB.

Menyelami TTB lebih dalam lagi, film ini akan sukses bikin kamu berteriak-teriak saking gemasnya. Yeon Sang-ho rupanya lebih mengutamakan sisi drama daripada action. Maklum saja, sebenarnya ini adalah proyek film action bagi sutradara yang berkutat di film animasi.

Sayang, CGInya sangat amatir. FX make-up zombienya terkesan biasa saja, jika dibandingkan TWD, WORLD WAR Z dan I'M LEGEND atau bahkan DAWN OF THE DEAD. Korean versus American's style. 

Dibandingkan dengan special FX make-up TWD, TTB cukup amatir/ŠAMCDibandingkan dengan special FX make-up TWD, TTB cukup amatir/ŠAMC

Dibandingkan dengan special FX make-up TWD, TTB cukup amatir/ŠAMC

Dari plot ceritanya, TTB bisa disebut cukup receh. Ceritanya hanya berkutat pada aksi heroik beberapa karakter, meski dibumbui drama yang bakal bikin kamu sebel dan pengin nonjok muka karakter menyebalkan itu.

Scene per scenenya memang bikin deg-degan, tapi tidak terlalu intens. Serba nanggung. Jarang ada adegan yang bikin kalian sampai harus sembunyi di balik bantal saking nggak sanggupnya memikirkan apa yang akan terjadi.

TTB memang not bad. Kalau kalian mencari film yang memacu adrenalin untuk ditonton bersama keluarga dan bersih dari adegan 'dewasa', film ini cocok untuk ditonton di akhir minggu, lho. Buat kalian penggemar film Korea, ada kehadiran Gong Yoo yang akan memuaskan mata bagi kalian yang mencari 'kesegaran'.

So far, TTB mendapatkan review beragam dari beberapa platform movie banks. Rotten Tomatoes memberikan skor 7.4 dari 10 dan Metacritic memberikan angka 73 dari 100. Salah satu hal yang membanggakan adalah TTB pertama kali diputar di Midnight Screenings Cannes Film Festival pada Mei 2016. Prestasi membanggakan yang diraih oleh film Asia dengan genre yang cukup menantang.

Kevin Jagernauth dari The Playlist menulis: "(Train to Busan) doesn’t add anything significant to the zombie genre, nor has anything perceptive to say about humanity in the face of crisis. Sure, it lacks brains, and that’s the easy quip to make, but what Train To Busan truly needs, and disappointingly lacks, is heart (Train to Busan tidak menambah sesuatu yang berarti dalam genre film zombie. TTB hanya memberikan perspektif humanitas dalam menghadapi krisis. Jelas, TTB kurang memberikan aksi, yang menjadikannya mudah digarap. Tapi kekurangan TTB yang paling utama adalah tidak digarap dengan hati)."

Ya, seperti yang disebutkan sebelumnya, TTB memang jarang menampilkan adegan berdarah-darah yang mungkin bagi sebagian orang sangat disgusting dan disturbingIt lacks of brain, tak seperti TWD yang selalu menampilkan insert-insert mengerikan seperti kondisi zombie yang terbelah kepalanya, terburai ususnya dan lain-lain. But, untuk ukuran film Korea, not bad at allHappy watching!

(kpl/tch)