INTERNASIONAL

[REVIEW] 'PAPER TOWNS'

Perjalanan Panjang Menemukan Perasaan
Selasa, 08 September 2015 20:52  | 

Cara Delevingne


Perjalanan Panjang Menemukan Perasaan
Paper Towns/ 20th Century Fox




KapanLagi.com - Oleh: Abbas Aditya

Tahun lalu novel The Fault In Our Stars karya John Green meraih kesuksesan finansial ketika diterjemahkan dalam medium film. Seperti sebuah siklus alami, tak heran bila kemudian novel berlabel young adult milik Green yang lain menyusul dibuatkan versi layar lebarnya.

Kali ini giliran Paper Towns terbitan tahun 2008 yang diadaptasi. Film ini menyorot karakter cowok bernama Quentin Jacobsen atau Q yang diperankan oleh Nat Wolff. Sewaktu kecil ia pernah mengecewakan Margo, tetangganya yang menyukai hal-hal berbau misteri, hingga persahabatan mereka berjarak.

Beberapa tahun pun berlalu. Margo (Cara Delevingne) tumbuh menjadi gadis populer di sekolah. Dia mempunyai banyak teman dan pacar yang tampan. Sementara Q, seperti gambaran cowok kutu buku pada umumnya, dikisahkan sebagai murid teladan yang sudah merancang jauh bagaimana masa depannya kelak. Yang diam-diam menaruh hati pada Margo meski gadis itu tak peduli.

Pada suatu malam tiba-tiba Margo muncul di jendela kamar Q. Ia meminta bantuan melakukan misi pembalasan dendam. Tak mau bertindak bodoh untuk kali kedua, Q menyanggupi permintaan itu. Besoknya setelah misi berhasil dan hubungan keduanya membaik, Margo malah menghilang.

Tidak seperti orangtua Margo yang cuek, Q berusaha keras mencari keberadaan tetangganya yang cantik itu. Dibantu teman-temannya, ia melakukan pencarian mengandalkan petunjuk yang ditinggalkan Margo untuknya. Berhasilkah Q menemukan pujaan hatinya, memintanya kembali pulang, lantas menyatakan perasaan cinta?

Margo dan Q/20th Century FoxMargo dan Q/20th Century Fox

Berbeda dengan THE FAULT IN OUR STARS yang sengaja menjual drama penuh air mata lantaran tokoh utamanya memiliki penyakit mematikan, PAPER TOWNS hadir lebih enerjik. Ia menyorot cerita persahabatan yang kental, perasaan cinta pertama yang menggebu-gebu serta pencarian jati diri yang seru.

Jake Schreier yang sebelumnya menahkodai science fiction ROBOT & FRANK menuturkan film ini dengan semangat indie. Hal itu tampak dari bagaimana ia merangkum cerita, menyajikan visualnya, serta deretan soundtrack dari band-band kurang dikenal yang memadukan dua warna musik yakni pop kontemporer dan chord-chord lagu era 80-an.

Di lini akting, duo pemeran utama yakni Nat Wolff dan Cara Delevingne mampu tampil aman membawa karakter yang diembankan padanya. Terutama Cara, model seksi ini berhasil membuat dirinya seperti memang dilahirkan untuk memerankan Margo.

Sementara Scott Neustadter dan Michael H Weber selaku penulis skenario sukses melakukan perombakan pada struktur cerita secara pas. Terutama pada bagian ending yang terasa lebih pahit daripada yang tersaji dalam novelnya. Saya menyebutnya sebagai ending kurang ajar yang levelnya berada satu tingkat di bawah (500) DAYS OF SUMMER.

Pada akhirnya PAPER TOWNS tidak hanya berbicara soal cinta. Tapi berada lebih jauh dan serius daripada itu. Percayalah, jawaban perjalanan Q menemukan Margo bakal membuatmu terhenyak. Dan mungkin membuatmu sadar, kadang kita sebagai manusia hanya terpaku pada satu pintu padahal banyak pintu-pintu lain dengan segala kejutannya siap dibuka.

Jangan Lewatkan

Kronik Tim Pembunuh Demi Kedamaian Korea
Ketika Obsesi Pada Musik Membuat Lupa Segalanya
Kisah Cinta Segitiga Profesor, Mahasiswi dan Kakak HOTnya
Modernisasi Petualangan 4 Superhero Penuai Konflik Besar
Petualangan Agen Wanita Kocak Mirip James Bond

(kpl/abs/tch)